Ambon, — Api yang berasal dari pembakaran sampah nyaris merambat ke kawasan hutan dan permukiman warga di BTN Kanawa, Kota Ambon, Rabu (12/8/2026) sore.
Kebakaran tersebut menunjukkan kembali risiko penggunaan api secara sembarangan di tengah kondisi musim kemarau. Api yang awalnya berasal dari tumpukan sampah dilaporkan merambat ke area berhutan di samping rumah warga.
Masyarakat melaporkan kejadian tersebut kepada Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Ambon sekitar pukul 16.45 WIT. Petugas tiba di lokasi sekitar pukul 17.00 WIT.
Untuk mencegah api meluas, Damkar Kota Ambon mengerahkan empat unit armada. Dua unit berasal dari Mako, masing-masing satu unit dari Pos Passo dan Pos Hatiwe.

Personel Peleton C yang sedang bertugas langsung diterjunkan ke lokasi, diperkuat personel Peleton A dan Peleton B.
Petugas kemudian melakukan pemadaman sekaligus mengantisipasi agar api tidak menjalar lebih jauh ke kawasan hutan maupun permukiman warga.
Sekitar pukul 17.35 WIT, kondisi dinyatakan aman. Setelah memastikan tidak ada lagi titik api yang membahayakan, seluruh personel dan armada kembali ke Mako serta pos masing-masing.
Damkar: Api Kecil Bisa Jadi Ancaman Besar
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Ambon, Alfredo Hehamahua, mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap pembakaran sampah sebagai aktivitas biasa, terutama ketika kondisi lingkungan semakin kering.
Menurut Alfredo, api yang digunakan untuk membakar sampah dapat dengan cepat tidak terkendali apabila berada dekat semak, hutan atau lahan kering.
“Praktik yang dianggap biasa, padahal dampaknya sangat besar. Dengan kondisi El Nino adalah ancaman,” ujar Alfredo.
Ia mengatakan pihaknya belum mengetahui siapa yang melakukan pembakaran sampah tersebut.
Meski demikian, Alfredo meminta masyarakat lebih berhati-hati menggunakan api di ruang terbuka.
“Walaupun belum diketahui pelakunya, kondisi saat ini hendaklah bijak,” katanya.
Peristiwa di BTN Kanawa menjadi pengingat bahwa risiko kebakaran tidak selalu bermula dari aktivitas besar. Tumpukan sampah yang dibakar tanpa pengawasan pun dapat menjadi sumber api yang mengancam kawasan berhutan dan permukiman.
BMKG: Puncak Kemarau Terjadi pada Agustus
Peringatan Damkar tersebut berlangsung ketika sebagian wilayah Indonesia memasuki puncak musim kemarau.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau 2026 paling luas terjadi pada Agustus. Dalam pembaruan Juni, BMKG menyebut 369 Zona Musim atau sekitar 48,84 persen wilayah Indonesia diperkirakan memasuki puncak kemarau pada bulan tersebut. Sebagian wilayah Maluku juga termasuk daerah yang memasuki puncak kemarau pada Agustus.
BMKG juga memprediksi musim kemarau 2026 cenderung lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Kondisi tersebut diperkuat oleh peluang fenomena El Niño yang berpotensi meningkatkan risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan.
Dalam pemantauan BMKG, risiko kebakaran hutan dan lahan mulai meningkat sejak Juli dan diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026.
Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika melakukan aktivitas yang menggunakan api di ruang terbuka.
BMKG juga secara khusus mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran secara sembarangan, baik untuk membersihkan lahan maupun membakar sampah, terutama di kawasan yang berdekatan dengan hutan, semak belukar dan lahan kering.
Petani Diminta Waspada
Risiko tersebut juga perlu menjadi perhatian petani yang menggunakan metode pembakaran untuk membersihkan lahan.
Dalam kondisi kemarau, api yang awalnya digunakan untuk membersihkan sisa tanaman dapat dengan cepat merambat apabila terdapat angin dan vegetasi kering di sekitarnya.
Karena itu, aktivitas pembukaan atau pembersihan lahan dengan api sebaiknya tidak dilakukan secara sembarangan. Jika penggunaan api tidak dapat dihindari, pengendalian dan pengawasan harus menjadi perhatian utama serta mengikuti ketentuan yang berlaku.
BMKG sebelumnya juga merekomendasikan sektor pangan menyesuaikan jadwal tanam dengan kondisi musim serta memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan dan membutuhkan lebih sedikit air.
Kebakaran di BTN Kanawa akhirnya dapat dikendalikan dalam waktu kurang dari satu jam setelah petugas tiba. Namun, kejadian tersebut memperlihatkan betapa cepat api dapat bergerak dari tumpukan sampah menuju kawasan vegetasi.
Di tengah puncak musim kemarau, tindakan sederhana seperti membakar sampah tanpa pengawasan dapat berubah menjadi persoalan yang lebih besar.
Damkar Kota Ambon kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membakar sampah sembarangan dan segera melaporkan apabila menemukan api yang berpotensi merambat ke kawasan hutan maupun permukiman.
Sebab, dalam kondisi lingkungan yang semakin kering, mencegah api jauh lebih mudah daripada memadamkan kebakaran yang sudah meluas.