Jakarta,— Kolaborasi antara media dan organisasi masyarakat sipil dinilai menjadi kunci untuk membangun narasi tandingan mengenai Papua, terutama dalam isu lingkungan dan ruang hidup masyarakat adat yang selama ini kurang terangkat.
Jurnalis Tempo, Agoeng Wijaya, mengatakan luasnya wilayah Papua serta keterbatasan pemahaman media di luar Papua menjadi tantangan utama dalam pemberitaan.
“Kita sedang menghadapi kolaborasi besar. Karena itu, kita sebagai bagian dari masyarakat sipil, baik organisasi maupun profesi pers, perlu berkolaborasi,” kata Agoeng dalam lokakarya “Membincangkan Gagasan, Merajut Gerakan” pada rangkaian Pesta Media AJI Jakarta 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Minggu, 12 April 2026.
Menurut dia, tanggung jawab membangun narasi tandingan tidak hanya berada di pundak media, tetapi juga di pundak masyarakat sipil yang bekerja langsung bersama komunitas di Papua. Kolaborasi ini, kata Agoeng, penting untuk memperkuat hubungan antara media nasional dan media lokal di Papua.

Narasi Dominan dan Minimnya Sorotan Lingkungan
Kebutuhan akan narasi tandingan muncul karena pemberitaan tentang Papua, khususnya isu lingkungan, masih sangat terbatas dan cenderung didominasi oleh perspektif pemerintah.
Perwakilan Greenpeace Indonesia, Budiarti Putri, mengungkapkan berdasarkan pemantauan media sepanjang 2025, dari sekitar 192 ribu berita lingkungan, hanya 1.504 yang membahas Papua.
“Ada narasi dominan yang dibangun dan dilanggengkan pemerintah. Ketika bicara Papua, framing-nya sering berkutat pada isu keamanan dan konflik,” ujar Budiarti.
Ia menambahkan, pemberitaan terkait Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua juga masih terbatas dan sebagian besar mengandalkan sumber pemerintah, sehingga mempersempit perspektif publik.
Dalam banyak kasus, pendekatan ini tidak hanya menyederhanakan persoalan, tetapi juga memisahkan hubungan antara manusia dan ruang hidupnya. Papua kerap dilihat sebagai wilayah konflik atau sumber daya, tanpa menghadirkan relasi masyarakat adat dengan tanahnya.
Yayasan Pusaka Bentala Rakyat melalui Yokbeth Fele menilai narasi tentang Papua selama ini lebih banyak disampaikan dari sudut pandang orang ketiga.
“Kebanyakan kita membiarkan narasi itu berkembang dari narasi orang ketiga,” ujarnya.
Padahal, menurut dia, menghadirkan perspektif orang pertama—yakni masyarakat Papua sendiri—menjadi penting untuk membangun pemahaman yang lebih utuh.
Upaya ini juga dilakukan melalui pendekatan seni. Seniman bunyi dan akademisi asal Papua, Septina Layan, mengolah cerita mama-mama Papua menjadi karya tutur dan musik.
Ia menyebut salah satu karyanya, Ihin Sakil atau Ratapan Cendrawasih, sebagai refleksi atas perubahan lingkungan yang ia saksikan sejak kecil.
“Saya ingat masa kecil di kampung Bulbuk, bermain di hutan. Ketika kembali, hutan itu sudah hampir tidak seperti dulu,” kata Septina.
Pada 2025, ia juga merilis karya berjudul Papua adalah Rumah yang menegaskan keterikatan masyarakat dengan tanah dan hutan sebagai ruang hidup.
Ruang Kolaborasi untuk Jurnalisme dan Demokrasi
Diskusi ini merupakan bagian dari Aliansi Jurnalis Independen melalui AJI Jakarta, yang menyelenggarakan Pesta Media pada 11–12 April 2026 di Taman Ismail Marzuki.
Kegiatan ini menghadirkan berbagai forum, mulai dari diskusi, lokakarya, pemutaran film, hingga pertunjukan seni, sebagai ruang kolaborasi lintas sektor.
Isu yang diangkat mencakup krisis lingkungan dan perkembangan kecerdasan buatan (AI), yang dinilai semakin memengaruhi arah jurnalisme di Indonesia.
Melalui forum ini, kolaborasi antara media dan masyarakat sipil diharapkan tidak hanya memperkaya narasi, tetapi juga memperkuat peran jurnalisme dalam mengawal isu lingkungan dan hak-hak masyarakat adat di Papua.
Narasi tandingan, dalam konteks ini, bukan sekadar alternatif wacana, melainkan upaya menghadirkan suara yang selama ini terpinggirkan ke ruang publik.