Ambon, — Penggunaan sejumlah instrumen nontradisional dalam lomba jukulele tingkat Kecamatan Leitimur Selatan mendapat sorotan dari dewan juri. Kreativitas peserta dalam memadukan ukulele dengan alat musik lain dinilai perlu mempertahankan karakter dan identitas musik Maluku.
Catatan itu disampaikan anggota dewan juri, Rence Alfons, seusai penampilan peserta lomba jukulele yang berlangsung di Aula RRI Ambon, Rabu (12/8/2026).
Alfons menilai penggunaan instrumen tambahan tidak semestinya menggeser keberadaan alat musik tradisional Maluku. Menurut dia, kreativitas dalam bermusik tetap perlu mempertimbangkan konteks budaya yang menjadi dasar penyelenggaraan lomba.
Ia menyoroti salah satu peserta yang menggunakan gahon dalam penampilannya.

“Ada peserta yang menggunakan gahon. Pertanyaannya, gahon itu alat musik asli Maluku?” kata Alfons.
Menurut Alfons, gahon bukan instrumen yang berasal dari tradisi musik Maluku. Ia mengaitkan sejarah alat tersebut dengan Afrika dan kreativitas masyarakat yang memanfaatkan peti sebagai sumber bunyi.
Sorotan serupa disampaikan terhadap penggunaan pianika. Alfons menyebut instrumen tersebut sebagai alat musik modern yang berkembang di luar tradisi musik Maluku.
“Sebuah produk alat musik piano yang dikecilkan, karena Jepang terkenal dengan teknik bonsai,” ujarnya.
Bagi Alfons, persoalannya bukan semata-mata soal boleh atau tidaknya menggunakan alat musik dari luar Maluku. Yang lebih penting adalah bagaimana perkembangan musik lokal tetap memiliki akar budaya yang kuat.
Ia mengkritik kecenderungan penggunaan alat musik modern dalam dunia pendidikan dan pertunjukan, sementara instrumen tradisional seperti tifa dan suling bambu khas Maluku dinilai semakin kurang mendapat perhatian.
“Sebuah kemirisan dunia pendidikan di Indonesia yang lebih tertarik pada alat musik buatan bangsa lain, sedangkan tifa dan suling bambu, khas Maluku seolah ingin ditinggalkan,” katanya.
Kreativitas Tetap Berbasis Budaya
Sorotan dewan juri tersebut sejalan dengan harapan Direktur Ambon Music Office (AMO), Rony Loppies, agar peserta lomba jukulele terus mengembangkan inovasi yang berangkat dari budaya masing-masing negeri.
Rony menilai kualitas lomba jukulele di Kecamatan Leitimur Selatan mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Namun, perkembangan tersebut diharapkan tidak berhenti pada aspek teknis dan penampilan.
“Harapannya ada semacam inovasi yang berbasis pada budaya masing-masing negeri yang tampil,” ujarnya.
Menurut Rony, perbedaan gaya, teknik permainan, hingga karakter musik antarnegeri merupakan kekayaan yang dapat menjadi keunggulan Leitimur Selatan.
Keragaman itu, kata dia, dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan identitas budaya setiap negeri kepada masyarakat yang lebih luas.
Inang Heru Kembali Juara
Dalam lomba tersebut, Inang Heru Jukulele dari Negeri Hatalai keluar sebagai juara pertama. Kelompok musik dari negeri yang bergelar Silawanabessy itu tampil dengan 22 personel dan berhasil mempertahankan gelar juara.
Dengan kemenangan tersebut, Inang Heru Jukulele akan mewakili Kecamatan Leitimur Selatan dalam lomba jukulele tingkat Kota Ambon.
Posisi kedua diraih Lopurissa Jukulele dari Negeri Rutong, sedangkan Jukulele Huaressy dari Negeri Ema menempati posisi ketiga.
Lomba ukulele tersebut merupakan agenda tahunan yang menjadi bagian dari upaya menjaga ekosistem musik Kota Ambon sekaligus memperkuat identitas Ambon sebagai Kota Musik Dunia.
Namun, bagi dewan juri dan pengelola musik Kota Ambon, perkembangan jukulele tidak hanya menyangkut kreativitas dan kualitas pertunjukan. Identitas budaya serta keberadaan instrumen tradisional Maluku juga dinilai penting agar inovasi musik tetap memiliki akar yang jelas.