Amsterdam — Tujuh puluh lima tahun setelah ribuan warga Maluku tiba di Belanda dengan status yang tidak pernah benar-benar mereka pilih, Pemerintah Belanda akhirnya
Maluku, – Pada sebuah halaman koran tua berbahasa Belanda yang mulai menguning dimakan usia, seorang perwira kolonial Belanda menuliskan keyakinannya tentang masa depan Republik
“Stop Merampas Hutan Adat Kami.” “Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35/PUU-X/2012 menyatakan hutan adat bukan hutan negara.” “Kembalikan batas Taman Nasional Manusela ke batas awal.”
Ambon, – Sejarah tentang Republik Maluku Selatan selama ini terlalu sering dipenjarakan dalam satu kalimat pendek: “gerakan separatis.” Negara membangun narasi tunggal bahwa RMS
Maluku Tengah, — Peringatan Hari Pattimura ke-209 di Maluku, Jumat (15/5/2026), diwarnai dengan aksi pengibaran bendera Republik Maluku Selatan (RMS) di dua lokasi berbeda
Ambon — Panglima Kodam XV/Pattimura, Dodi Triwinarto, menyatakan pengaruh narasi Republik Maluku Selatan (RMS) di wilayah Maluku kian melemah dan tidak lagi mendapat tempat
Maluku, — Peringatan Hari Ulang Tahun Republik Maluku Selatan (RMS) pada 25 April 2026 kembali diwarnai dengan pengibaran bendera RMS di sejumlah titik di
Jakarta — Anggota Komite II DPD RI asal Maluku Utara, Hidayatullah Sjah, melontarkan kritik keras terhadap praktik klaim negara atas tanah adat yang dinilai
Ambon, — Sejumlah unggahan di media sosial memperlihatkan kemunculan bendera yang dikaitkan dengan simbol Republik Maluku Selatan (RMS) di beberapa titik di Kota Ambon
Amsterdam, — Tanggal 12 April 2026 menandai tepat enam dekade sejak eksekusi Dr. Mr. Christian Robert Steven Soumokil, tokoh sentral dalam sejarah pergolakan di