Dari Mencegah Konflik hingga Kampung Inggris, Kapolda Maluku Gandeng IMM

by
12/08/2026
Kapolda Maluku Irjen Pol. Dadang Hartanto bersama jajaran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Maluku dalam pertemuan di Mapolda Maluku. Pertemuan ini menjadi ruang dialog untuk memperkuat kolaborasi antara kepolisian dan organisasi kemahasiswaan dalam menjaga kondusivitas daerah serta mendorong berbagai program pemberdayaan generasi muda Foto: Humas Polda Maluku

Ambon, — Pengalaman konflik sosial Maluku 1999 kembali diangkat dalam pertemuan Kapolda Maluku Irjen Pol. Dadang Hartanto dengan jajaran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Maluku. Bagi Dadang, generasi muda perlu belajar dari masa lalu agar kekerasan dan permusuhan tidak kembali menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Pesan itu disampaikan Dadang saat menerima audiensi DPP IMM Maluku di Ruang Rapat Kapolda Maluku, Senin (10/8/2026). Pertemuan tersebut berlangsung setelah pelantikan kepengurusan baru IMM Maluku.

Namun, pembicaraan keduanya tidak hanya membahas keamanan dan pencegahan konflik. Sejumlah gagasan lain ikut dibicarakan, mulai dari pendidikan, literasi, peningkatan kapasitas anak muda, pemberdayaan ekonomi berbasis potensi lokal, hingga rencana pengembangan Kampung Inggris di salah satu desa di Kota Ambon.

Kapolda Maluku Irjen Pol. Dadang Hartanto saat berdiskusi bersama jajaran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Maluku dalam pertemuan di Mapolda Maluku. Pertemuan tersebut membahas penguatan sinergi kepolisian dan mahasiswa dalam menjaga keamanan, mencegah konflik, serta mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia di Maluku, Foto: Humas Polda Maluku

Dadang mengatakan mahasiswa dan pemuda memiliki posisi strategis dalam menjaga stabilitas sosial. Menurut dia, organisasi kemahasiswaan tidak semestinya hanya menjadi ruang kaderisasi intelektual, tetapi juga dapat ikut membaca potensi kerawanan dan mencari jalan keluar atas persoalan yang muncul di masyarakat.

“Kita perlu melihat berbagai potensi kerawanan di lingkungan kita. Kontribusi apa yang bisa kita berikan untuk mencegah dan menyelesaikan persoalan tersebut harus kita pikirkan bersama. Dinamika saat ini semakin kompleks dan perubahan bisa terjadi dengan cepat,” ujar Dadang.

Belajar dari Konflik Maluku

Dadang kemudian mengajak generasi muda menjadikan pengalaman konflik sosial Maluku 1999 sebagai pelajaran bersama.

Menurut dia, sebagian anak muda saat ini tidak mengalami langsung konflik tersebut. Karena itu, pengalaman generasi sebelumnya perlu dipahami sebagai pembelajaran, bukan diwariskan dalam bentuk prasangka, kebencian maupun permusuhan antarkelompok.

“Tidak ada yang benar-benar menang dan tidak ada yang benar-benar kalah. Yang ada adalah korban. Banyak saudara kita yang menjadi korban, baik Muslim maupun non-Muslim, masyarakat sipil maupun aparat TNI dan Polri,” katanya.

Dadang menilai stabilitas keamanan merupakan salah satu fondasi pembangunan daerah. Gangguan keamanan, kata dia, dapat berdampak terhadap pendidikan, investasi, pariwisata hingga aktivitas ekonomi masyarakat.

Karena itu, ia juga meminta mahasiswa tetap menjalankan fungsi kontrol sosial dan menyampaikan aspirasi sebagai bagian dari kehidupan demokrasi. Namun, aspirasi tersebut harus disampaikan secara tertib dan bertanggung jawab.

“Kita tunjukkan bahwa masyarakat Maluku mampu menyampaikan pendapat dengan tertib, dewasa, dan bertanggung jawab. Kita harus menjaga agar tidak terjadi perkelahian antarkelompok, antarnegeri, maupun konflik sosial lainnya,” tegasnya.

Gagas Kampung Inggris di Ambon

Dari isu keamanan, pembicaraan kemudian bergeser pada persoalan kualitas sumber daya manusia.

Dadang menawarkan gagasan membangun Kampung Inggris di salah satu desa di Kota Ambon sebagai proyek percontohan. Konsep tersebut diarahkan untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendorong budaya membaca, berdiskusi sekaligus meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris.

Menurut Dadang, program itu tidak harus langsung dilakukan dalam skala besar. Pemerintah, organisasi kepemudaan dan perguruan tinggi dapat memulainya dari satu desa terlebih dahulu.

“Tidak perlu langsung membuat program yang besar. Kita pilih satu desa terlebih dahulu. Di desa tersebut kita membangun suasana yang mendukung kegiatan membaca dan berbahasa Inggris. Kalau tidak mampu dilakukan sendiri, kita dapat mengajak dunia kampus untuk bekerja sama,” jelasnya.

Ia membuka peluang keterlibatan mahasiswa dan dosen melalui program pengabdian kepada masyarakat, penelitian maupun kegiatan akademik lainnya.

Kemampuan berbahasa Inggris, menurut Dadang, dapat membuka akses lebih luas bagi anak muda terhadap pendidikan dan peluang beasiswa, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Limbah Ikan Didorong Jadi Produk Ekonomi

Potensi kelautan Maluku juga menjadi perhatian dalam pertemuan tersebut.

