Ambon, – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral tengah menggenjot proyek pembangunan Pembangkit Listrik Panas Bumi (PLTP) sebesar 5,2 gigawatt di Indonesia.
Dalam dokumen Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 disebutkan dua Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) yang masuk prioritas pembangunan itu berada di Provinsi Maluku. Di antaranya,WKP Banda Baru di Desa Sepa, Pulau Seram sebesar 25 MW dan WKP Wapsalit di Pulau Buru sebesar 20 MW.
Sebelumnya, WKP Tulehu sebesar 20 MW sudah dibangun sejak dua dekade lalu, kini menunggu dikomersialkan. Lokasi PLTP di Maluku berada di wilayah pesisir dan merupakan pulau kecil.
Berdasarkan Undang-Undang No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (UU PWP3K), wilayah dengan luas di bawah 2.000 kilometer persegi seharusnya diprioritaskan untuk fungsi konservasi dan pemanfaatan yang berkelanjutan, bukan untuk industri ekstraktif maupun proyek panas bumi yang masif dan merusak permukaan tanah.
Celios dalam risetnya pada tahun 2024 mengungkap pengeboran panas bumi tak ubahnya seperti pertambangan pada umumnya. Bahkan kedalaman pengeboran panas bumi rata-rata sedalam 30 sampai 200 meter jauh lebih dalam dibandingkan dengan batu bara. Selain berdampak terhadap keberlanjutan ekologi,berdampak pada penghidupan masyarakat lokal yang hidup di sekitar lokasi pltp.
Alih-alih pltp, kelompok perempuan di Desa Morella, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah berupaya memenuhi kebutuhan energi mandiri sekaligus menjalankan ekonomi perempuan dengan mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan dan akses terhadap sumber energi yang adil.
Dari balik pintu, Iklima Latukau menunjukkan panel surya yang berdiri di bagian belakang dapur produksi. Letaknya berhadapan dengan lautan, menengadah ke langit. Empat besi penyangga diberi semen agar tak roboh kalau kelak angin kencang menerjang. Iklima merupakan salah satu dari sembilan ibu yang menjalankan usaha produksi jus pala khas Morella dengan memanfaatkan energi matahari dari PLTS atap.
Dia mengatakan bahwa teknologi itu membantu mereka menghemat tagihan listrik setiap kali produksi berlangsung. Terlebih jika bahan baku dari kebun warga melimpah. Ratusan buah pala akan dibekukan di dalam mesin pendingin agar tetap segar dan tak rusak.
“Kalau lagi musim banyak sekali buah yang harus disimpan, kadang sampai rusak kalau alat ini tidak membantu kita,” kata Iklima. 1 kWp PLTS atap dengan daya listrik 900 VA mampu membagi arus listrik untuk kebutuhan mesin pendingin, ketel dan lampu. Dengan begitu, mereka bisa menekan biaya produksi sebesar 50 persen hingga 70 persen. Di wilayah tropis seperti Indonesia, sistem PLTS 1 kWp rata-rata mampu menghasilkan sekitar 3 hingga 4,5 kWh per hari atau sekitar 90–135 kWh per bulan, tergantung padaintensitas cahaya matahari.
Perempuan berusia 54 tahun itu punya hitungan matematika sendiri, kata dia, jika sebelumnya mereka biasa merogoh kocek Rp 500 ribu untuk kebutuhan listrik, kini berkurang Rp 350 ribu. “Sisanya kan bisa lebih hemat,” katanya.
Selain hemat pemakaian listrik, biayanya dialihkan untuk menambah upah ibu-ibu. Dari memeras buah pala hingga menjadi sebotol jus segar, mereka bisa mengantongi upah Rp 600 ribu hingga Rp 900 ribu.
Tak hanya diolah menjadi jus, buah pala juga dimanfaatkan para ibu untuk menghasilkan produk lain yang tak kalah menarik, yakni selai. Ampas buah pala yang biasanya berakhir sebagai limbah kini diolah kembali menjadi produk bernilai guna.
Bagi para ibu, bahan yang tersisa dari proses pembuatan jus bukanlah sesuatu yang harus dibuang begitu saja. Mereka memilih memanfaatkannya menjadi selai, sekaligus mengurangi limbah dan menghemat pengeluaran rumah tangga.
“Daripada terbuang, kami bikin selai. Ada juga ibu-ibu lain yang membuatnya. Daripada beli di toko, lebih baik buat sendiri, karena bahannya bisa didapat gratis,” katanya.
Dari dapur sederhana, kreativitas para ibu mengubah sisa olahan buah pala menjadi sesuatu yang bermanfaat. Selain membantu memenuhi kebutuhan keluarga, pemanfaatan ampas pala ini juga membuka peluang usaha rumahan dengan memaksimalkan potensi buah lokal yang tersedia di sekitar mereka.
