Seram Utara, — Bagi anak-anak di Dusun Selumena, Pegunungan Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah, pergi ke sekolah bukan sekadar rutinitas. Mereka harus meninggalkan kampung dan orang tua untuk menempuh perjalanan hingga satu hari menuju Negeri Kanikeh karena di kampung mereka belum tersedia sekolah dasar.
Kondisi tersebut ditemukan oleh Gerakan Mahasiswa Pemuda Pegunungan Seram Utara (GEMAPENUSETARA) ketika melakukan kegiatan Takilele Ekspedisi Pendidikan di Dusun Selumena pada 5 Agustus 2026.
Kegiatan itu dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi sumber daya manusia dan akses pendidikan masyarakat di wilayah tersebut.
Kedatangan GEMAPENUSETARA disambut oleh Kepala Dusun Selumena bersama masyarakat. Mereka mengapresiasi kegiatan tersebut karena dapat membuka ruang untuk melihat berbagai keterbatasan pendidikan sekaligus menyuarakan kebutuhan masyarakat kepada pemerintah.

Salah satu persoalan paling mendasar adalah ketiadaan sekolah dasar di Dusun Selumena.
Selama ini, anak-anak usia sekolah dasar harus menempuh pendidikan di Negeri Kanikeh. Jarak yang jauh membuat sebagian anak harus tinggal bersama keluarga atau orang lain di luar kampung dan terpisah dari orang tua mereka.
Bagi anak-anak yang masih kecil, kondisi tersebut bukan perkara mudah.
Semangat untuk bersekolah memang tetap ada. Namun, tidak semua anak mampu beradaptasi dengan lingkungan baru. Sebagian akhirnya memilih tidak melanjutkan pendidikan karena kesulitan tinggal jauh dari orang tua dan lingkungan keluarga.
Sehari Perjalanan demi Pendidikan
Apolos Hukuna, salah satu dari masyarakat Dusun Selumena, meminta Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah dan Dinas Pendidikan untuk memberikan perhatian khusus terhadap kondisi pendidikan di wilayah tersebut.
Menurut dia, ketiadaan sekolah membuat anak-anak Selumena harus bersekolah di Negeri Kanikeh dengan waktu tempuh yang dapat mencapai satu hari perjalanan.
“Kami meminta Pemda dan Dinas Pendidikan Malteng memberikan perhatian khusus terhadap pendidikan di Dusun Selumena. Selama ini belum ada sekolah sehingga anak-anak kami masih bersekolah di Negeri Kanikeh dengan jarak tempuh satu hari perjalanan,” kata Apolos.
Menurut Apolos, kondisi tersebut menjadi kekhawatiran masyarakat karena anak-anak yang masih berusia dini harus tinggal jauh dari orang tua demi mendapatkan pendidikan.
Ia berharap pemerintah tidak hanya melihat persoalan pendidikan dari sisi ketersediaan sekolah, tetapi juga mempertimbangkan kondisi sosial dan geografis masyarakat yang tinggal di kawasan pegunungan.
Pernah Dijanjikan Sekolah
Dalam ekspedisi tersebut, GEMAPENUSETARA juga memperoleh informasi mengenai rencana pembangunan sekolah di Dusun Selumena.
Menurut keterangan masyarakat yang diterima kelompok tersebut, Camat Seram Utara pernah menyampaikan rencana pembangunan satu sekolah di Dusun Selumena dalam kegiatan sosialisasi terkait pembangunan rumah layak huni pada 2025.
Namun, masyarakat berharap rencana tersebut segera diwujudkan.
GEMAPENUSETARA menilai pembangunan sekolah dasar menjadi kebutuhan mendesak agar anak-anak Selumena tidak lagi harus meninggalkan kampung dan orang tua hanya untuk memperoleh pendidikan dasar.
Ketua Umum GEMAPENUSETARA, Jo Makualaina, mengatakan pendidikan merupakan hak setiap orang untuk memperoleh kesempatan meraih masa depan yang lebih baik.
“Pendidikan itu adalah hak semua orang untuk meraih cita-cita dan masa depan yang lebih baik,” kata Jo.
Menurut dia, perhatian pemerintah terhadap pendidikan harus semakin kuat, terutama bagi masyarakat yang berada di wilayah tertinggal, terdepan dan terluar (3T).
Ia meminta Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah, Dinas Pendidikan, serta pemerintah Kecamatan Seram Utara melihat secara langsung kondisi pendidikan di Dusun Selumena.
Jo juga meminta pemerintah kecamatan menindaklanjuti rencana pembangunan sekolah yang sebelumnya disebut telah disampaikan kepada masyarakat.
“Seperti anak-anak pada umumnya, apalagi mereka yang tergolong di wilayah 3T. Pemerintah kabupaten dan kepala dinas harus melihat sumber daya manusia di Dusun Selumena,” ujarnya.
Jangan Biarkan Anak Terpisah dari Orang Tua
Persoalan pendidikan di Selumena bukan hanya mengenai bangunan sekolah.
Bagi masyarakat, ketiadaan sekolah telah menciptakan persoalan lain: anak-anak harus meninggalkan kampung sejak usia dini, beradaptasi dengan lingkungan baru dan hidup jauh dari orang tua.
Dalam kondisi tertentu, keterbatasan kemampuan beradaptasi tersebut bahkan membuat sebagian anak tidak melanjutkan pendidikan.
Situasi ini menunjukkan bahwa akses pendidikan tidak cukup hanya diukur dari ada atau tidaknya anak yang terdaftar di sekolah. Jarak, kondisi geografis, kemampuan keluarga mendampingi anak, serta lingkungan tempat tinggal selama bersekolah juga menjadi bagian penting dari persoalan pendidikan di wilayah pegunungan.
Karena itu, pembangunan sekolah dasar di Selumena dinilai masyarakat sebagai salah satu langkah penting untuk menjaga keberlanjutan pendidikan anak sekaligus memperkuat sumber daya manusia di wilayah tersebut.
GEMAPENUSETARA berharap pemerintah kabupaten, kecamatan dan Dinas Pendidikan Maluku Tengah segera menindaklanjuti temuan ekspedisi tersebut.
Mereka meminta agar persoalan pendidikan di Dusun Selumena tidak berhenti sebagai laporan atau janji, tetapi diterjemahkan menjadi kebijakan dan tindakan nyata.
Sebab bagi anak-anak Selumena, sekolah bukan sekadar bangunan. Sekolah berarti kesempatan untuk tetap belajar tanpa harus meninggalkan kampung dan keluarga.