Mengapa Gadihu Bisa Menjadi Garda Terdepan Pertahanan Iklim Maluku?

24/07/2026
Dr. Bokiraiya Latuamury, Pakar Hidrologi dan Kehutanan Universitas Pattimura Ambon. Menurutnya, gadihu dapat menjadi bagian dari solusi berbasis alam (Nature-based Solutions) untuk memperkuat ketahanan iklim dan konservasi lingkungan di wilayah kepulauan Maluku. (Foto: Dok. Pribadi)/AI/ChatGPT Image
Pakar Unpatti: Gadihu Bisa Menjadi Pertahanan Iklim Maluku
  • Di tengah ancaman perubahan iklim, pakar hidrologi Universitas Pattimura menilai solusi tidak selalu datang dari teknologi mahal atau proyek besar.
  • Tanaman gadihu yang selama ini hanya dianggap penghias pekarangan justru dapat menjadi bagian dari benteng ekologis Pulau-Pulau Maluku.

Ambon,—Ketika dunia sibuk membahas transisi energi, perdagangan karbon, hingga target Net Zero Emission, solusi menghadapi perubahan iklim ternyata bisa dimulai dari halaman rumah.

Bagi sebagian masyarakat Maluku, gadihu atau puring (Codiaeum variegatum (L.) A.Juss.) hanyalah tanaman hias yang mempercantik pekarangan dengan warna-warni daunnya. Namun, di balik tampilannya yang mencolok, tanaman ini menyimpan fungsi ekologis yang selama ini kurang mendapat perhatian.
Pakar Hidrologi dan Kehutanan Universitas Pattimura Ambon, Dr. Bokiraiya Latuamury, mengatakan sudah saatnya masyarakat maupun pemerintah mengubah cara pandang terhadap vegetasi pekarangan. Menurutnya, gadihu tidak lagi layak diposisikan sekadar sebagai ornamen, melainkan sebagai bagian dari infrastruktur ekologis yang mampu memperkuat ketahanan lingkungan di kawasan kepulauan.

“Di balik kombinasi warna daunnya yang menawan, gadihu merupakan bagian dari vegetasi pekarangan yang mendukung pengendalian suhu mikro, penyerapan karbon, hingga konservasi tanah dan air. Tanaman ini tidak boleh lagi diletakkan sebagai ornamen pasif, melainkan harus diangkat kelasnya menjadi aset ekologis,” kata Bokiraiya kepada Titastory.id, Jumat (24/7/2026).

 

Krisis Iklim Dimulai dari Halaman Rumah

Dalam beberapa dekade terakhir, wajah kawasan permukiman di banyak kota, termasuk di Maluku, terus berubah. Halaman rumah yang dahulu dipenuhi pepohonan dan tanaman kini semakin banyak tertutup beton, paving block, maupun bangunan permanen.

Perubahan tersebut memang memberi kesan lebih modern, tetapi pada saat yang sama mengurangi kemampuan lingkungan menyerap air hujan dan menjaga keseimbangan suhu.

Menurut Bokiraiya, hilangnya vegetasi pekarangan menyebabkan tanah kehilangan daya resapnya. Air hujan yang seharusnya meresap ke dalam tanah berubah menjadi limpasan permukaan (runoff), sehingga meningkatkan risiko genangan, banjir lokal, hingga erosi.

Di sisi lain, permukaan yang didominasi beton dan aspal menyerap panas lebih tinggi sehingga memicu peningkatan suhu lingkungan atau urban heat island.

Dalam kondisi seperti ini, tanaman sederhana seperti gadihu justru memainkan fungsi yang tidak banyak disadari masyarakat.

 

Pendingin Alami dan Penyerap Karbon

Sebagaimana tumbuhan hijau lainnya, gadihu melakukan fotosintesis dengan menyerap karbon dioksida (CO₂) dari atmosfer dan menyimpannya dalam jaringan tanaman.

Selain itu, melalui proses evapotranspirasi, tanaman melepaskan uap air ke udara sehingga membantu menjaga kelembapan dan menurunkan suhu lingkungan sekitar.
Menurut Bokiraiya, kemampuan satu tanaman memang tidak akan sebanding dengan pohon hutan berukuran besar. Namun, manfaat ekologis tersebut akan meningkat apabila dilakukan secara kolektif.

“Kapasitas satu individu tanaman gadihu tentu terbatas jika dibandingkan dengan pohon hutan berukuran raksasa. Namun, jika ribuan tanaman ini tumbuh di pekarangan rumah, sekolah, fasilitas publik hingga ruang terbuka hijau, akan terbentuk jaringan vegetasi mikro yang memberikan dampak ekologis nyata,” ujarnya.

