Ambon, — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan informasi yang beredar di media sosial mengenai prediksi gempa bumi besar yang diklaim akan terjadi pada 5 Maret 2026 adalah hoaks.
BMKG menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada teknologi di dunia yang mampu memprediksi secara tepat waktu, lokasi, dan magnitudo gempa bumi.
Melalui akun resmi @infoBMKG, lembaga tersebut mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya pada informasi yang tidak berasal dari sumber resmi.
“Penyampaian informasi resmi BMKG selalu berbasis data teknis yang terukur melalui pemantauan seismik selama 24 jam,” tulis BMKG dalam pernyataan resminya pada Selasa, 4 Maret 2026.
BMKG menjelaskan bahwa masyarakat perlu memahami perbedaan antara kajian potensi gempa dan prediksi waktu kejadian.

Kajian potensi dilakukan untuk memetakan wilayah rawan gempa, termasuk keberadaan sesar aktif, sehingga dapat digunakan sebagai dasar mitigasi bencana. Sementara itu, memprediksi secara pasti kapan gempa akan terjadi masih belum dapat dilakukan secara ilmiah.
Menurut BMKG, penyebaran hoaks terkait bencana alam dapat memicu kepanikan di masyarakat dan berpotensi menimbulkan risiko baru, seperti kecelakaan akibat evakuasi yang tidak diperlukan.
Karena itu, masyarakat diminta memastikan setiap informasi mengenai gempa bumi berasal dari sumber resmi BMKG, seperti aplikasi InfoBMKG atau akun media sosial resmi yang telah terverifikasi.
BMKG juga mengimbau masyarakat agar tidak menyebarkan kembali pesan berantai yang sumbernya tidak jelas serta lebih fokus mempelajari langkah-langkah penyelamatan diri saat gempa terjadi.
“Warga diharapkan tetap tenang dan terus memantau informasi resmi pemerintah mengenai aktivitas kegempaan di wilayah masing-masing,” tulis BMKG.
Penulis: Christin Pesiwarissa