Terjebak Api di Kebun Cengkeh

27/08/2026
Proses pengepakan jenazah korban oleh aparat kepolisian dan warga, Foto: Ist

Piru, — Asap tebal terlihat membubung dari arah kebun di Dusun Pasaulung, Desa Piru, Kecamatan Seram Barat, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Maluku, Selasa (25/8/2026) siang.

Keluarga yang melihat kepulan asap itu bergegas menuju kebun. Mereka tahu, Samuel Latuihamalo, 62 tahun, sedang berada di sana.

Namun ketika tiba di lokasi, Samuel tidak ditemukan.
Yang tersisa hanya telepon genggam dan parang miliknya di sebuah walang kebun.
Keluarga menduga Samuel pergi mengambil air untuk memadamkan api.
Hingga sore, ia tak kunjung kembali.
Pencarian kemudian dilakukan. Warga memanggil-manggil nama Samuel di tengah kebun yang masih terbakar. Tidak ada jawaban.

Evakuasi jenazah korban kebakaran dengan menggunakan kendaraan ambulance ke rumah duka, Foto: Ist

Sekitar pukul 17.00 WIT, warga dari Dusun Air Salobar datang membantu pencarian sekaligus memadamkan api.
Satu jam kemudian, sekitar pukul 18.00 WIT, pencarian berakhir dengan kabar duka.
Samuel ditemukan dalam posisi terlentang di kawasan kebun yang terbakar. Ia telah meninggal dunia.

Api yang Membesar

Menurut keterangan yang diperoleh kepolisian, Samuel sebelumnya membakar rumput untuk membersihkan areal kebun cengkehnya.
Api kemudian membesar.
Asap tebal memenuhi kawasan kebun.

Dalam kondisi tersebut, Samuel diduga tidak mampu menyelamatkan diri dari kobaran api.

Kasihumas Polres SBB IPDA Asep Souisa mengatakan peristiwa itu terjadi setelah Samuel berangkat ke kebun sekitar pukul 08.00 WIT.

Sekitar pukul 12.00 WIT, Tirsa Latuihamalo (35), saksi sekaligus anggota keluarga korban, melihat asap tebal dari arah hutan Dusun Pasaulung.

Tirsa bersama keluarga kemudian menuju kebun.
Samuel tidak ada.

Telepon genggam dan parang ditemukan di walang kebun. Keluarga menduga korban sedang mencari air untuk memadamkan api.

Namun sampai sekitar pukul 15.00 WIT, Samuel tidak kembali.
Keluarga bersama warga mulai mencari korban. Karena pencarian belum membuahkan hasil, mereka meminta bantuan kerabat dan masyarakat dari Dusun Air Salobar.

Sekitar pukul 18.00 WIT, tubuh Samuel akhirnya ditemukan.
Albart Pariama (50), saksi lainnya, bersama warga kemudian memastikan bahwa jenazah tersebut adalah Samuel. Tubuh korban ditutup menggunakan pakaian sebelum warga menghubungi kepolisian.

Kapolsek Piru AKP Hamsir Buton bersama personel Polsek Piru dan Satreskrim Polres SBB kemudian mendatangi lokasi untuk melakukan identifikasi dan pemeriksaan tempat kejadian perkara.

Pihak keluarga menyatakan menolak otopsi. Penolakan tersebut dituangkan dalam surat penolakan otopsi melalui Unit Identifikasi Satreskrim Polres SBB.

 

Musim Kemarau dan Api yang Tak Terduga

Kematian Samuel menjadi pengingat lain tentang bahaya penggunaan api untuk membersihkan lahan, terutama ketika kondisi lingkungan kering.

Api yang semula digunakan untuk membakar rumput dapat berubah menjadi kobaran yang sulit dikendalikan.

Polres SBB mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan, terutama pada musim kemarau.

Warga diminta tidak membersihkan lahan dengan cara membakar, membuang puntung rokok sembarangan, atau meninggalkan api sebelum benar-benar dipastikan padam.

Masyarakat juga diminta segera melaporkan keberadaan api atau asap yang berpotensi menyebabkan kebakaran melalui layanan kepolisian 110, yang dapat digunakan secara gratis selama 24 jam.

“Peristiwa ini menjadi pelajaran bagi kita semua agar lebih berhati-hati dalam menggunakan api, terutama di musim kemarau. Keselamatan harus menjadi yang utama dan setiap potensi kebakaran harus segera dilaporkan,” ujar Asep.

Di kebun cengkeh Pasaulung, api yang semula dinyalakan untuk membersihkan rumput akhirnya meninggalkan kehilangan.

Samuel pergi ke kebun untuk membersihkan lahannya. Ia tidak pernah kembali.

error: Content is protected !!