Main Korek Api Berujung Petaka, Tempat Penimbangan Besi Tua di Ahuru Ludes Terbakar

07/06/2026
Caption: Petugas Damkar Ambon yang berjibaku dalam kepulan asap dan puing-puing kebakaran, Foto: Ist

Ambon, — Kesunyian sore di kawasan Ahuru, Kota Ambon, mendadak berubah menjadi kepanikan ketika kobaran api membumbung tinggi dari sebuah tempat penimbangan besi tua di Jalan Arbes, RT 004/RW 016, Sabtu (6/6/2026).

Dalam hitungan menit, api melalap bangunan usaha milik Mas Yanti hingga nyaris tak tersisa. Asap hitam pekat membubung ke langit, sementara warga sekitar berhamburan keluar rumah menyaksikan kebakaran yang terus membesar.

Ironisnya, musibah tersebut diduga bermula dari hal sepele: permainan korek api yang dilakukan seorang anak.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Ambon, Alfredo Hehamahua, mengatakan kebakaran terjadi saat aktivitas di lokasi relatif sepi. Para pekerja diketahui sedang meninggalkan area usaha untuk melaksanakan ibadah Salat Asar.

Caption: Upaya pemadaman oleh Tim Damkar Ambon, Foto: Ist

“Berdasarkan informasi yang kami terima di lapangan, anak pemilik lokasi diduga sedang bermain korek api. Percikan api kemudian menyambar material yang mudah terbakar di sekitar tempat penimbangan besi tua sehingga api dengan cepat membesar,” kata Alfredo kepada titastory.id, Sabtu malam.

Material yang menumpuk di lokasi membuat api dengan mudah menjalar ke seluruh area penimbangan. Dalam waktu singkat, kobaran api menguasai bangunan dan mengancam permukiman warga yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian.

Laporan pertama mengenai kebakaran diterima Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Ambon sekitar pukul 16.25 WIT. Menyadari potensi bahaya yang dapat meluas, petugas segera mengerahkan armada menuju lokasi.

Hanya enam menit setelah laporan diterima, armada pertama tiba di lokasi pada pukul 16.31 WIT dan langsung melakukan upaya lokalisasi guna mencegah api merembet ke rumah-rumah penduduk.

“Response time kami sekitar enam menit sejak laporan masuk. Prioritas pertama adalah mengisolasi titik api agar tidak menjalar ke kawasan permukiman,” ujar Alfredo.

Besarnya kobaran api membuat Dinas Pemadam Kebakaran mengerahkan kekuatan penuh. Sedikitnya lima unit mobil pemadam kebakaran diterjunkan ke lokasi.

Tiga armada berasal dari Pos Komando Utama dengan dukungan 15 personel. Sementara Pos Passo mengirim satu unit mobil pemadam bersama delapan personel, dan Pos Hative turut mengerahkan satu armada dengan delapan personel tambahan.

Operasi pemadaman dipimpin oleh personel Platon B dan diperkuat oleh anggota dari Platon A serta Platon C.

Petugas harus berjibaku selama berjam-jam untuk mengendalikan kobaran api yang terus menyala di antara tumpukan material bekas dan barang-barang mudah terbakar lainnya.

Proses pemadaman, pembersihan, hingga pendinginan baru dinyatakan selesai sekitar pukul 22.45 WIT atau hampir enam jam setelah kebakaran terjadi.

Meski kebakaran berlangsung cukup besar, tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam peristiwa tersebut. Namun, kerugian material yang dialami pemilik usaha diperkirakan cukup signifikan.

Selain menghanguskan bangunan tempat penimbangan besi tua, api juga membakar berbagai peralatan usaha, material yang tersimpan di lokasi, serta sejumlah uang tunai yang berada di dalam bangunan saat kebakaran terjadi.

“Syukurnya tidak ada korban jiwa. Namun kerugian materi diperkirakan berkisar antara Rp50 juta hingga Rp70 juta,” kata Alfredo.

Peristiwa ini kembali menjadi pengingat pentingnya pengawasan terhadap anak-anak, terutama ketika berada di lingkungan yang menyimpan material mudah terbakar. Sebab, kelalaian kecil dapat berubah menjadi bencana besar yang menghanguskan harta benda dalam waktu singkat.

Hingga kini, pihak berwenang masih melakukan pendataan lanjutan untuk memastikan total kerugian akibat kebakaran tersebut.

error: Content is protected !!