Menggugat Sejarah dari Negeri Penjajah

Erno Pickee: Lelaki yang Ingin Orang Maluku Menulis Sejarahnya Sendiri
26/07/2026
Akademisi dan entrepreneur berdarah Maluku berkewarganegaraan Belanda, Erno Pickee, mengajar Pemasaran dan Kewirausahaan di Inholland University of Applied Sciences, Haarlem, Belanda, tempat ia sejak 2009 membimbing ribuan mahasiswa mengembangkan gagasan bisnis menjadi perusahaan. Di luar ruang kuliah, ia mengerjakan proyek lintas disiplin MOLO-UKU—sebuah rangkaian novel grafis yang memadukan riset arsip, sejarah lisan, ilustrasi, pertunjukan teater, dan kuliah publik untuk menghadirkan kembali sejarah Maluku dari perspektif masyarakat Maluku. Foto: Erno Pickee

Sejarah Maluku terlalu lama ditulis oleh orang lain. Sudah waktunya orang Maluku menulis sejarahnya sendiri.”

Kalimat itu berulang kali diucapkan Erno Dominggus Pickee dalam setiap kuliah umum yang ia berikan selama berada di Maluku pada Mei hingga Juni 2026. Bagi sebagian orang, ia hanyalah seorang dosen dari Belanda yang sedang pulang kampung. Namun bagi Erno, kepulangannya bukan sekadar perjalanan emosional menelusuri asal-usul keluarga ibunya di Negeri Tuhaha, Pulau Saparua. Ia datang membawa sebuah misi yang jauh lebih besar: mencari kembali ingatan kolektif masyarakat Maluku yang selama berabad-abad tercecer dalam arsip kolonial.

Lelaki kelahiran Belanda tahun 1976 itu tumbuh dalam dua dunia. Ayahnya orang Belanda, sedangkan ibunya berasal dari Jazirah Hatawano, Negeri Tuhaha, Pulau Saparua, dari marga Tatipikalawan yang masih memiliki pertalian keluarga dengan marga Louhenapessy, Lewerissa, dan Siahaya. Darah Maluku mengalir dalam dirinya, tetapi ia dibesarkan ribuan kilometer dari tanah leluhurnya.

Barangkali justru karena jarak itulah Erno tumbuh dengan rasa ingin tahu yang besar tentang Maluku.

“Saya datang bukan untuk bernostalgia,” katanya kepada sejumlah mahasiswa di Ambon.

“Saya datang untuk mencari kearifan para leluhur Alifuru.”

Kalimat itu bukan slogan. Ia menjadi arah seluruh perjalanan hidupnya.

Erno Pickee berdialog dengan mahasiswa Universitas Pattimura (Unpatti), Ambon, dalam kuliah umum yang membahas sejarah Maluku, identitas diaspora, dan dekolonisasi historiografi. Melalui diskusi interaktif, ia mengajak generasi muda membaca kembali sejarah tidak hanya dari arsip kolonial, tetapi juga dari ingatan kolektif dan tradisi lisan masyarakat Maluku.
Foto: Erno Pickee/titastory

Dosen yang Mengajarkan Keberanian Bermimpi

Sehari-hari Erno adalah dosen Pemasaran dan Kewirausahaan di Inholland University of Applied Sciences, Haarlem, Belanda. Sejak 2009 ia mengajar ribuan mahasiswa untuk mengembangkan gagasan bisnis menjadi perusahaan yang nyata.

Namun, ruang kelas baginya bukan hanya tempat mempelajari strategi pemasaran.

Ia membangun metode belajar yang menggabungkan ilmu akademik, kreativitas, pengalaman bisnis, serta pengembangan kepribadian. Mahasiswa diajak berpikir seperti wirausahawan: berani mengambil risiko, mampu bercerita, sekaligus memahami identitas dirinya.

Di luar kampus, Erno dikenal sebagai entrepreneur, storyteller, sekaligus pembicara bergaya TED. Dalam setiap presentasinya, ia hampir tidak menggunakan teks. Sebaliknya, ia memilih cerita, gambar, dan pengalaman hidup.

Menurutnya, sebuah gagasan tidak pernah mengubah dunia jika hanya dipahami melalui logika.

“Ide harus menyentuh hati lebih dulu.”

Lima jilid novel grafis MOLO-UKU: Legacy of A Golden Era karya Erno Pickee dan ilustrator Harits menjadi medium untuk menuturkan kembali sejarah Maluku dari perspektif masyarakat Maluku. Melalui perpaduan riset sejarah, arsip kolonial, dan tradisi lisan, seri ini mengangkat kisah-kisah yang selama ini jarang mendapat tempat dalam narasi sejarah arus utama. Foto: Erno Pickee/titastory

Menulis Maluku dari Mata Orang Maluku

Namun, dunia akademik hanya satu sisi kehidupannya.

Di sisi lain, Erno sedang mengerjakan proyek yang jauh lebih ambisius: MOLO-UKU.

Bukan sekadar komik.

Bukan pula hanya novel grafis.

MOLO-UKU adalah proyek sejarah lintas disiplin yang memadukan riset arsip, wawancara sejarah lisan, ilustrasi, pertunjukan teater, hingga kuliah publik.

Melalui proyek ini, Erno berusaha memperlihatkan sejarah Kepulauan Maluku dari perspektif masyarakat Maluku sendiri.

Fokus jilid pertama adalah tragedi Banda pada awal abad ke-17.

Selama ini, sejarah pembantaian Banda sering muncul sebagai catatan kaki dalam narasi kejayaan VOC.

Erno membalik cara pandang itu.

Dalam MOLO-UKU, masyarakat Banda bukan lagi pelengkap cerita kolonial, melainkan tokoh utama.

Pandangan itu mendapat perhatian di Belanda.

Dalam ulasannya terhadap Molo-Uku: Erfenis van de Gouden Eeuw, kritikus sastra Olivier Rieter menilai Pickee sengaja membongkar romantisme “Zaman Keemasan Belanda”. Menurut Rieter, novel grafis tersebut menghadirkan sejarah kolonial dari sudut pandang masyarakat Maluku, sehingga pembaca Belanda diajak berempati kepada para korban sejarah, bukan semata-mata bangga terhadap kejayaan VOC. Ia juga menyebut ilustrasi karya Harits Farhan berhasil memperlihatkan pentingnya warisan budaya Maluku dalam membentuk pemahaman baru tentang sejarah kolonial.

Rieter bahkan menyebut karya itu layak digunakan sebagai bahan pendidikan sejarah karena menyajikan konteks perdagangan rempah sebelum abad ke-17 sekaligus menawarkan perspektif alternatif terhadap historiografi kolonial.

Erno Pickee berfoto bersama tetua adat dan para siswa Sekolah Adat Lumah Ajare di Negeri Saunulu, Kecamatan Tehoru, Seram Selatan. Bagi Erno, sekolah adat merupakan ruang tempat sejarah, identitas, dan pengetahuan lokal terus diwariskan. Kunjungan ini menjadi bagian dari perjalanannya menelusuri sejarah Maluku melalui ingatan kolektif masyarakat adat, melengkapi riset yang ia lakukan terhadap arsip-arsip kolonial. Foto: Erno Pickee/titastory

Mencari Arsip yang Hidup

Pencarian Erno tidak berhenti di perpustakaan Belanda.

Pada Mei hingga Juni 2026, ia datang ke Maluku.

Ia mengikuti ritual pembuatan Obor Pattimura di Gunung Saniri, mengunjungi Negeri Tuhaha, berdiskusi dengan tokoh adat, mengajar di Universitas Pattimura, Institut Agama Kristen Negeri Ambon, hingga Universitas Khairun Ternate.

Di sela-sela kegiatan akademiknya, ia justru lebih banyak menghabiskan waktu berbincang dengan para tetua adat.

Baginya, sejarah tidak hanya tersimpan di arsip. Sejarah hidup dalam ingatan masyarakat.

Karena itu, ia mengunjungi Hitu, Hila, Kaitetu, Nusalaut, Tehoru, bahkan Sekolah Adat Lumah Ajare yang didirikan Johan Waliana.

Ia membandingkan dokumen-dokumen VOC yang tersimpan di Belanda dengan tuturan lisan para tetua adat.

Menurut Erno, keduanya harus saling berbicara.

Sebab arsip kolonial tidak pernah cukup menjelaskan sejarah Maluku.

Erno Pickee (kiri), akademisi dan peneliti berdarah Maluku berkewarganegaraan Belanda dari Inholland University of Applied Sciences, berdialog dengan perwakilan Kesultanan Ternate dalam kunjungan ilmiah di Kedaton Kesultanan Ternate. Pertemuan tersebut menjadi bagian dari risetnya untuk merekonstruksi sejarah kedatangan Portugis di Maluku Utara melalui perspektif Kesultanan Ternate, sebagai pelengkap terhadap narasi yang selama ini didominasi arsip kolonial Eropa.         Foto: Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Maluku Utara/Titastory

Dari Banda ke Ternate

Penelusuran sejarah itu kemudian berlanjut ke Ternate.

Di Kedaton Kesultanan Ternate, Erno melakukan riset mengenai kedatangan Portugis berdasarkan perspektif Kesultanan Ternate.

Penelitian tersebut dilakukan bersama Jo Hukum Soa Sio Kesultanan Ternate sekaligus Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Provinsi Maluku Utara, Gunawan Y. Radjim.

Dalam riset itu, Erno mencoba mempertemukan dua sumber sejarah yang selama ini berjalan sendiri-sendiri: arsip kolonial Eropa dan tradisi lisan Kesultanan Ternate.

Menurutnya, sejarah tidak boleh hanya ditulis dari satu sudut pandang.

Narasi masyarakat lokal harus memperoleh ruang yang sama.

Hasil penelitian tersebut rencananya akan diterbitkan dalam bentuk komik sejarah internasional, sehingga dapat menjangkau pembaca yang lebih luas daripada sekadar pembaca jurnal akademik.

Erno Pickee berdiskusi dengan peserta dalam workshop bertajuk Leadership in Entrepreneurship di Bahasa Basudara Café, Lateri, Ambon (bawah). Kegiatan yang dipandu Debra Soplantila tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman Erno sebagai dosen Pemasaran dan Kewirausahaan di Inholland University of Applied Sciences, Haarlem, Belanda, sekaligus memperkenalkan pendekatannya dalam mengembangkan kreativitas, kepemimpinan, dan inovasi. Flyer kegiatan (atas) menunjukkan agenda diskusi publik yang mempertemukan akademisi, pelaku usaha, dan generasi muda Maluku.
Foto: Erno Pickee/Dokumentasi Bahasa Basudara Café

Sebuah Mutel

Ada satu kebiasaan Erno yang selalu diingat mahasiswa. Di akhir kuliah umum, ia mengeluarkan sebuah benda kecil.

Mutel.

Ia memberikannya kepada salah satu mahasiswa. Bukan sebagai hadiah. Melainkan titipan.

Mahasiswa yang menerima mutel diminta melakukan satu kebaikan, lalu menyerahkannya kepada orang lain.

Begitu seterusnya.

“Kebaikan tidak boleh berhenti pada satu orang.”

“Kalau semua orang berbuat baik, dunia akan menjadi lebih baik.”

Barangkali, mutel itu adalah metafora paling sederhana untuk menjelaskan siapa Erno Pickee.

Ia percaya perubahan besar tidak selalu dimulai dari negara, pemerintah, atau institusi.

Kadang perubahan dimulai dari satu cerita.

Satu buku.

Satu percakapan.

Satu kebaikan kecil yang terus berpindah dari tangan ke tangan.

Dan melalui MOLO-UKU, Erno berharap satu hal yang sederhana tetapi mendasar: agar orang Maluku suatu hari nanti tidak lagi hanya menjadi objek dalam buku sejarah, melainkan menjadi penulis sejarahnya sendiri.

Di tengah kesibukannya menelusuri arsip kolonial, berdialog dengan tetua adat, dan memberikan kuliah umum, Erno Pickee menyempatkan diri menyaksikan pertandingan Piala Soekarno di Stadion Mandala Remaja, Karang Panjang, Ambon. Baginya, memahami Maluku bukan hanya soal membaca sejarah, tetapi juga menyelami ruang-ruang tempat masyarakat berkumpul, berbagi semangat, dan merawat kebersamaan. Foto: Erno Pickee
error: Content is protected !!