Fundamental Rapuh, Waspada Rupiah Tergelincir

Rupiah Terus Melemah dan Nyaris Tembus Rp17.000 per Dolar AS
by
05/04/2026
Grafik nilai tukar saat ini untuk dolar Indonesia pada hari ini, Minggu, 5 April 2026, AS ke rupiah In adalah Rp 16.992. Sumber: Google

Jakarta — Nilai tukar rupiah yang terus melemah nyaris menembus angka Rp17.000 per dolar Amerika Serikat memicu sorotan terhadap klaim pemerintah dan Bank Indonesia mengenai kuatnya fundamental ekonomi nasional.

Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan, menilai pelemahan rupiah mencerminkan rapuhnya struktur ekonomi Indonesia yang selama ini ditopang oleh utang luar negeri.

“Selama ini pemerintah menyebut fundamental ekonomi kuat, bahkan menyatakan rupiah seharusnya menguat. Tapi fakta di lapangan justru sebaliknya: rupiah terus tergelincir,” kata Anthony dalam keterangannya, Sabtu, 4 April 2026.

Anthony menjelaskan bahwa cadangan devisa Indonesia memang mengalami kenaikan dalam satu dekade terakhir. Namun, peningkatan tersebut dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan kekuatan ekonomi riil.

Berdasarkan data yang dihimpun, cadangan devisa naik dari US$111,9 miliar pada 2014 menjadi US$156,5 miliar pada 2025, atau bertambah sekitar US$44,6 miliar.

Di sisi lain, utang luar negeri meningkat jauh lebih besar, yakni dari US$292 miliar menjadi US$431,7 miliar dalam periode yang sama.

“Artinya, kenaikan cadangan devisa itu sebagian besar berasal dari utang. Bahkan hanya sekitar 32 persen yang benar-benar masuk sebagai cadangan, sisanya habis untuk menutup defisit,” ujarnya.

Menurut dia, kondisi ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan dalam neraca pembayaran, terutama pada defisit pendapatan primer yang akumulasinya mencapai ratusan miliar dolar AS.

Ilustrasi visual struktur rapuh dibalik devisa tinggi

Risiko Tekanan dari Investasi Asing

Anthony juga menyoroti peran investasi asing langsung (FDI) yang selama ini dianggap sebagai penopang ekonomi.

Meski nilainya mencapai US$241,9 miliar, ia menilai FDI tidak serta-merta memperkuat fundamental ekonomi dalam jangka panjang.

“Dalam jangka menengah dan panjang, FDI justru bisa menambah tekanan karena menghasilkan kewajiban pembayaran ke luar negeri, sehingga memperbesar defisit,” katanya.

Selain faktor domestik, tekanan terhadap rupiah juga berpotensi meningkat akibat dinamika global, termasuk konflik geopolitik di Timur Tengah.

Anthony mengingatkan bahwa eskalasi konflik, seperti ketegangan antara Iran dan negara-negara Barat, dapat memicu arus keluar modal (capital outflow) dari negara berkembang.

“Kalau terjadi capital outflow besar, rupiah bisa tertekan lebih dalam. Investor akan mencari aset yang lebih aman,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa tanpa pembenahan struktural dalam pengelolaan ekonomi dan pengurangan ketergantungan terhadap utang luar negeri, risiko pelemahan rupiah akan terus berlanjut.

“Kalau tidak ada reformasi, gelembung utang ini bisa pecah. Dampaknya bukan hanya ke rupiah, tapi bisa memicu krisis nilai tukar,” kata Anthony.

error: Content is protected !!