Ambon, — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Maluku. Berdasarkan Sistem Peringatan Kebakaran Hutan dan Lahan (SPARTAN) yang diperbarui pada 13 Oktober 2026, sejumlah indikator menunjukkan kategori sangat tinggi, mulai dari kemudahan bahan permukaan tanah terbakar hingga potensi penyebaran dan intensitas api.
Dalam dokumen peringatan dini bernomor ACWM-PTM-13 yang diterbitkan Stasiun Meteorologi Kelas I Pattimura Ambon, tingkat kemudahan terbakar pada lapisan atas permukaan tanah di Maluku berada pada kategori rendah hingga sangat tinggi. Sementara itu, pada lapisan menengah, tingkat kemudahan terbakar berada pada kategori tinggi hingga sangat tinggi.
Potensi penyebaran api dan intensitas kebakaran juga berada pada rentang kategori rendah hingga sangat tinggi.
Peta tersebut berlaku untuk 14 Oktober 2026. BMKG menggunakan data pengamatan dan model prakiraan cuaca sebagai dasar untuk membantu mitigasi risiko kebakaran hutan dan lahan.
Informasi ini menjadi peringatan bagi pemerintah daerah, instansi terkait, dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan serta memperkuat langkah pencegahan kebakaran, terutama di wilayah yang menunjukkan tingkat potensi tinggi.

Bahan permukaan tanah berpotensi mudah terbakar
Dalam sistem SPARTAN, BMKG menggunakan sejumlah indeks untuk menggambarkan kondisi bahan bakar alami, kemudahan api menyebar, serta potensi intensitas kebakaran.
Indikator pertama adalah Fine Fuel Moisture Code (FFMC), yang menggambarkan tingkat kemudahan bahan-bahan ringan di lapisan atas permukaan tanah terbakar berdasarkan parameter cuaca.
Bahan tersebut antara lain humus permukaan, dedaunan kering, alang-alang, dan material ringan lain yang menutupi lantai hutan pada kedalaman sekitar 1–2 sentimeter.

Secara umum, FFMC di wilayah Maluku berada pada kategori rendah hingga sangat tinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa potensi kemudahan terbakar berbeda antarlokasi sehingga perkembangan cuaca dan kondisi lingkungan setempat perlu terus dipantau.
Sementara itu, Duff Moisture Code (DMC) menggambarkan tingkat kekeringan bahan organik pada lapisan menengah permukaan tanah, termasuk material pada kedalaman sekitar 5–10 sentimeter serta ranting kecil dan semak belukar berkayu.
Menurut dokumen BMKG, tingkat kemudahan terbakar pada lapisan menengah di Maluku berada pada kategori tinggi hingga sangat tinggi.
Kondisi bahan organik dan material kering tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam upaya pencegahan kebakaran, khususnya ketika kondisi cuaca mendukung terjadinya penyalaan api.
Api berpotensi menyebar cepat

Selain kemudahan bahan terbakar, BMKG memantau potensi penyebaran api melalui Initial Spread Index (ISI).
Indeks ini menunjukkan tingkat kemudahan api untuk menyebar apabila kebakaran terjadi. Nilainya meningkat secara eksponensial seiring kenaikan kecepatan angin.
Dalam dokumen tersebut, BMKG menjelaskan bahwa nilai ISI menjadi dua kali lipat setiap kenaikan kecepatan angin sebesar 13 kilometer per jam atau 3,6 meter per detik.
Indeks ini terutama berguna untuk menggambarkan potensi penyebaran api di area padang rumput atau alang-alang. Dalam kondisi angin yang mendukung, api dapat menyebar dengan cepat dan membentuk pola kepala api (head fire).
Secara umum, tingkat kemudahan penyebaran api di wilayah Maluku berada pada kategori rendah hingga sangat tinggi.
Indikator berikutnya adalah Fire Weather Index (FWI), yang menggambarkan besarnya intensitas api jika kebakaran terjadi. Indeks ini dipengaruhi oleh ISI dan Build Up Index (BUI).
BMKG mencatat tingkat intensitas api kebakaran hutan dan lahan di Maluku berada pada rentang kategori rendah hingga sangat tinggi.
Kedua indeks tersebut tidak berarti kebakaran pasti terjadi di seluruh wilayah Maluku. Namun, informasi mengenai potensi penyebaran dan intensitas api dapat menjadi acuan untuk menentukan langkah mitigasi berdasarkan kondisi setempat.

Pencegahan menjadi kunci
BMKG menegaskan bahwa produk SPARTAN merupakan referensi untuk mitigasi kejadian kebakaran hutan dan lahan. Masyarakat dan instansi terkait disarankan untuk terus mengikuti perkembangan cuaca serta kondisi lingkungan terkini.
Koordinasi dengan kementerian, dinas, dan lembaga terkait juga diperlukan untuk memanfaatkan informasi tersebut dalam langkah pencegahan dan penanganan karhutla.
Masyarakat diharapkan meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, khususnya pembakaran terbuka di lahan yang memiliki material kering. Pemantauan kondisi lingkungan dan respons cepat terhadap indikasi kebakaran menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi risiko meluasnya api.
Pemerintah daerah dan instansi berwenang perlu menggunakan informasi potensi kebakaran sebagai salah satu dasar untuk memperkuat kesiapsiagaan, memantau wilayah rawan, serta meningkatkan koordinasi apabila ditemukan titik api.
Dokumen BMKG tersebut tidak menyatakan bahwa seluruh wilayah Maluku berada pada tingkat bahaya yang sama. Peta menunjukkan rentang kategori yang berbeda, sehingga penilaian risiko perlu mempertimbangkan lokasi dan kondisi aktual.
Informasi potensi karhutla ini diperbarui pada Rabu, 13 Oktober 2026, pukul 10.00 WIT, oleh Stasiun Meteorologi Kelas I Pattimura Ambon.
Masyarakat dapat memperoleh informasi lebih lanjut melalui situs resmi BMKG di www.bmkg.go.id dan www.spartan.bmkg.go.id, serta akun X @InfoBmkgMaluku.
Sumber: BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Pattimura Ambon, dokumen peringatan dini potensi kebakaran hutan dan lahan Provinsi Maluku, 13 Oktober 2026.