Pulau Rambut, Benteng Terakhir Burung Air di Teluk Jakarta

Di Antara Mangrove dan Menara
10/02/2026
Caption: Cangak merah Kredit Foto: Burung Indonesia/Fahmy Abdul Aziz.

Jakarta, – pagi di Teluk Jakarta tak selalu identik dengan hiruk-pikuk kota. Di Pulau Rambut, sepetak daratan hijau di Kepulauan Seribu, angin asin menyapu hutan mangrove dan suara kepakan sayap burung air mengisi udara. Pulau kecil ini telah lama menjadi persinggahan penting burung migran, sekaligus rumah bagi beragam burung air yang masih bertahan di jantung ibu kota.

Sejak ditetapkan sebagai suaka margasatwa pada 1999, Pulau Rambut dikenal dengan mosaik habitatnya: mangrove, hutan pantai, dan hutan dataran rendah. Nilai ekologisnya diakui dunia, Pulau Rambut termasuk Daerah Penting bagi Burung dan Keanekaragaman Hayati (IBA) dan tercatat sebagai Situs Ramsar, kawasan lahan basah bernilai global bagi burung air dan burung migran.

Sabtu, 7 Februari, suasana pulau kembali dipenuhi aktivitas ilmiah. Burung Indonesia menggelar Asian Waterbird Census (AWC), bagian dari International Waterbird Census untuk memperbarui data populasi burung air sekaligus membuka ruang belajar bagi publik. Dua puluh peserta dibagi dalam tiga tim, menyisir titik-titik strategis: dermaga selatan, bird hide di timur, dan menara pengamatan di tengah pulau. Dari pukul 10.00 hingga 12.00 WIB, teropong dan buku catatan bekerja senyap.

Caption: Potret Pulau Rambut yang diambil dari udara menggunakan pesawat tanpa awak (drone). Kredit foto: Ist

Bangau Bluwok dan Ingatan yang Memudar

Dari hasil pengamatan, satu nama kembali mencuat: bangau bluwok (Mycteria cinerea), ikon Pulau Rambut. Spesies ini masih bersarang dan berbiak di pulau tersebut, namun statusnya genting. Menurut IUCN, bangau bluwok berstatus Endangered. Data BirdLife International memperkirakan populasinya tinggal sekitar 1.800 individu secara global, dengan tren menurun.

Bagi Merry Hemelda, salah satu peserta, angka-angka itu terasa personal. Ia mengenang 2011–2012, saat menara Pulau Rambut dipenuhi putihnya tubuh bangau dan kuntul. “Dulu kami sampai bingung mau mengamati yang mana. Sekarang, yang tampak justru hamparan hijau,” ujarnya, sebuah perbandingan sunyi tentang perubahan yang berlangsung pelan.

Caption: Peserta AWC 2026 Kredit Foto: Burung Indonesia/Fahmy Abdul Aziz.

Meski demikian, harapan belum sepenuhnya pudar. Pecuk-padi hitam (Phalacrocorax sulcirostris) masih kerap terlihat di pesisir, sementara burung migran seperti trinil pantai (Actitis hypoleucos) dan dara-laut kumis (Chlidonias hybrida) juga tercatat. Secara keseluruhan, 14 jenis burung air teridentifikasi, termasuk kowak-malam abu, kuntul kecil, kuntul besar, cangak abu, dan cangak merah.

Bagi Achmad Ridha Junaid, Biodiversity and Conservation Officer Burung Indonesia, pendataan burung lebih dari sekadar hitung-hitungan. “Burung adalah bioindikator. Untuk tahu lingkungan kita baik-baik saja atau tidak, kita perlu mengukur, salah satunya lewat perhitungan burung,” katanya.

Ridha menekankan keterkaitan darat–laut: pembukaan hutan memicu run off dan sedimentasi yang akhirnya merusak muara dan pesisir, ruang hidup burung air. Karena itu, AWC memadukan sains dan edukasi publik, agar pelestarian berdampak lebih luas.

Caption: Peserta AWC 2026 Kredit Foto: Burung Indonesia/Fahmy Abdul Aziz.

Dari Data ke Kebijakan

AWC bukan urusan segelintir pengamat. Data yang terkumpul menjadi rujukan pengelolaan kawasan konservasi, peninjauan status perlindungan spesies, penetapan dan penguatan Situs Ramsar, hingga dukungan bagi jalur migrasi East Asian–Australasian Flyway. Pelaksanaannya melibatkan banyak pihak, mulai kementerian terkait, lembaga lahan basah, komunitas pengamat burung, hingga yayasan lokal.

“Dengan pemantauan jangka panjang, jumlah, sebaran, dan komposisi spesies, AWC membantu membaca perubahan lahan basah akibat degradasi, pencemaran, dan tekanan pembangunan,” ujar Ridha. “Di situlah sains bertemu kebijakan, agar perlindungan lahan basah lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.”

Di Pulau Rambut, di antara mangrove dan menara, jejak-jejak burung air masih ada. Tugas kita memastikan jejak itu tak menghilang agar suatu pagi nanti, putihnya bangau kembali memenuhi langit Teluk Jakarta.

Caption: Peserta AWC 2026 Kredit Foto: Burung Indonesia/Fahmy Abdul Aziz.
error: Content is protected !!