-
Puluhan alat dan mesin pertanian bantuan Kementerian Pertanian untuk mengolah 1.362 hektare sawah di Seram Bagian Timur disebut sebagian rusak dan sebagian lainnya ditarik dari petani. Ada pula dugaan alsintan dialihfungsikan untuk mengangkut kayu hasil pembalakan.
Seram Bagian Timur — Petani di Desa Jembatan Basa, Kecamatan Bula Barat, Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku, kini kesulitan mengolah sawah. Alat dan mesin pertanian atau alsintan yang semula mereka gunakan untuk menggarap lahan disebut telah ditarik setelah terjadi pergantian pimpinan Koramil Bula.
Petani mengaku tiga unit traktor atau jonder yang sebelumnya berada di Desa Jembatan Basa tidak lagi dapat digunakan. Akibatnya, pengolahan sawah yang membutuhkan alat berat menjadi terkendala.
“Pada saat Koramil dijabat Pak Pattimura dulu, kami dapat tiga unit. Namun, setelah digantikan Danramil yang baru, semua ditarik oleh Danramil,” kata seorang petani yang meminta namanya tidak disebutkan kepada titastory.id.
Bantuan alsintan tersebut merupakan bagian dari program Kementerian Pertanian pada 2017 untuk mendukung modernisasi pertanian dan peningkatan produksi pangan di Seram Bagian Timur. Salah satu wilayah penerimanya adalah kawasan transmigrasi Jembatan Basa dan Sumber Agung.

Petani Kehilangan Alat Mengolah Sawah
Petani mengatakan mereka tidak mengetahui alasan pasti penarikan tiga unit jonder tersebut. Setelah pergantian Danramil, alat yang sebelumnya digunakan untuk mengolah lahan itu ditarik.
Kondisi tersebut membuat petani kesulitan menggarap sawah. Mereka harus mencari cara lain untuk mengolah lahan, sementara kemampuan menyewa alat pengganti terbatas.
“Sekarang kami kesulitan sekali mengurus sawah. Kami mau mengurus sawah pakai apa? Jonder sudah ditarik semua oleh Danramil,” ujar seorang petani.
Bagi petani, keberadaan jonder bukan sekadar bantuan berupa mesin. Alat tersebut menjadi penunjang utama untuk mengolah lahan sawah, terutama pada tahap pembukaan dan pengolahan tanah.
Tanpa alat tersebut, lahan yang semestinya menjadi sumber pendapatan petani terancam tidak produktif.
Dari Bantuan Pertanian hingga Dugaan Angkutan Kayu
Persoalan tidak hanya terjadi di Jembatan Basa. Berdasarkan penelusuran titastory.id di sejumlah lokasi penerima bantuan, sebagian alsintan yang disalurkan pada 2017 disebut sudah tidak berada di desa penerima.
Informasi yang dihimpun menyebutkan terdapat sekitar 20 unit alsintan yang disalurkan pemerintah pada 2017 untuk mendukung pengembangan pertanian di Seram Bagian Timur.
Bantuan itu dikaitkan dengan pengembangan dan optimalisasi sekitar 1.362 hektare sawah baru di wilayah Bula Barat.
Namun, hampir satu dekade setelah bantuan diberikan, kondisi sejumlah alat tersebut disebut memprihatinkan. Sebagian rusak dan tidak lagi digunakan, sementara sebagian lainnya disebut telah berpindah dari lokasi penerima.
Lebih jauh, muncul dugaan sejumlah jonder tidak lagi digunakan untuk kepentingan pertanian, melainkan sebagai alat angkut kayu.
Informasi tersebut perlu ditelusuri karena jika benar, penggunaan alat bantuan pertanian untuk mengangkut kayu hasil pembalakan akan bertentangan dengan tujuan awal pengadaan alsintan tersebut.
Jonder Diduga Dipakai Angkut Kayu
Sejumlah sumber di lapangan menyebut jonder digunakan untuk mengangkut kayu log dari kawasan Bula dan Bula Barat.
Jenis kayu yang disebut antara lain kayu besi dan kayu belo hitam. Kayu tersebut diduga berasal dari aktivitas pembalakan di kawasan hutan sekitar Bula dan Bula Barat.
Seorang pengusaha kayu yang ditemui titastory.id juga menceritakan bahwa kayu yang diperolehnya berasal dari wilayah Bula Barat. Kayu tersebut, menurut dia, diangkut menggunakan jonder menuju Kobi, Kabupaten Maluku Tengah, untuk kemudian dijual.
Informasi itu masih membutuhkan verifikasi lebih lanjut mengenai asal-usul kayu, status kawasan hutan, pemilik maupun pengoperasian jonder, serta legalitas kegiatan pengangkutan dan perdagangan kayu tersebut.
Namun, jika alat bantuan pertanian memang digunakan untuk aktivitas tersebut, persoalannya tidak lagi sekadar menyangkut mangkraknya bantuan pemerintah. Penggunaan itu juga berpotensi menggeser fungsi aset negara dari alat produksi pertanian menjadi sarana kegiatan lain.
Pemerintah Diminta Telusuri Nasib Alsintan
Para petani berharap pemerintah tidak membiarkan persoalan tersebut berlarut-larut. Mereka meminta pemerintah pusat menelusuri keberadaan seluruh alsintan yang disalurkan pada 2017, termasuk siapa penerima, siapa pengelola, di mana alat tersebut berada, serta bagaimana penggunaannya selama ini.
Penelusuran juga menurut mereka, dinilai penting untuk memastikan apakah alat yang semula diperuntukkan bagi peningkatan produksi pertanian masih digunakan sesuai tujuan program. Apalagi, tujuan awal bantuan tersebut adalah mendukung pembukaan dan pengelolaan sawah baru serta meningkatkan produktivitas petani.
“Jika sebagian alat rusak, pemerintah perlu memastikan penyebab kerusakannya dan siapa yang bertanggung jawab atas pemeliharaannya. Jika alat ditarik dari kelompok atau petani penerima, perlu dijelaskan dasar dan mekanisme penarikannya,” kata salah satu petani yang ditemui titastory.
Para petani menyatakan, jika terdapat alat yang digunakan di luar kepentingan pertanian, pemerintah perlu memeriksa siapa yang memberikan izin dan untuk kepentingan apa.
Bagi petani Jembatan Basa, persoalannya sangat sederhana: mereka membutuhkan kembali alat untuk mengolah sawah.
“Sebab tanpa jonder, lahan yang semestinya menjadi sumber penghidupan justru berisiko terbengkalai”