60 Tahun Pencarian: Indonesia Di Mana Makam Chris Soumokil?

Oleh: Anthon Saiya
10/04/2026
Sebuah foto lukisan yang menggambarkan perjalanan Dr. Mr. Christian Robert Steven Soumokil, dalam memperjuangkan Republik Maluku Selatan (RMS) hingga akhir hidupnya. Foto: Lukisan di Wormerveer Belanda

Amsterdam, — Tanggal 12 April 2026 menandai tepat enam dekade sejak eksekusi Dr. Mr. Christian Robert Steven Soumokil, tokoh sentral dalam sejarah pergolakan di Maluku pasca pembubaran Negara Indonesia Timur (NIT).

Enam puluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Namun, fragmen sejarah yang ditinggalkan mantan Jaksa Agung Negara Indonesia Timur (NIT) ini tetap menjadi utang sejarah Indonesia.

Selama 60 tahun, Nyonya Josina Soumokil-Taniwel mencari makam suaminya. Di usia yang telah sepuh, ia tak pernah lelah bertanya: di mana makam suaminya? Sebuah pertanyaan sederhana, namun hingga kini tak pernah mendapat jawaban—kecuali dari pihak militer Indonesia yang justru memilih diam.

Bertahun-tahun Nyonya Josina bersama putranya, Thomas (Tommy) Soumokil, menanti kabar tentang lokasi makam Chris Soumokil. Bahkan, Tommy telah meninggal dunia pada tahun 2023, tanpa pernah mengetahui di mana ayahnya dimakamkan.

Lokasi pasti makam Chris Soumokil tetap menjadi misteri selama puluhan tahun dan menjadi luka emosional bagi keluarganya. Nyonya Josina bahkan pernah menyurati pemerintah Indonesia untuk meminta kejelasan, namun otoritas Indonesia tetap membisu.

Selama pertanyaan ini tidak terjawab, generasi demi generasi anak Maluku—dulu, kini, dan masa depan—akan terus bertanya: di mana makam Dr. Mr. Christian Robert Steven Soumokil?

Dr. Mr. Christian Robert Steven Soumokil saat dieksekusi saat fajar di Kepulauan Seribu, Teluk Jakarta, pada 12 April 1966. Foto Ist

Sejarah selalu memiliki dua sisi. Begitu pula kisah Chris Soumokil. Ia adalah seorang sarjana hukum lulusan Leiden, Belanda—pendidikan bergengsi pada masanya. Ia merupakan bagian dari generasi intelektual pribumi yang mengenyam pendidikan Barat, lalu kembali ke Hindia Belanda sebagai jaksa.

Namun, sejarah membelokkan arah hidupnya. Ia kemudian menjadi politisi dan salah satu tokoh kunci dalam Negara Indonesia Timur (NIT).

Keputusan Soumokil untuk mendukung proklamasi Republik Maluku Selatan (RMS) bukan tanpa dasar. Sebagai ahli hukum, ia memahami konsep hak untuk menentukan nasib sendiri. Ia teguh pada prinsipnya dan memilih jalan perjuangan hingga akhir.

Sebelum ditangkap pada 2 Desember 1963, Soumokil menghabiskan 13 tahun bergerilya di pegunungan Pulau Seram—sebuah masa perlawanan yang panjang. Indonesia melabelinya sebagai pemberontak, namun bagi sebagian masyarakat Maluku, narasi itu tidak selalu sama.

Setelah melalui persidangan yang dinilai kontroversial—karena berlangsung singkat dan tanpa pembelaan (pledoi) di Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub)—Soumokil dijatuhi hukuman mati.

Pada 12 April 1966, di masa transisi kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto, eksekusi dilakukan saat fajar di Kepulauan Seribu, Teluk Jakarta. Enam puluh tahun kemudian, peristiwa ini masih menyisakan pertanyaan dan kegelisahan bagi banyak anak Maluku. Soumokil menghadapi eksekusi dengan kepala tegak, tanpa penyesalan.

Kematiannya menandai melemahnya kepemimpinan formal RMS di Maluku, namun sekaligus menjadi momentum berpindahnya pusat pergerakan ke Belanda melalui pemerintahan darurat RMS yang masih eksis hingga kini.

Keterangan gambar: Mr. Dr. Chr. Soumokil. Foto: Istimewa

Kisah perjuangan Chris Soumokil menjadi pengingat sekaligus refleksi. Maluku adalah wilayah yang kaya akan sumber daya alam, namun kenyataannya banyak warganya hidup dalam keterbatasan. Pertanyaan pun muncul: jangan-jangan Soumokil memang melihat sesuatu yang belum sepenuhnya kita pahami hari ini.

Bagi para sejarawan, momentum 60 tahun ini menjadi kesempatan untuk meninjau kembali arsip-arsip lama dengan perspektif yang lebih jernih dan objektif. Di sisi lain, patut diapresiasi upaya anak-anak Maluku yang tengah menyusun perjalanan hidup Soumokil dalam sebuah buku biografi. Semoga upaya ini berjalan lancar, mengingat hingga kini belum ada biografi lengkap dan komprehensif tentang dirinya.

Bagi lima generasi komunitas Maluku di Belanda, tanggal 12 April adalah hari berkabung sekaligus penghormatan. Bagi mereka, Maluku Selatan belum selesai. Dalam pandangan ini, sejarah menunjukkan bahwa Maluku Selatan tunduk bukan atas dasar kerelaan, melainkan karena tekanan kekuatan militer.

Sejarah dunia juga mencatat, ada bangsa-bangsa yang terpisah selama ratusan bahkan ribuan tahun, namun ketika kesadaran kolektif bangkit, tak ada yang mampu menghentikan mereka kembali ke tanah leluhurnya.

Keberadaan nama jalan Chris Soumokil dan tugu peringatan di Belanda bukan sekadar simbol penghormatan. Ia adalah saksi bahwa meskipun sebuah gerakan politik dapat dipatahkan, memori kolektif tidak pernah benar-benar hilang. Ia akan terus mencari ruang untuk hidup, bahkan jauh dari tanah asalnya.

Lebih dari itu, semua ini menjadi pengingat bahwa pernah ada tokoh Maluku yang memandang Maluku bukan sekadar suku atau sub-suku, melainkan sebagai sebuah bangsa yang berhak menentukan nasibnya sendiri.

Jika ada generasi Maluku yang mencerca perjuangan ini, silakan mencerca. Namun, sebelum itu, duduklah sejenak di tepi pantai, rasakan angin laut, dan renungkan: apa yang sebenarnya tidak dimiliki Maluku? Dari era rempah-rempah, minyak, gas, emas, hingga kekayaan laut yang melimpah—semuanya ada. Namun, mengapa kemiskinan masih menjadi kenyataan?

Setelah merenung, silakan melanjutkan cercaan jika memang itu membawa kebahagiaan.

Mena Muria.

error: Content is protected !!