Festival Kor’a Inasua 2026, Tradisi Pesisir Didorong Jadi Pilar Konservasi Laut

by
14/04/2026
Caption: Seka Tena, Tarian Tradisional asal TNS, yang ditampilkan untuk membuka Festival Inasua Kor‘a, Foto: Ist

Maluku Tengah, — Festival Kor’a Inasua yang digelar di Kecamatan Teon Nila Serua (TNS), Maluku Tengah, pada 10–11 April 2026, menegaskan kembali peran tradisi lokal sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan ekosistem laut.

Kegiatan ini mengangkat Inasua, kuliner ikan fermentasi khas masyarakat TNS yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2015. Selain menjadi identitas budaya, Inasua juga mencerminkan pengetahuan lokal dalam mengelola sumber pangan laut secara berkelanjutan.

Bupati Maluku Tengah, Zulkarnain Awat Amir, mengatakan bahwa hubungan antara budaya dan lingkungan tidak dapat dipisahkan, khususnya bagi masyarakat pesisir.

Caption: Inasua, Produk Kuliner Tradisional TNS berbahan dasar Ikan yang difermentasi, Foto: Ist.

“Inasua adalah identitas masyarakat TNS. Menjaga laut berarti menjaga keberlanjutan budaya dan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Ketua Badan Latupati Kecamatan TNS, Natanel Tuakora. Ia menekankan bahwa nilai-nilai adat telah lama mengajarkan prinsip keseimbangan dalam pemanfaatan sumber daya alam.

“Masyarakat diajarkan mengambil secukupnya agar laut tetap memberi kehidupan bagi generasi berikutnya,” kata Tuakora.

Festival ini juga menjadi ruang pemberdayaan masyarakat, terutama kelompok perempuan. Sejumlah pelatihan diberikan, mulai dari peningkatan kualitas produksi berbasis higienitas dan keamanan pangan, literasi keuangan, hingga strategi pemasaran produk olahan berbasis Inasua.

Generasi muda dilibatkan melalui kegiatan kreatif seperti lomba konten media sosial dan edukasi konservasi, guna menanamkan kesadaran lingkungan sekaligus kebanggaan terhadap budaya lokal.

 

Pendekatan Budaya dalam Konservasi

Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) turut terlibat sebagai mitra dalam kegiatan ini. Direktur Program Kelautan YKAN, Muhammad Ilman, menilai praktik tradisional seperti Inasua sejalan dengan prinsip konservasi modern.

“Ketika masyarakat menjaga tradisinya, mereka sekaligus menjaga ekosistem laut. Pendekatan berbasis budaya terbukti efektif dalam membangun kesadaran kolektif,” ujarnya.

Ia menambahkan, penggunaan ikan seperti ikan babi atau gindara dalam pembuatan Inasua mencerminkan efisiensi pemanfaatan sumber daya laut.

Camat TNS, Ronald Wonmaly, berharap festival ini dapat memperkuat kolaborasi antara pemerintah, masyarakat adat, dan mitra pembangunan dalam menjaga laut sekaligus melestarikan budaya.

Festival Kor’a Inasua menjadi penanda bahwa upaya konservasi tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, tetapi juga dari praktik sederhana yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat.

Penulis: Christin Pesiwarissa
error: Content is protected !!