Seram Bagian Timur — Fitria Tueka, 11 tahun, siswi kelas V Madrasah Ibtidaiyah di Kota Bula, Seram Bagian Timur, membawa sebuah karung berisi botol plastik,
Lisbon, Portugal— Sejumlah warga dan simpatisan Maluku mengenakan pakaian bernuansa biru, putih, hijau, merah, sambil mengibarkan bendera empat warna dalam sebuah aksi damai di
Kapendam XV/Pattimura menyebut tidak ada pengibaran bendera RMS saat kunjungan Pangdam. Namun, sebelumnya beredar informasi dan dokumentasi mengenai bendera yang dikaitkan dengan RMS di
Kepulauan Aru, Maluku — “Kami paling senang Indonesia sudah merdeka, tapi kami masih dijajah oleh negara.” Kalimat Yopi Tildjuir, 62 tahun, terdengar seperti paradoks. Bagaimana
Ada sebuah nama yang selalu muncul dalam ingatan Chrismenda Saiya ketika ia mengerjakan skripsinya. Bukan nama dosen. Bukan nama penulis buku hukum internasional yang
Dari RUU Kepulauan, PI 10 persen Blok Masela, rasisme, ketimpangan hingga tuntutan menentukan nasib sendiri, aksi 12 Agustus 2026 menjadi panggung keresahan pemuda Maluku
Selain mendokumentasikan praktik kriminalisasi terhadap pembela lingkungan dan masyarakat adat di Indonesia, Human Rights Watch juga mendesak pemerintah, DPR, aparat penegak hukum, kementerian, perusahaan,
Laporan Human Rights Watch mengungkap pola kriminalisasi terhadap para pembela lingkungan dan masyarakat adat di Indonesia. Temuan itu memiliki kemiripan dengan sejumlah kasus di
“Sejarah Maluku terlalu lama ditulis oleh orang lain. Sudah waktunya orang Maluku menulis sejarahnya sendiri.” Kalimat itu berulang kali diucapkan Erno Dominggus Pickee dalam
Yahukimo, – Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat–Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) mengklaim bertanggung jawab atas serangkaian aksi bersenjata yang disebut terjadi di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan,