Dinkes Kota Ambon belum menerima laporan gangguan kesehatan yang secara langsung dikaitkan dengan paparan asap, namun pemantauan melalui seluruh puskesmas terus dilakukan.
Ambon, — Api membakar sejumlah lahan di Kota Ambon dan Pulau Ambon. Di saat titik-titik kebakaran masih menjadi perhatian, asap yang terbawa angin mulai memasuki ruang hidup warga dan memunculkan kekhawatiran lain: dampaknya terhadap kesehatan.
Asap kebakaran tidak selalu berhenti di sekitar lokasi api. Pergerakan angin dapat membawanya ke permukiman dan ruang aktivitas masyarakat. Kondisi tersebut membuat kualitas udara menjadi perhatian, terutama bagi warga yang rentan terhadap gangguan saluran pernapasan.
Namun, hingga kini, Dinas Kesehatan Kota Ambon belum menerima laporan gangguan kesehatan masyarakat yang secara langsung dikaitkan dengan paparan asap kebakaran hutan dan lahan.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Ambon, Yakobis Lewier, mengatakan pemantauan kesehatan masyarakat terus dilakukan melalui jejaring fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk seluruh puskesmas di Kota Ambon.
“Dinas Kesehatan melakukan pemantauan terhadap kesehatan masyarakat, khususnya kemungkinan keluhan atau gangguan kesehatan yang berkaitan dengan kualitas udara dan paparan asap yang diakibatkan oleh kebakaran hutan atau lahan melalui jejaring fasilitas pelayanan kesehatan termasuk puskesmas,” kata Yakobis kepada Titastory.id, Rabu (30/9/2026).

Menurut Yakobis, sampai saat ini belum terdapat laporan warga yang secara khusus mengeluhkan gangguan kesehatan akibat paparan asap kebakaran.
Ia menjelaskan, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang dilaporkan melalui fasilitas pelayanan kesehatan sejauh ini berkaitan dengan infeksi virus maupun bakteri.
“Sejauh ini tidak ada keluhan masyarakat terkait dampak kebakaran. Kasus ISPA yang terlaporkan merupakan kasus akibat infeksi virus ataupun bakteri,” ujarnya.
Meski belum ditemukan laporan gangguan kesehatan yang secara langsung dikaitkan dengan asap kebakaran, Dinas Kesehatan Kota Ambon tetap memperkuat pemantauan.
Dinas Kesehatan meminta seluruh puskesmas melalui penanggung jawab program ISPA untuk secara berkala memantau laporan dan keluhan masyarakat yang kemungkinan berkaitan dengan kebakaran hutan maupun lahan.
Pemantauan juga dilakukan terhadap kasus ISPA pada balita melalui Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) di seluruh puskesmas Kota Ambon.
Kasus ISPA dilaporkan setiap bulan. Sementara keluhan yang tergolong berat dipantau melalui sistem surveilans.
“Sejauh ini belum ada laporan kasus dari warga. Namun, pemantauan peningkatan kasus ISPA pada balita tetap dilakukan melalui MTBS di seluruh puskesmas Kota Ambon,” jelas Yakobis.
Berdasarkan pemantauan selama tiga bulan terakhir, Dinas Kesehatan belum melihat adanya peningkatan kasus ISPA secara drastis.
Meski demikian, perkembangan kasus tetap menjadi perhatian. Pemantauan diperlukan untuk melihat apakah terdapat perubahan pola keluhan kesehatan masyarakat seiring dengan kondisi kebakaran dan kualitas udara.
Di tengah kekhawatiran masyarakat terhadap asap kebakaran, Dinas Kesehatan mengingatkan bahwa setiap keluhan pada saluran pernapasan tidak serta-merta dapat dinyatakan sebagai dampak paparan asap.
Untuk memastikan hubungan tersebut, diperlukan pemeriksaan medis dengan mempertimbangkan sejumlah faktor, antara lain riwayat penyakit pasien, tingkat paparan asap, kondisi kualitas udara, faktor lingkungan, serta risiko kesehatan lainnya.
“Tidak semua kasus keluhan saluran pernapasan dapat secara langsung dinyatakan disebabkan oleh paparan asap kebakaran,” kata Yakobis.
Karena itu, apabila terjadi peningkatan kunjungan ke puskesmas dengan keluhan ISPA, kondisi tersebut masih perlu diperiksa lebih lanjut sebelum dikaitkan dengan paparan asap kebakaran.
Pendekatan tersebut penting agar setiap keluhan kesehatan masyarakat dapat ditangani berdasarkan pemeriksaan dan data medis, bukan semata-mata berdasarkan dugaan hubungan dengan asap.
Kelompok Rentan Perlu Lebih Waspada
Meski belum ada laporan gangguan kesehatan yang secara langsung dikaitkan dengan paparan asap, kondisi udara tetap perlu menjadi perhatian, terutama bagi kelompok rentan.
Anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta warga dengan penyakit tertentu seperti asma perlu mendapatkan perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk.
Masyarakat juga dianjurkan membatasi aktivitas di luar ruangan apabila asap semakin pekat.
Bagi warga yang tetap harus beraktivitas di luar rumah, penggunaan masker dapat menjadi salah satu upaya untuk mengurangi paparan partikulat.
Kondisi udara di dalam rumah juga perlu diperhatikan, terutama bagi keluarga yang memiliki anggota kelompok rentan.
Dinkes Siapkan Langkah Antisipasi
Dinas Kesehatan Kota Ambon terus menyiapkan langkah antisipasi terhadap kemungkinan dampak kesehatan akibat asap kebakaran.
Langkah tersebut dilakukan dengan meningkatkan pemantauan kondisi kesehatan masyarakat melalui puskesmas, meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan peningkatan penyakit atau keluhan saluran pernapasan, serta memberikan edukasi kepada masyarakat.
Warga yang mengalami keluhan kesehatan juga diminta segera memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan.
Jika kondisi kebakaran dan kualitas udara membutuhkan penanganan bersama, koordinasi lintas sektor akan dilakukan.
Kebakaran lahan dapat terlihat dari titik api. Namun, asap bergerak mengikuti kondisi angin dan tidak berhenti pada batas administratif lokasi kebakaran.
Asap dapat terbawa menuju permukiman dan ruang aktivitas warga. Karena itu, pemantauan kesehatan menjadi penting untuk mengetahui apakah perubahan kondisi udara kemudian diikuti oleh peningkatan keluhan kesehatan masyarakat.
Yakobis mengimbau warga agar tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan dan segera memeriksakan diri apabila mengalami keluhan.
Masyarakat juga diminta mengikuti informasi resmi pemerintah dan instansi terkait mengenai perkembangan kebakaran serta kondisi kualitas udara.
Untuk saat ini, Dinas Kesehatan Kota Ambon menyatakan belum menemukan laporan gangguan kesehatan yang secara langsung disebabkan oleh paparan asap kebakaran. Namun, kewaspadaan tetap dijaga dan pemantauan melalui seluruh puskesmas terus berjalan.