Dadang mendorong IMM ikut memikirkan pemanfaatan limbah hasil perikanan yang selama ini belum dimaksimalkan. Dengan dukungan penelitian dan teknologi, limbah ikan dinilai dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi, antara lain bahan pakan ikan maupun pupuk.

“Maluku memiliki sumber daya perikanan yang sangat besar. Kalau kita mampu menghasilkan produk unggulan yang berasal dari sumber daya alam kita sendiri, tentu ini menjadi sesuatu yang sangat baik. Salah satu potensi yang dapat dikembangkan adalah pemanfaatan limbah ikan,” ungkapnya.

Ia mengusulkan agar gagasan tersebut dimulai dari proyek kecil yang dapat diukur hasilnya.

“Mulailah dari sesuatu yang kecil, tetapi nyata dan dapat dilaksanakan. Kita petakan prosesnya, kita lihat produk yang dihasilkan dan nilai ekonominya. Kalau berhasil, kemudian kita kembangkan,” katanya.

Menurut Dadang, pendekatan semacam itu penting agar program pemberdayaan tidak berhenti pada gagasan, tetapi dapat menghasilkan model yang bisa direplikasi di wilayah lain.

IMM Siapkan Desa Binaan

Ketua Umum DPP IMM Maluku Muhammad Saleh Soawakil menyambut positif gagasan kolaborasi tersebut.

Menurut Saleh, audiensi dengan Kapolda menjadi langkah awal kepengurusan baru IMM Maluku untuk membangun komunikasi sekaligus membicarakan kontribusi mahasiswa terhadap persoalan keamanan dan pembangunan daerah.

“Kami ingin membangun komunikasi sekaligus membicarakan berbagai persoalan yang berkaitan dengan Maluku, khususnya mengenai konsep kolaborasi anak muda dalam menjaga keamanan, kedamaian, dan kemajuan daerah,” ujar Saleh.

IMM, kata dia, tengah menyiapkan gagasan desa binaan sebagai ruang bagi kader untuk turun langsung mengidentifikasi persoalan masyarakat dan mengembangkan potensi lokal.

“Kami ingin agar IMM tidak hanya hadir dalam kegiatan diskusi dan akademik, tetapi juga benar-benar hadir di tengah masyarakat. Salah satunya melalui pemberdayaan ekonomi dengan memanfaatkan potensi lokal,” katanya.

Perhatian juga diarahkan kepada masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan dan terluar (3T).

IMM berencana mengoptimalkan kader yang memiliki latar belakang pendidikan untuk terlibat dalam kegiatan pengabdian masyarakat.

“Kami ingin membuat program yang memiliki semangat seperti Polisi Mengajar. Kader-kader IMM dapat turun langsung ke masyarakat dan mengabdi melalui pendidikan. Akan sangat baik apabila program tersebut dapat dikolaborasikan dengan Polda Maluku,” jelasnya.

Polda: Pemuda Mitra Strategis

Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol. Rositah Umasugi mengatakan pemuda dan mahasiswa merupakan mitra strategis kepolisian dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

Menurut Rositah, mahasiswa memiliki energi, gagasan serta kapasitas intelektual yang dapat digunakan untuk ikut menyelesaikan persoalan sosial.

“Polda Maluku memandang pemuda dan mahasiswa bukan hanya sebagai objek pembangunan, tetapi sebagai mitra strategis yang memiliki energi, gagasan, dan kapasitas intelektual untuk ikut menyelesaikan berbagai persoalan di masyarakat,” ujar Rositah.

Ia menegaskan bahwa menjaga Maluku tetap aman dan damai tidak dapat dibebankan hanya kepada kepolisian.

“Menjaga Maluku tetap aman, damai dan kondusif bukan hanya tugas Polri. Ini merupakan tanggung jawab bersama,” katanya.

Karena itu, Rositah berharap komunikasi antara Polda Maluku dan IMM tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi diterjemahkan menjadi program yang memiliki target dan manfaat yang jelas.

“Yang paling penting adalah bagaimana silaturahmi ini dapat ditindaklanjuti menjadi kerja bersama yang terukur dan berkelanjutan. Polda Maluku terbuka terhadap gagasan-gagasan positif dari mahasiswa dan pemuda untuk bersama-sama membangun Maluku,” tegasnya.

Dari Gagasan Menjadi Legasi

Dadang mengatakan pembangunan daerah membutuhkan keterlibatan berbagai unsur, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, organisasi kemahasiswaan, dunia usaha hingga masyarakat.

Ia berharap IMM dapat mengambil peran sebagai kekuatan intelektual sekaligus moral dalam menjaga stabilitas sosial dan mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia serta ekonomi masyarakat.

Menurut dia, ukuran keberhasilan kepemimpinan tidak selalu ditentukan oleh banyaknya program yang dibuat, melainkan oleh keberlanjutan dan manfaat program tersebut bagi masyarakat.

“Seorang pemimpin harus memiliki legasi. Tidak perlu meninggalkan banyak program. Cukup satu atau dua program yang benar-benar berhasil, dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, dan dapat terus dilanjutkan oleh generasi berikutnya,” tandas Dadang.

Audiensi Polda Maluku dan DPP IMM Maluku berakhir sekitar pukul 14.45 WIT dalam suasana aman dan tertib.

Pertemuan tersebut menjadi awal pembicaraan mengenai kemungkinan kolaborasi antara kepolisian dan organisasi mahasiswa, tidak hanya dalam menjaga perdamaian, tetapi juga dalam pendidikan, literasi, pemberdayaan ekonomi dan penguatan kapasitas generasi muda Maluku.

error: Content is protected !!