“Kaka Guru” Menggugat Negara: Novel Cantika Muhrim Bongkar Ketimpangan Pendidikan di Timur Indonesia

by
23/04/2026
Caption: Cover Buku Kaka Guru, Foto: Ist

Jakarta, – Peluncuran novel “Kaka Guru” karya Cantika Muhrim bukan sekadar agenda literasi biasa. Dalam diskusi publik bertema “Rewriting the Meaning of Education” di Pos Bloc, 17 April 2026, karya ini justru menjadi kritik terbuka terhadap wajah pendidikan nasional yang dinilai masih timpang, terutama di kawasan Indonesia Timur.

Melalui novel tersebut, Cantika mengangkat realitas pendidikan di Maluku dan wilayah timur lainnya yang masih bergulat dengan keterbatasan akses, minimnya distribusi guru, hingga kelangkaan bahan bacaan. Pendiri Skolarasa.id ini menegaskan bahwa sistem pendidikan formal belum sepenuhnya menjangkau anak-anak di daerah terpencil.

“Kita tidak bisa terus menunggu sistem berubah. ‘Kaka Guru’ adalah simbol bahwa siapa pun bisa menjadi pengajar, kakak, teman, atau pemuda di sekitar. Kelas alternatif bukan pilihan kedua, tapi solusi nyata,” tegas Cantika di hadapan peserta diskusi.

Caption: Diskusi publik peluncuran buku “Rewriting the Meaning of Education” oleh Cantika Muhrim di Pos Bloc, 17 April 2026, Foto: Ist

Kelas Alternatif: Solusi atau Tambal Sulam?

Berbeda dari pendekatan pendidikan konvensional, novel ini mendorong lahirnya kelas-kelas alternatif berbasis komunitas. Model ini dinilai lebih fleksibel dan kontekstual, menyesuaikan dengan kondisi sosial masyarakat setempat.
Namun, di balik optimisme itu, muncul pertanyaan kritis: apakah gerakan komunitas mampu menggantikan peran negara?.

Dalam diskusi, para peserta sepakat bahwa kelas alternatif hanyalah respons darurat terhadap kegagalan pemerataan pendidikan. Tanpa intervensi kebijakan yang kuat, inisiatif akar rumput berisiko menjadi solusi jangka pendek yang tidak berkelanjutan.

 

Literasi di Timur: Semangat Tinggi, Akses Minim

Fakta di lapangan menunjukkan paradoks: minat belajar anak-anak di Indonesia Timur tergolong tinggi, tetapi tidak diimbangi dengan fasilitas yang memadai. Buku masih sulit dijangkau, tenaga pendidik terbatas, dan infrastruktur pendidikan belum merata.

Bunga Elly, pendiri komunitas Pesona Kaitetu selaku penyelenggara acara, menegaskan bahwa persoalan pendidikan tidak bisa dibebankan hanya pada pemerintah.
“Ini tanggung jawab bersama. Karena itu kami buka ruang ini gratis, agar siapa pun bisa terlibat dan melihat bahwa perubahan bisa dimulai dari komunitas,” ujarnya.
Gerakan Pemuda Jadi Kunci
Peluncuran “Kaka Guru” juga menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam menjembatani kesenjangan pendidikan. Gerakan literasi berbasis komunitas dinilai mampu menjangkau wilayah-wilayah yang luput dari perhatian negara.

Novel ini sekaligus menjadi seruan moral: bahwa pendidikan tidak boleh eksklusif, dan akses belajar harus hadir di mana pun anak-anak berada.

Lebih dari sekadar karya sastra, “Kaka Guru” diposisikan sebagai alat advokasi sosial. Cantika berharap novel ini bisa menggerakkan lebih banyak pemuda untuk terlibat langsung dalam pendidikan alternatif.

Pesan yang diusung sederhana namun tajam: perubahan besar tidak selalu lahir dari kebijakan pusat, tetapi bisa dimulai dari ruang-ruang kecil yang dihidupkan oleh kepedulian.
Peluncuran ini pun menjadi refleksi keras bagi semua pihak, bahwa di tengah narasi kemajuan pendidikan nasional, masih ada wilayah yang tertinggal dan membutuhkan perhatian serius, bukan sekadar wacana.

error: Content is protected !!