“Ada kebutuhan ekonomi perempuan (ibu-ibu), tapi juga soal lingkungan di kampung,”
Menghidupi Ekonomi Petani

Desa Morella, terletak di sebelah utara Pulau Ambon, secara administrasi Morella merupakan bagian dari Kabupaten Maluku Tengah, berjarak kurang lebih 35 kilometer dari Kota Ambon. Nama kampung di Jazirah Leihitu ini begitu masyhur dengan budaya Pukul Sapu. Ritual adat, menyambut 7 Syawal usai Idul Fitri. Tak hanya budaya, Negeri Morella juga terkenal dengan sejumlah wisata dan cikal bakal lahirnya jus pala pertama di Maluku.
Morella memiliki potensi besar dalam pengembangan komoditas pala. Namun, ketika musim panen pala melimpah ruah, petani pala lebih memilih menjual fuli dan biji pala karena dianggap lebih menguntungkan. Sedangkan dagingnya sering kali terbuang, bahkan sampai dibiarkan membusuk di dusung pala.
Dusung adalah istilah agroforestri bagi masyarakat di Maluku yang merupakan sistem pertanian masyarakat adat yang memadukan berbagai jenis tanaman. Baik tanaman tahunan, semusim, tanaman kehutanan, maupun buah-buahan, dalam satu hamparan lahan yang dikelola secara turun-temurun baik itu individu maupun komunal.
Di tangan para perempuan itu, daging buah pala kini diolah menjadi produk ekonomi. Usaha ini juga berperan menggerakkan ekonomi petani karena bahan baku pembuatan jus dibeli langsung dari mereka.
“Buah pala kami beli dari petani, yang tadinya seng (tidak) dipakai bisa jadi minuman sehat,” tuturnya.
Produk jus Pala didirikan pada tahun 2008, tepat beberapa tahun setelah rekonsiliasi akibat konflik sosial di Maluku. Kala itu, Desa Morella adalah salah satu dari empat negeri (desa) yang dijadikan pilot projectpengembangan UMKM sirup pala di bawah naungan Koperasi Unit Desa (KUD) Tomasiwa. Baru pada tahun 2010 namanya berganti menjadi Jus Pala setelah mengalami pasang surut, baik dari sisi produksi maupun pemasaran produk.
Belum lagi, mereka harus menghadapi keterlambatan pengiriman kemasan produk dari luar kota, keterlambatan pembayaran dari mitra , hingga cara pemasaran yang masih konvensional, dari mulut ke mulut. “Dulu itu barang laku dulu baru dibayar,” katanya.

Kini usaha itu perlahan membuahkan hasil. Kata Iklima, dalam sehari mereka bisa membuat jus dalam jumlah 300 sampai 400 botol tergantung ketersediaan bahan baku. “Kadang kalau buah pala belum musim, produksinya sedikit,” katanya. Produk jus pala hasil buatan mereka itu sering kali dijadikan oleh-oleh resmi ketika ada event besar di daerah.
Pada tahun 2022 lalu, UMKM ini sempat mengerjakan pesanan dalam jumlah besar dari Kepolisian Daerah (Polda) Maluku untuk memecahkan rekor MURI minum jus pala sebanyak 16.076 botol jus pala. Bukannya merasa terbebani, permintaan itu malah semakin membuat mereka bersemangat supaya produk yang mereka kerjakan bisa dikenal luas dan mendunia.
“Adanya kegiatan di daerah membantu katong (kita) promosi. Supaya lebih dikenal,” tutur Iklima.
Harganya terbilang murah, senilai Rp 8.000 per botol jika dibeli langsung dari dapur produksi di Morella. Jus pala yang kaya akan antioksidan ini juga bisa didapatkan di sejumlah agen yang tersebar di Kota Ambon dengan harga Rp10.000.
“Katong (kita) punya agen penjualan, di Toko Dian Pertiwi, Toko Oasis dan juga restoran atau rumah makan, seperti rumah makan Alfa di kawasan Trikora Kota Ambon,” kata Iklima.
Bagi Iklima, menyalakan mesin tidak hanya tentang ekonomi perempuan di desa, melainkan tentang keberlanjutan lingkungan. Jika energi matahari bisa diubah menjadi penggerak mesin listrik, dapur produksi tidak akan pernah berhenti mengepul.
Dengan begitu, botol-botol jus pala produksi ibu-ibu di Morella akan terus membawa cerita tentang ketangguhan perempuan dan inovasi dalam memanfaatkan potensi energi dari alam. Warga tidak hanya memperoleh nilai ekonomi yang lebih tinggi dari komoditas pala, tetapi juga membangun kemandirian energi dan mendukung pembangunan desa yang berkelanjutan.
“Kami sudah membuktikan bahwa kami bisa memulai dari nol, sekarang tinggal pengelolaan listrik yang efektif,” katanya.
Konsep transisi energi berkeadilan sebetulnya sudah dikerjakan di banyak daerah, termasuk para perempuan seperti Iklima dan ibu-ibu di Morella. Mereka berinisiatif menerapkan sistem energi bersih yang berbasis inovasi dan keberlanjutan supaya usaha kecil mereka berkembang. Tapi sering kali terkendala pada kebijakan yang belum adil dan inklusif.
“Ke depan semoga ada kolaborasi dan kebijakan dari berbagai pihak yang membantu UMKM seperti kami,” tutup Iklima.