Christin Pesiwarissa, Jurnalis titastory.id
Ambon, – Malam baru saja turun di perairan Maluku ketika radio komunikasi di Kantor SAR Ambon berdering. Sebuah perahu nelayan dilaporkan terbalik dihantam gelombang di perairan antara Pulau Haruku dan Ambon. Dua orang nelayan belum ditemukan.
Cuaca buruk. Gelombang tinggi. Jarak pandang terbatas.
Namun, bagi tim Basarnas, kondisi seperti itu bukan alasan untuk menunggu pagi. Justru saat itulah operasi dimulai.
Tak lama setelah laporan diterima, sebuah kapal rescue bergerak meninggalkan dermaga Ambon. Lampu sorot menembus gelap laut. Mesin kapal meraung melawan ombak.
Di atas geladak, beberapa personel mengenakan seragam oranye khas Basarnas—warna yang bagi banyak orang di wilayah kepulauan Indonesia telah menjadi simbol harapan.
Di tengah gelombang malam itu, mereka mulai menyisir laut.

“Dalam operasi seperti ini, setiap menit sangat berarti,” kata Kepala Kantor SAR Ambon Muhamad Arafah, usai acara peringatan HUT ke-54 Basarnas di Aula Kantor SAR Ambon pada Senin, 2 Maret 2026.
Laut yang Indah, Tapi Tak Selalu Ramah
Maluku dikenal sebagai provinsi kepulauan. Lebih dari 90 persen wilayahnya adalah laut. Pulau-pulau tersebar luas, sebagian terpencil, sebagian hanya bisa dijangkau dengan perahu kecil.
Di satu sisi, laut menjadi sumber kehidupan bagi ribuan nelayan. Di sisi lain, laut juga menyimpan bahaya yang tak selalu bisa diprediksi.
Cuaca bisa berubah cepat. Gelombang tinggi bisa datang tiba-tiba. Perahu kecil sering kali tidak mampu melawan alam.
Dalam kondisi seperti itulah Basarnas menjadi garda terakhir penyelamatan.
“Operasi SAR di Maluku berbeda dengan banyak daerah lain di Indonesia,” kata Arafah.
“Wilayah lautnya luas, jarak antarpulau jauh, dan cuaca bisa berubah dengan sangat cepat.”
Pencarian yang Tak Selalu Mudah
Dalam satu operasi beberapa waktu lalu, tim SAR Ambon harus mencari seorang nelayan yang hilang setelah perahunya tenggelam di perairan Seram.
Pencarian dimulai sejak pagi. Kapal SAR menyisir laut bersama nelayan setempat yang ikut membantu.
Jam demi jam berlalu.
Sinar matahari mulai turun ketika seorang anggota tim melihat sesuatu mengapung di kejauhan.
Sebuah papan kayu.
Ketika kapal mendekat, terlihat seorang pria berpegangan pada potongan perahu yang pecah.
Ia masih hidup.
Sorak lega pecah di kapal SAR.
“Momennya selalu luar biasa,” kata Arafah. “Ketika korban ditemukan hidup, semua rasa lelah langsung hilang.”
Bekerja Saat Orang Lain Menghindari Bahaya
Bagi personel Basarnas, pekerjaan mereka sering dimulai ketika orang lain justru menjauh dari bahaya.
Ketika kapal tenggelam.
Ketika nelayan hilang.
Ketika pesawat jatuh.
Ketika bencana alam datang.
Di saat seperti itu, tim SAR bergerak.
Tidak jarang operasi berlangsung berhari-hari di laut terbuka. Personel harus menghadapi ombak tinggi, kelelahan, dan tekanan mental.
Namun, mereka tetap bertahan
“Setiap operasi selalu ada keluarga yang menunggu kabar,” kata Arafah.
“Dan itu yang membuat kami terus mencari.”
Di balik keberhasilan operasi penyelamatan, ada risiko yang tidak kecil.
Bekerja di laut dengan cuaca buruk selalu berbahaya.
Beberapa personel Basarnas bahkan kehilangan nyawa dalam tugas.
Karena itu, setiap peringatan ulang tahun Basarnas selalu diisi dengan penghormatan kepada mereka yang telah gugur.
Pada peringatan HUT ke-54 Basarnas di Kantor SAR Ambon, Senin, 2 Maret 2026, suasana sempat hening ketika keluarga personel yang telah meninggal dunia menerima tali asih dari kantor SAR.
“Mereka adalah bagian dari sejarah kami,” kata Arafah.
“Semangat mereka terus hidup dalam setiap operasi penyelamatan.”
Operasi di Wilayah yang Luas
Wilayah kerja SAR Ambon mencakup perairan yang sangat luas: Ambon, Seram, Buru, hingga pulau-pulau kecil yang tersebar di Maluku.
Dalam kondisi darurat, tim SAR harus bergerak cepat menempuh jarak ratusan kilometer di laut.
Karena itu, koordinasi menjadi kunci.
Basarnas bekerja bersama TNI, Polri, pemerintah daerah, nelayan, hingga masyarakat pesisir.
Sering kali nelayan lokal menjadi pihak pertama yang membantu pencarian sebelum tim SAR tiba.
Melatih Diri untuk Siaga
Di luar operasi penyelamatan, personel Basarnas juga terus melatih kemampuan mereka.
Latihan renang laut, teknik penyelamatan, navigasi, hingga simulasi evakuasi menjadi bagian dari rutinitas.
Kantor SAR Ambon juga melakukan kegiatan sosial seperti donor darah dan penanaman mangrove di wilayah pesisir.
Bagi para rescuer, latihan bukan sekadar formalitas.
Itu adalah cara untuk memastikan mereka siap ketika panggilan darurat datang.
Simbol Harapan
Bagi masyarakat yang pernah diselamatkan, seragam oranye Basarnas memiliki makna tersendiri.
Di tengah laut yang gelap, atau di tengah reruntuhan bencana, warna oranye itu sering menjadi tanda bahwa bantuan telah datang.
“Basarnas bukan hanya tentang organisasi,” kata Arafah.
“Ini tentang kemanusiaan.”
Malam di laut Maluku akhirnya mulai tenang.
Operasi pencarian nelayan yang hilang tadi malam berakhir dengan satu korban yang ditemukan selamat.
Tim SAR kembali ke dermaga.
Namun bagi korps baju oranye itu, tugas tidak pernah benar-benar selesai.
Karena di laut yang luas ini, selalu ada kemungkinan seseorang membutuhkan pertolongan.
“Selama masih ada yang hilang,” kata Arafah,
“Kami akan terus mencari.”