HUT ke-54 Basarnas, Korps Baju Oranye Refleksikan Pengabdian di Laut Maluku

by
04/03/2026
Caption: Resepsi HUT perayaan ulang tahun ke-54 Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Ambon, Foto: Basarnas Ambon

Ambon, — Aula Kantor SAR Ambon pada Senin, 2 Maret 2026, tak sekadar menjadi ruang perayaan ulang tahun ke-54 Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas). Bagi para personel korps “Baju Oranye Baret Hitam”, momen ini menjadi ruang refleksi atas tugas panjang menyelamatkan nyawa di wilayah kepulauan Maluku yang penuh tantangan.

Di provinsi yang lebih dari 90 persen wilayahnya berupa laut, panggilan darurat sering datang dari tempat-tempat yang jauh, terpencil, dan tak jarang dalam kondisi cuaca ekstrem.

Kepala Kantor SAR Ambon , Muhamad Arafah , mengatakan tugas pencarian dan pertolongan di Maluku memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia.

Caption: Perayaan ulang tahun ke-54 Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Ambon, Foto:Basarnas Ambon

“Maluku memiliki tantangan luar biasa, mulai dari luasnya wilayah laut hingga kondisi cuaca yang cepat berubah. Karena itu, kami harus memastikan setiap laporan darurat, dari pulau-pulau kecil sekalipun, dapat direspons dengan cepat,” kata Arafah.

Menurut dia, usia 54 tahun menjadi momentum bagi Basarnas untuk terus memperkuat kesiapsiagaan personel dan kemampuan operasional, terutama dalam menghadapi kondisi geografis kepulauan.

 

Pengabdian di Garis Bahaya

Bagi personel Basarnas, tugas penyelamatan sering kali berarti bekerja ketika orang lain justru menjauh dari bahaya.

Mulai dari pencarian korban kapal tenggelam, nelayan hilang, hingga evakuasi saat bencana alam, operasi SAR menuntut kesiapan fisik, mental, serta koordinasi yang cepat.

“Kami bekerja saat situasi berbahaya. Karena itu, kami selalu mengingatkan personel bahwa tugas ini bukan sekadar pekerjaan, tetapi panggilan kemanusiaan,” ujar Arafah.

Dalam peringatan ulang tahun tersebut, Kantor SAR Ambon juga memberikan penghormatan kepada anggota yang telah meninggal dunia saat menjalankan tugas.

Penyerahan tali asih kepada keluarga personel menjadi pengingat bahwa pengabdian di dunia SAR sering kali dibayar dengan risiko besar.

“Mereka adalah bagian dari sejarah Basarnas. Semangat mereka menjadi pengingat bagi kami untuk terus menjalankan tugas kemanusiaan ini,” kata Arafah.

Sepanjang tahun terakhir, operasi pencarian dan pertolongan di wilayah kerja SAR Ambon mencakup berbagai kejadian di perairan Maluku, mulai dari kecelakaan kapal hingga orang hilang di laut.

Wilayah operasi yang luas membuat koordinasi dengan berbagai pihak menjadi kunci keberhasilan.

Basarnas Ambon bekerja sama dengan TNI, Polri, pemerintah daerah, hingga masyarakat pesisir untuk memastikan setiap operasi penyelamatan dapat berjalan efektif.

Selain operasi penyelamatan, Kantor SAR Ambon juga melakukan berbagai kegiatan penguatan kapasitas personel, termasuk latihan keterampilan, donor darah, serta kegiatan lingkungan seperti penanaman mangrove di wilayah pesisir.

Peringatan HUT ke-54 Basarnas di Ambon ditutup dengan doa bersama dan buka puasa, sederhana namun sarat makna.

Bagi para personel Basarnas, seragam oranye bukan hanya simbol organisasi, tetapi juga lambang tanggung jawab untuk memastikan tidak ada nyawa yang terabaikan, terutama di wilayah kepulauan yang luas seperti Maluku.

“Selama masih ada panggilan darurat, kami akan terus bergerak. Itulah komitmen kami sebagai insan SAR,” kata Arafah.

Penulis: Christin Pesiwarissa
error: Content is protected !!