Piru,– Desa Kairatu di Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, perlahan menunjukkan tanda-tanda kebangkitan ekonomi pesisir. Bukan melalui proyek besar berskala industri, melainkan lewat kolaborasi sederhana namun tepat sasaran antara komunitas lokal dan dukungan internasional.
Melalui program bantuan Direct Aid Program (DAP), Konsulat-Jenderal Australia di Makassar menggandeng Yayasan Sauwa Sejahtera Maluku untuk mendorong penguatan sektor perikanan ramah lingkungan sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir.
Program ini hadir sebagai respons atas persoalan klasik yang dihadapi nelayan Kairatu: potensi laut yang melimpah, namun hasil tangkapan yang tidak sebanding. Metode penangkapan tradisional yang masih digunakan selama ini dinilai belum mampu menjangkau sumber ikan secara optimal.

Rumpon Jadi Titik Balik
Sebagai solusi, program ini memperkenalkan penggunaan rumpon ramah lingkungan kepada 10 kelompok nelayan. Alat bantu sederhana ini berfungsi mengumpulkan ikan pada satu titik, sehingga memudahkan proses penangkapan tanpa merusak ekosistem laut.
Pendekatan ini terbukti efektif. Nelayan mulai merasakan peningkatan hasil tangkapan, sekaligus memahami pentingnya menjaga keberlanjutan sumber daya laut.
Konsul-Jenderal Australia di Makassar, Todd Dias, menilai proyek ini sebagai contoh konkret bagaimana inovasi kecil dapat memberikan dampak besar.
“Proyek ini menarik karena menggabungkan inovasi ramah lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat. Kami juga bangga karena perempuan turut dilibatkan untuk memperkuat ekonomi keluarga,” ujarnya saat meninjau langsung kegiatan di Kairatu.
Perempuan Pesisir Ambil Peran
Tidak hanya fokus pada nelayan, program ini juga menyasar perempuan sebagai aktor penting dalam rantai ekonomi. Melalui pelatihan, mereka diajarkan mengolah hasil tangkapan menjadi produk bernilai tambah seperti abon ikan dan bakso ikan.
Langkah ini mengubah pola ekonomi masyarakat dari sekadar menjual ikan mentah menjadi usaha olahan yang lebih menguntungkan dan berkelanjutan.
Bagi warga, perubahan ini terasa nyata. Ibu Martha, salah satu penerima manfaat, mengaku kini memiliki sumber penghasilan tambahan dari hasil olahan ikan.
“Hasil tangkap suami saya meningkat, dan saya bisa mengolahnya jadi abon dan bakso untuk dijual. Ini sangat membantu ekonomi keluarga,” ungkapnya.
Program ini tidak dijalankan secara instan. Tahapan dimulai dari sosialisasi, pembentukan kelompok nelayan, distribusi rumpon, hingga pelatihan pengolahan hasil laut. Evaluasi rutin juga dilakukan untuk memastikan keberlanjutan dan efektivitas program.
Pendekatan ini dinilai penting agar masyarakat tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi juga mampu mandiri dalam jangka panjang.
Model Kolaborasi yang Relevan
Kairatu kini menjadi contoh bagaimana kolaborasi antara lembaga internasional dan komunitas lokal dapat menciptakan solusi yang kontekstual. Fokus pada perikanan ramah lingkungan dan pemberdayaan perempuan menunjukkan bahwa pembangunan pesisir tidak harus eksploitatif, tetapi bisa berkelanjutan.
Di tengah tantangan ketahanan pangan dan ekonomi di wilayah timur Indonesia, model seperti ini dinilai relevan untuk direplikasi di daerah lain.
Lebih dari sekadar bantuan, program ini membawa pesan penting: bahwa harapan masyarakat pesisir dapat tumbuh ketika pengetahuan, teknologi sederhana, dan kemitraan yang tepat bertemu dalam satu tujuan, untuk kesejahteraan bersama.