Seram Bagian Timur, – Bagi Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Timur, sagu bukan sekadar tanaman pangan yang diwariskan leluhur. Di balik hamparan hutan sagu yang membentang dari pesisir hingga pedalaman Pulau Seram, tersimpan harapan besar untuk membangun masa depan ekonomi daerah yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Bupati Seram Bagian Timur, Fachri Husni Alkatiri, mengatakan bahwa pengembangan sagu telah menjadi salah satu agenda prioritas pemerintah daerah. Sejak April 2025, Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Timur telah menyusun dan mengusulkan program hilirisasi sagu sebagai Program Strategis Nasional (PSN) kepada pemerintah pusat melalui Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).
Menurut Fachri, langkah tersebut didasari oleh besarnya potensi sagu yang dimiliki Maluku, di mana sekitar 97 persen sumber daya sagu berada di wilayah Maluku dan sebagian besar tersebar di Pulau Seram.
“Kita memiliki sumber daya yang luar biasa besar. Selama ini sagu hanya dipandang sebagai makanan tradisional masyarakat. Padahal kalau dikelola secara serius, sagu bisa menjadi kekuatan ekonomi baru yang mampu menggerakkan pembangunan daerah dan memperkuat ketahanan pangan nasional,” kata Fachri kepada titastory, Selasa (2/6).
Fachri menilai, selama lebih dari dua dekade terakhir, potensi sagu belum mendapatkan perhatian yang memadai. Akibatnya, pemanfaatan dan pengembangannya berjalan lambat meskipun memiliki nilai ekonomi, sosial, dan lingkungan yang sangat besar.
“Sagu ini kurang lebih sudah 20 tahun tidak dikelola secara serius. Padahal ini adalah investasi jangka panjang. Kita tidak boleh terus bergantung pada komoditas lain sementara potensi terbesar yang kita miliki justru belum dimaksimalkan,” katanya.

Selain itu, kata Fachri, industri sagu ini juga akan dikembangkan berbasis dan menghormati kearifan lokal. Sebab, sagu katanya, bukan hanya sumber ekonomi, tapi juga identitas dan kearifan lokal orang Maluku, khususnya Seram Bagian Timur.
Untuk itu, menurut Fachri, dukungan terhadap program ini terus menguat. Selain mendapat perhatian dari Pemerintah Provinsi Maluku, gagasan hilirisasi sagu juga memperoleh dukungan dari Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman.
Dukungan tersebut katanya, menjadi modal penting dalam memperjuangkan sagu sebagai bagian dari agenda pembangunan nasional. Terlebih, di tengah ancaman krisis pangan global dan perubahan iklim, sagu dinilai memiliki keunggulan strategis karena mampu tumbuh di lahan basah, tahan terhadap perubahan cuaca, serta berkontribusi terhadap pelestarian ekosistem.
“Kita harus menjaga dan mengembangkan sagu sebagai modal masa depan. Jangan sampai sumber daya ini habis atau terabaikan. Kalau Papua memiliki kekuatan sagu, Maluku juga memiliki kekuatan yang sama dan harus dikelola secara bijak untuk generasi mendatang,” ujarnya.

Fachri juga menegaskan bahwa pengembangan sagu sejalan dengan berbagai target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), mulai dari pengentasan kemiskinan, penghapusan kelaparan, peningkatan kesehatan masyarakat, pembangunan industri dan inovasi, pengurangan kesenjangan ekonomi, hingga pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.

Menjaga Sagu, Menjaga Masa Depan
Bagi Bupati Seram Bagian Timur ini, upaya mendorong hilirisasi sagu tidak semata-mata bertujuan meningkatkan pendapatan masyarakat atau memperkuat ketahanan pangan daerah. Lebih dari itu, pengelolaan dan penyelamatan ekosistem sagu merupakan bagian dari kontribusi nyata daerah dalam menghadapi ancaman perubahan iklim global.
Menurut Fachri, hutan-hutan sagu yang selama ini tersebar di berbagai wilayah Seram Bagian Timur menyimpan fungsi ekologis yang sangat penting. Selain menjadi sumber pangan masyarakat, ekosistem sagu berperan sebagai penyimpan cadangan karbon alami, menjaga keseimbangan tata air, mencegah degradasi lahan, serta menjadi habitat berbagai jenis flora dan fauna lokal.
Karena itu, pengembangan sagu harus dilakukan melalui pendekatan yang berkelanjutan, sehingga manfaat ekonomi dapat berjalan seiring dengan upaya pelestarian lingkungan.
“Kita tidak hanya bicara soal produksi atau industri sagu. Kita juga bicara bagaimana menyelamatkan ekosistem sagu sebagai warisan pangan Nusantara dan sebagai bagian dari upaya menghadapi perubahan iklim global,” ujar Fachri.
Komitmen tersebut dinilai sejalan dengan sejumlah target dalam Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang telah menjadi agenda pembangunan dunia hingga tahun 2030.
Pertama, SDGs Tujuan 1 (Tanpa Kemiskinan). Hilirisasi sagu berpotensi meningkatkan pendapatan petani, membuka lapangan kerja baru, dan menciptakan sumber ekonomi alternatif bagi masyarakat pedesaan di Seram Bagian Timur.
Kedua, SDGs Tujuan 2 (Tanpa Kelaparan). Sebagai pangan lokal yang telah dikonsumsi turun-temurun, sagu menjadi instrumen penting dalam memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap beras dan pangan impor.
Ketiga, SDGs Tujuan 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera). Sagu dikenal memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan dengan sejumlah sumber karbohidrat lainnya, sehingga berpotensi mendukung pola konsumsi pangan yang lebih sehat bagi masyarakat.
Keempat, SDGs Tujuan 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi). Pengembangan industri pengolahan sagu dari hulu hingga hilir dapat menciptakan peluang usaha baru, meningkatkan investasi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara inklusif.
Kelima, SDGs Tujuan 10 (Mengurangi Kesenjangan). Dengan menjadikan masyarakat adat, petani, perempuan pengolah sagu, dan UMKM sebagai pelaku utama dalam rantai produksi, manfaat ekonomi dapat didistribusikan secara lebih merata hingga ke wilayah-wilayah terpencil.
Keenam, SDGs Tujuan 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Pengelolaan sagu yang berkelanjutan mendorong pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana tanpa merusak ekosistem yang menjadi penopangnya.
Ketujuh, SDGs Tujuan 14 (Ekosistem Laut). Pelestarian hutan sagu di kawasan pesisir dan daerah aliran sungai turut membantu menjaga kualitas perairan, mengurangi sedimentasi, dan mendukung kesehatan ekosistem pesisir serta laut di Maluku.
Kedelapan, SDGs Tujuan 15 (Ekosistem Daratan). Hutan sagu merupakan bagian penting dari ekosistem daratan yang berfungsi menjaga keanekaragaman hayati, melindungi tanah dari degradasi, serta memperkuat ketahanan lingkungan terhadap dampak perubahan iklim.
Bagi Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Timur, kata Bupati Kabupaten Seram Bagian Timur ini, hilirisasi sagu bukan semata-mata proyek ekonomi. Lebih dari itu, program ini merupakan upaya untuk membangun fondasi baru pembangunan daerah yang bertumpu pada kekuatan lokal.
Di tengah rumpun-rumpun sagu yang selama ini tumbuh tenang di hutan-hutan Seram, pemerintah daerah melihat sebuah peluang besar: menjadikan warisan pangan leluhur sebagai penggerak ekonomi masa depan, sekaligus kontribusi nyata Maluku dalam menjaga ketahanan pangan Indonesia.