Pakar dan Penelitian Soroti Potensi Gadihu Menyerap Polutan Udara
Ambon,—Pertumbuhan Kota Ambon yang diikuti meningkatnya jumlah kendaraan bermotor membawa konsekuensi terhadap kualitas udara perkotaan. Di tengah kondisi tersebut, tanaman gadihu atau puring (Codiaeum variegatum) dinilai memiliki potensi menjadi bagian dari solusi berbasis alam (Nature-based Solutions) untuk membantu mengurangi dampak pencemaran udara.
Selain dikenal sebagai tanaman hias, gadihu memiliki karakteristik biologis yang memungkinkan daun-daunnya menangkap partikel polutan yang berasal dari emisi kendaraan bermotor.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Persampahan (DLHP) Kota Ambon, Apries Gaspersz, mengatakan gadihu memiliki nilai estetika sekaligus fungsi ekologis yang sesuai dikembangkan di kawasan permukiman.
“Daun puring atau gadihu memiliki bentuk, corak, dan warna yang beragam sehingga memperindah pekarangan.
Selain nilai estetikanya, tanaman ini juga memiliki manfaat ekologis bagi lingkungan perkotaan,” kata Apries.

Diteliti Mampu Menangkap Polutan
Kemampuan gadihu dalam membantu mengurangi pencemaran udara telah menjadi objek berbagai penelitian.
Salah satunya dilakukan oleh Hamidah, Reny Eka Agustin, dan Thin Soedarti dari Universitas Airlangga yang dipublikasikan dalam IOP Conference Series: Earth and Environmental Science.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa lapisan lilin pada permukaan daun serta kerapatan stomata tanaman puring mampu menangkap partikel logam berat, termasuk timbal (Pb), yang berasal dari emisi kendaraan bermotor.
Penelitian lain yang dilakukan A. Suhaenah, S. Maryam, dan G. Gusmiati dalam Jurnal Ilmiah As-Syifaa juga menunjukkan bahwa struktur epidermis daun serta kandungan senyawa alaminya memiliki kemampuan mengadsorpsi sejumlah partikel pencemar dari udara.
Meski demikian, kemampuan tersebut tidak berarti tanaman dapat menghilangkan pencemaran udara secara menyeluruh, melainkan menjadi salah satu komponen vegetasi yang membantu meningkatkan kualitas lingkungan apabila ditanam secara luas.
Cocok untuk Kota dengan Lahan Terbatas
Selain memiliki potensi ekologis, gadihu relatif mudah dibudidayakan.
Tanaman ini tahan terhadap paparan sinar matahari, dapat diperbanyak melalui stek batang, serta tidak memerlukan perawatan yang rumit.
Menurut Apries, karakteristik tersebut menjadikannya sesuai dikembangkan di kawasan permukiman padat seperti Kota Ambon yang memiliki keterbatasan ruang terbuka.
“Karakteristik puring adalah semak atau perdu, bukan pohon peneduh besar. Karena itu tanaman ini lebih tepat digunakan sebagai vegetasi bawah, pagar hidup, atau pengisi taman di kawasan perkotaan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa penghijauan kota tidak selalu harus dilakukan dengan pohon berukuran besar.
Vegetasi pekarangan yang ditanam secara kolektif juga dapat memberikan manfaat ekologis, mulai dari memperbaiki kualitas udara, menambah ruang hijau, hingga meningkatkan kenyamanan lingkungan.
Bagian dari Solusi Berbasis Alam
Di berbagai kota di dunia, konsep Nature-based Solutions (NbS) semakin banyak diterapkan untuk menghadapi tantangan perubahan iklim dan pencemaran udara.
Pendekatan ini menempatkan vegetasi sebagai infrastruktur alami yang mendukung kualitas lingkungan sekaligus meningkatkan ketahanan kawasan perkotaan.
Dalam konteks Ambon, gadihu dapat menjadi salah satu pilihan vegetasi lokal yang tidak hanya mempercantik pekarangan, tetapi juga berkontribusi terhadap upaya menciptakan kota yang lebih hijau, sehat, dan nyaman.