Dalam ilmu ekologi perkotaan, keberadaan vegetasi skala kecil yang tersebar di berbagai titik dapat membentuk jaringan ruang hijau yang membantu memperbaiki kualitas udara, mengurangi suhu permukaan, sekaligus meningkatkan kenyamanan kawasan permukiman.

 

Menjaga Air di Pulau-Pulau Kecil

Sebagai pakar hidrologi, Bokiraiya menaruh perhatian besar pada hubungan antara vegetasi dan siklus air, terutama di wilayah kepulauan seperti Maluku.

Ia menjelaskan bahwa tajuk gadihu mampu memperlambat jatuhnya butiran hujan ke permukaan tanah sehingga mengurangi erosi percik (splash erosion).

Sementara itu, sistem perakarannya membantu memperkuat struktur tanah, membentuk pori-pori alami, dan meningkatkan infiltrasi air.
Fungsi tersebut sangat penting karena sebagian besar wilayah Maluku memiliki karakteristik topografi berbukit dengan lereng yang relatif curam serta curah hujan yang tinggi.

Tanpa tutupan vegetasi, air hujan lebih cepat mengalir di permukaan dibandingkan meresap ke dalam tanah. Akibatnya, risiko erosi, longsor, dan banjir lokal semakin meningkat.

Namun demikian, Bokiraiya mengingatkan bahwa gadihu bukan pengganti pohon-pohon besar ataupun kawasan hutan lindung.

Menurut dia, tanaman ini justru melengkapi vegetasi lain sebagai strata perdu dalam sistem vegetasi berlapis yang memperkuat fungsi ekologis kawasan permukiman.

 

Solusi Berbasis Alam

Gagasan memanfaatkan gadihu sebagai bagian dari strategi menghadapi perubahan iklim sejalan dengan konsep Nature-based Solutions (NbS) yang kini banyak didorong oleh berbagai lembaga internasional, termasuk IUCN dan IPCC.

Pendekatan ini menempatkan alam sebagai bagian dari solusi untuk mengatasi perubahan iklim, mengurangi risiko bencana, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dalam konteks Maluku, Bokiraiya menilai pekarangan rumah dapat dipandang sebagai bagian dari infrastruktur hijau yang menopang ketahanan lingkungan.

Artinya, setiap tanaman yang tumbuh di halaman rumah tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga menjalankan fungsi ekologis yang mendukung keberlanjutan kota.

 

Mengakhiri Penghijauan Seremonial

Di sisi lain, Bokiraiya mengkritik praktik penghijauan yang selama ini masih bersifat seremonial.
Menurut dia, keberhasilan suatu program lingkungan tidak seharusnya diukur dari banyaknya bibit yang ditanam atau kegiatan penanaman yang bersifat simbolis.

Yang jauh lebih penting adalah memastikan tanaman tersebut tetap hidup, dirawat, dan memberikan manfaat ekologis dalam jangka panjang.

Karena itu, ia mengusulkan sejumlah langkah konkret.
Pemerintah daerah, misalnya, dapat memasukkan gadihu dan vegetasi lokal lainnya ke dalam pedoman penghijauan permukiman berdasarkan karakteristik lahan.

Sekolah dan perguruan tinggi didorong mengembangkan kebun iklim sebagai media pembelajaran sekaligus laboratorium hidup untuk mengukur kemampuan tanaman dalam menyerap karbon dan meningkatkan retensi air.

Sementara pemerintah desa dapat mendorong pembibitan gadihu melalui BUMDes, kelompok perempuan maupun kelompok pemuda sehingga selain memperkuat lingkungan juga membuka peluang ekonomi hijau bagi masyarakat.

 

Dari Tanaman Hias Menjadi Infrastruktur Ekologis

Bagi Bokiraiya, menghadapi perubahan iklim tidak selalu membutuhkan teknologi mahal atau investasi berskala besar.

Perubahan justru dapat dimulai dari ruang hidup yang paling dekat dengan manusia, yakni halaman rumah.
Ketika ribuan keluarga menanam dan merawat vegetasi secara berkelanjutan, pekarangan tidak lagi hanya menjadi ruang estetika, melainkan bagian dari sistem ekologis yang membantu menjaga keseimbangan air, menurunkan suhu lingkungan, menyerap karbon, dan memperkuat ketahanan Pulau-Pulau Maluku terhadap perubahan iklim.

“Krisis iklim menuntut perubahan cara pandang kita terhadap ruang hidup terkecil. Gadihu bukan lagi sekadar tanaman hias, tetapi dapat menjadi bagian dari infrastruktur ekologis yang menjaga masa depan lingkungan Maluku,” ujar Bokiraiya.

error: Content is protected !!