Makan Bergizi Diprioritaskan, Fasilitas Sekolah di Seram Barat Memprihatinkan

Siswa di SBB Justru Bawa Kursi Sendiri ke Sekolah
08/04/2026
Seorang siswa SD di Desa Waraloin, Kecamatan Taniwel Timur, Kabupaten Seram Bagian Barat, terlihat sedang menulis di papan tulis yang terlihat rusak dan terkelupas. Foto: Ist

Seram Bagian Barat, — Di tengah gencarnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diprioritaskan pemerintah, kondisi fasilitas pendidikan di Kecamatan Taniwel Timur, Kabupaten Seram Bagian Barat, justru memprihatinkan. Siswa di SD Inpres, Uwen Pantai, Kecamatan Taniwel Timur, terpaksa membawa kursi dari rumah untuk bisa mengikuti proses belajar mengajar.

Kondisi ini terlihat pada Minggu (23/3/2026), ketika ruang kelas dipenuhi kursi plastik milik siswa dengan berbagai bentuk dan warna. Tidak tersedia kursi sekolah yang layak dan cukup untuk digunakan oleh seluruh peserta didik.

“Terpaksa bawa dari rumah karena kursi di sekolah sudah banyak yang rusak dan tidak cukup,” ujar seorang warga setempat.

Kondisi aktivitas belajar mengajar di SD Inpres, Uwen Pantai, Kecamatan Taniwel Timur, Kecamatan Taniwel Timur, Kabupaten Seram Bagian Barat, memaksa siswa membawa kursi dari rumah untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar. Papan tulis di ruang kelas terlihat rusak dan terkelupas di bagian bawah, sehingga menyulitkan guru dalam menyampaikan materi. Sementara itu, meja belajar yang tersedia tampak lapuk dan penuh coretan. Foto: Ist

Fasilitas Minim, Belajar Tak Nyaman

Masalah tidak berhenti pada kursi. Papan tulis di ruang kelas terlihat rusak dan terkelupas, menyulitkan guru dalam menyampaikan materi. Meja belajar yang tersisa tampak lapuk dan tidak terawat.

Bangunan kelas memang berdinding permanen, namun cat yang kusam dan kondisi ruang yang tidak tertata memperlihatkan kurangnya perhatian terhadap kualitas lingkungan belajar siswa.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan publik mengenai arah prioritas kebijakan pendidikan. Di satu sisi, pemerintah mendorong program MBG sebagai upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Namun di sisi lain, kebutuhan dasar pendidikan seperti fasilitas belajar justru belum terpenuhi.

Minimnya sarana pendidikan dinilai berpotensi menghambat proses belajar, bahkan menggerus semangat siswa di daerah terpencil.

Kondisi ruang kelas yang didokumentasikan pada Minggu (23/3/2026). Di dalam kelas, tidak tersedia kursi yang memadai sehingga siswa menggunakan kursi plastik milik pribadi dengan berbagai bentuk dan warna. Foto: Ist

Kesenjangan Nyata di Daerah

Fenomena ini mencerminkan masih lebarnya kesenjangan infrastruktur pendidikan di wilayah Maluku, khususnya di daerah terpencil seperti Taniwel Timur.

Siswa tidak hanya dituntut untuk belajar, tetapi juga harus menanggung beban tambahan akibat keterbatasan fasilitas yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara.

Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Barat dan Dinas Pendidikan segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki kondisi tersebut.

Tanpa intervensi serius, kondisi ini dikhawatirkan akan terus berlangsung dan berdampak pada kualitas pendidikan generasi di daerah.

error: Content is protected !!