Ambon, — Sebelum musik ditabuh, sebelum panggung dipenuhi warna, dan sebelum orang-orang datang membawa cerita masing-masing, Festival Marawai telah lebih dahulu dimulai dari sesuatu yang sederhana: masohi.
Di Bukit Marawai, Negeri Hatalai, Kecamatan Leitimur Selatan, Jumat, 21 Agustus 2026, semangat kebersamaan itu terlihat dari aktivitas warga yang bergotong royong mempersiapkan lokasi menjelang Festival Marawai yang akan berlangsung pada 25 Agustus.
Tangan-tangan warga bekerja dalam satu irama. Ada yang membersihkan lingkungan, menata tempat, hingga menyiapkan berbagai kebutuhan kegiatan.
Tak ada panggung dalam pekerjaan itu. Tak ada tepuk tangan. Namun, justru di sanalah wajah Festival Marawai mulai terlihat.

Bagi masyarakat Maluku, masohi bukan sekadar bekerja bersama. Ia adalah cara menjaga hubungan dan merawat kebersamaan—sebuah keyakinan bahwa pekerjaan yang berat tidak harus dipikul seorang diri.
Di tanah Silawanebessy, semangat itu kembali menemukan ruangnya.
Festival Marawai dijadwalkan berlangsung pada 25 Agustus 2026 di Bukit Marawai, Negeri Hatalai, dengan agenda pentas seni budaya dan pameran kuliner.
Namun, festival ini tidak semata-mata hendak menghadirkan kemeriahan.
Penanggung jawab utama kegiatan, Jhonatan Kainama, mengatakan budaya merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat karena menjadi identitas yang harus terus dijaga.
“Budaya adalah identitas,” ujar Jhonatan.

Menurut dia, budaya tidak boleh berhenti sebagai sesuatu yang sekadar dikenang. Budaya harus terus dihidupkan, dipraktikkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Karena itu, Festival Marawai diharapkan menjadi ruang perjumpaan masyarakat—tempat orang-orang berkumpul sebagai saudara, sekaligus memperkenalkan kekayaan seni, tradisi, dan kuliner Maluku.
Di Marawai, budaya tidak hanya akan hadir di atas panggung.
Ia hadir dalam kuliner yang membawa cerita tentang dapur dan keluarga. Dalam seni yang menyimpan ingatan leluhur. Dalam parang dan salawaku yang menjadi bagian dari simbol serta sejarah masyarakat. Juga dalam perjumpaan antarmanusia yang menjadi kekuatan utama sebuah negeri.
Bagi Jhonatan, memberikan ruang kepada budaya berarti memberikan ruang kepada masyarakat untuk mengenali kembali dirinya sendiri.
Sebab, ketika sebuah masyarakat kehilangan hubungan dengan budayanya, perlahan mereka dapat kehilangan bagian dari identitasnya.
Karena itu, persiapan Festival Marawai sejak beberapa hari sebelumnya menjadi bagian penting dari keseluruhan cerita.
Warga tidak sekadar menyiapkan sebuah kegiatan. Mereka sedang membangun sebuah ruang bersama.
Masohi menjadi fondasinya.
Kebersamaan menjadi jiwanya.
Budaya menjadi identitas yang hendak dirayakan.
Dari Bukit Marawai, cerita itu akan mencapai puncaknya pada 25 Agustus nanti. Ketika masyarakat berkumpul, seni dan budaya ditampilkan, serta kuliner negeri dihidangkan, Marawai diharapkan menjadi lebih dari sekadar sebuah festival.
Ia menjadi ruang untuk kembali saling mengenal.
Ruang untuk berbagi.
Ruang untuk merawat ingatan.
Dan terutama, ruang untuk berkumpulnya saudara.
Sebab Marawai tidak hanya lahir dari panggung yang dibangun. Ia lahir dari tangan-tangan yang bekerja bersama, dari Masohi yang masih hidup, dan dari keyakinan bahwa budaya adalah identitas yang harus terus diwariskan.
Di tanah Silawanebessy, sebelum pesta dimulai, masyarakat telah lebih dahulu menunjukkan makna sesungguhnya dari sebuah perayaan:
Katong bakumpul, Katong baku bantu, Katong tetap orang sudara.