Seram Bagian Timur,— Kebakaran hutan dan lahan kembali terjadi di Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku, ketika sebagian wilayah provinsi itu mulai menghadapi kondisi vegetasi yang semakin kering pada musim kemarau.
Api membakar kawasan perbukitan sepanjang Lorong Afghanistan hingga Jalan Pendopo, Dusun Waililan, Negeri Bula, Kecamatan Bula, pada Sabtu, 8 Agustus 2026 sekitar pukul 20.25 WIT. Kebakaran melanda semak belukar yang mengering akibat kemarau berkepanjangan dan diperparah oleh angin kencang.
Luas lahan yang terdampak diperkirakan mencapai 2,5 hektare.
Tim Reaksi Cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Seram Bagian Timur melakukan identifikasi, kaji cepat, dan berkoordinasi dengan pemerintah setempat. Upaya pemadaman menghadapi kendala medan berupa kawasan perbukitan yang menanjak dan sulit dijangkau.
Api baru berhasil dipadamkan pada Senin, 10 Agustus 2026 sekitar pukul 22.35 WIT.
Kebakaran di Bula menjadi pengingat bahwa ancaman karhutla tidak hanya berada di wilayah yang selama ini dikenal sebagai episentrum kebakaran. Ketika bahan bakar alami seperti semak, rumput, dedaunan dan ranting mengering, satu sumber api kecil dapat berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas, terutama ketika disertai angin.
BMKG keluarkan peringatan dini
Sehari setelah api di Bula berhasil dipadamkan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Stasiun Meteorologi Kelas II Pattimura Ambon mengeluarkan peringatan dini potensi kebakaran hutan dan lahan untuk Provinsi Maluku.
Dalam dokumen Sistem Peringatan Kebakaran Hutan dan Lahan (SPARTAN) yang dirilis Selasa, 11 Agustus 2026, BMKG menunjukkan bahwa tingkat kemudahan terbakar pada lapisan atas permukaan tanah di Maluku berada dalam rentang Aman (Low) hingga Sangat Mudah (Very High).
Peringatan tersebut tidak berhenti pada kondisi bahan bakar di permukaan. Pada lapisan menengah tanah, tingkat kemudahan terbakar berada pada kategori Tidak Mudah (Moderate) hingga Sangat Mudah (Very High).
BMKG juga memperingatkan bahwa apabila kebakaran terjadi, api di sejumlah wilayah Maluku berpotensi menyebar dengan tingkat Sedang hingga Sangat Tinggi. Indikator ini tercermin dalam Initial Spread Index (ISI), yang antara lain dipengaruhi oleh kecepatan angin.
Sementara itu, Fire Weather Index (FWI), yang menggambarkan potensi intensitas api apabila kebakaran terjadi, berada pada kategori Sedang hingga Sangat Tinggi.
Dengan kata lain, peringatan BMKG bukan berarti seluruh wilayah Maluku sedang terbakar, tetapi menunjukkan bahwa kondisi cuaca dan bahan bakar permukaan di sejumlah wilayah dapat membuat api lebih mudah muncul, menyebar, dan berkembang apabila terjadi sumber penyulut. BMKG sendiri menegaskan bahwa produk SPARTAN merupakan referensi mitigasi yang perlu dibaca bersama perkembangan cuaca dan kondisi lingkungan terkini.
Petani diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar
Peringatan tersebut penting terutama bagi masyarakat yang melakukan aktivitas pertanian dan perkebunan. Pada kondisi vegetasi kering, pembakaran sisa tanaman, semak maupun sampah di sekitar lahan dapat dengan cepat berubah menjadi api yang tidak terkendali.
Karena itu, petani dan pemilik lahan perlu menghindari pembakaran terbuka, khususnya ketika angin bertiup kencang. Jika pembukaan atau pembersihan lahan membutuhkan penggunaan api, langkah tersebut tidak boleh dilakukan secara sembarangan dan harus memperhatikan ketentuan serta kondisi lingkungan setempat.
Pemerintah juga perlu memperkuat pengawasan terhadap titik-titik yang memiliki potensi kebakaran, terutama kawasan yang berdekatan dengan permukiman, perkebunan, hutan dan lahan dengan vegetasi kering.
Peringatan ini sejalan dengan penjelasan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dalam Rakorsus Penanggulangan Karhutla pada Juni 2026. Ia mengingatkan seluruh pihak, termasuk masyarakat dan sektor swasta, agar tidak menggunakan pembakaran sebagai cara membuka lahan.
Api tidak selalu datang dari alam
Persoalan karhutla juga tidak semata-mata berkaitan dengan musim kemarau. Kondisi kering dan angin dapat memperbesar risiko serta mempercepat penyebaran api, tetapi sumber penyulut perlu ditelusuri.
Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof. Bambang Hero Saharjo, selama bertahun-tahun menekankan besarnya peran aktivitas manusia dalam kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Dalam sejumlah keterangannya, ia menyebut 99,9 persen kebakaran di Indonesia disebabkan aktivitas manusia, baik sengaja maupun akibat kelalaian.
Karena itu, musim kemarau seharusnya tidak hanya dibaca sebagai periode meningkatnya risiko kebakaran, tetapi juga sebagai momentum memperketat pencegahan.
Kebakaran di Bula menjadi contoh bahwa ketika lahan mengering, api dapat menjadi persoalan serius. Terlebih BMKG kini mencatat potensi kemudahan terbakar dan penyebaran api di sejumlah wilayah Maluku berada hingga kategori Sangat Tinggi.
Waspada bukan berarti panik
Masyarakat tidak perlu panik, tetapi perlu meningkatkan kewaspadaan. BMKG menyarankan perkembangan cuaca dan kondisi lingkungan terus dipantau karena indeks SPARTAN merupakan produk peringatan dini yang perlu digunakan sebagai salah satu rujukan mitigasi.
Masyarakat juga diminta tidak membakar sampah atau membersihkan lahan dengan api tanpa pengawasan. Sumber api yang ditinggalkan begitu saja dapat menjadi awal kebakaran, terutama ketika bahan bakar permukaan dalam kondisi kering.
Jika menemukan asap atau titik api, masyarakat sebaiknya segera melaporkannya kepada pemerintah desa/negeri, BPBD, pemadam kebakaran atau aparat terkait agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Sebab dalam situasi seperti ini, mencegah satu api menyala jauh lebih mudah daripada memadamkan api setelah ia menyebar.