Buru, — Perdebatan tentang nama Pulau Buru kembali mencuat. Pemerhati budaya Buru, Sami Latubual, mempersoalkan penggunaan istilah “Bupolo” yang selama ini lazim digunakan. Menurut dia, penyebutan yang memiliki akar dalam bahasa dan tuturan adat masyarakat Buru adalah “Bual Bipolo”.
Bagi Sami, perbedaan itu bukan sekadar soal bunyi atau pelafalan. Nama sebuah tempat, menurut dia, menyimpan ingatan kolektif tentang sejarah, kosmologi, bahasa, dan identitas masyarakat yang mewarisinya.
“Yang keliru dibiasakan, yang benar diabaikan,” tulis Sami dalam naskah mengenai asal-usul nama Pulau Buru.
Sami mengatakan pemaknaan tentang nama awal pulau tersebut bersumber dari Snarun Elen, yang ia sebut sebagai bagian dari tuturan adat masyarakat Buru.
Dalam pemahamannya, Bual berarti pulau, sedangkan Bipolo berkaitan dengan istilah Bia Polon. Istilah tersebut, menurut Sami, merupakan perumpamaan leluhur mengenai kondisi tanah pada masa awal penciptaan ketika permukaan bumi masih lembek dan basah.
Ia merujuk pada salah satu tuturan adat:
“Filim betu Bual na bapuna Bipolon.”
Menurut Sami, tuturan tersebut menggambarkan permulaan dasar atau tanah Pulau Buru dalam kondisi awal penciptaan.
Dari pemaknaan itu, Sami menyebut Bual Bipolo sebagai gambaran mengenai pulau yang pada awal penciptaannya memiliki permukaan tanah yang masih lembek dan basah.
Mempertanyakan Asal-usul Bupolo
Sami mempertanyakan bagaimana istilah “Bupolo” muncul dan kemudian berkembang dalam penggunaan masyarakat.
Menurut dia, Bupolo tidak memiliki akar bahasa dan perumpamaan yang sama dengan Bipolo. Ia menduga istilah tersebut berkembang melalui proses penyebutan berulang hingga akhirnya dianggap benar karena telah menjadi kebiasaan.
Sami juga menyinggung upaya menghubungkan istilah tersebut dengan kata “dampolot” serta kondisi berlumpur di kawasan Rana.
Menurut dia, pemaknaan tersebut terlalu menyempit karena Bipolo tidak hanya merujuk pada kawasan Rana. Istilah itu, dalam pemahamannya, menggambarkan kondisi keseluruhan Pulau Buru dalam konteks kosmologi mengenai awal penciptaan.
“Bupolo menghilangkan filosofi dalam Bia Polon. Ia hanya bunyi yang mirip, tetapi kosong makna,” tulisnya.
Namun, pandangan mengenai asal-usul istilah tersebut merupakan bagian dari perdebatan kebahasaan dan sejarah yang masih perlu diuji melalui sumber lain, termasuk kajian linguistik, sejarah, serta dokumentasi tuturan adat.
Bumi Lalen dan Persoalan Rana
Perdebatan istilah juga menyentuh penggunaan “Bumi Lalen”.
Sami menilai istilah tersebut selama ini kerap dipersempit maknanya dengan mengaitkannya hanya dengan Rana atau danau. Menurut dia, Bumi Lalen memiliki cakupan yang lebih luas karena berkaitan dengan gambaran bumi pada masa awal penciptaan.
Dalam penjelasan Sami, kata Lalen berkaitan dengan kondisi awal yang belum sempurna dan masih basah. Karena itu, ia melihat adanya hubungan antara Bumi Lalen dan Bual Bipolo dalam kosmologi mengenai awal mula penciptaan.
Sami juga mempersoalkan penyebutan “Danau Rana”.
Menurut dia, dalam bahasa Buru, Rana berarti danau. Karena itu, penyebutan Danau Rana dianggap mengulang makna yang sama.
Ia mengusulkan istilah “Rana Lalen” sebagai penyebutan yang menurutnya lebih sesuai dengan pemahaman bahasa dan tuturan adat yang ia jelaskan.
Snarun Elen dan Ingatan Leluhur
Argumentasi Sami bertumpu pada Snarun Elen, yang ia sebut sebagai tuturan adat yang mengandung pengetahuan tentang sejarah dan kosmologi masyarakat Buru.
Ia mengutip salah satu bagian tuturan:
“Bual Polpito geran ne lawe tapi madun eknafen na Bual Polha, Bual Bipolo pa da puna Bual Polpito geran pito.”
Menurut Sami, tuturan tersebut secara eksplisit menyebut istilah Bual Bipolo. Bagi dia, kemunculan istilah tersebut dalam tuturan adat menjadi salah satu petunjuk penting untuk menelusuri sejarah penamaan Pulau Buru.
Sami mengakui bahasa dapat berkembang mengikuti perubahan masyarakat. Setelah Pulau Buru dihuni semakin banyak manusia, penyebutan dan pemaknaan nama tempat, menurut dia, dapat mengalami perubahan.
Namun perubahan itu, kata Sami, tidak seharusnya membuat akar nama dan makna yang diwariskan leluhur hilang.
“Nama BIPOLO adalah nama pada masa awal penciptaan pulau. Setelah pulau ini mulai banyak dihuni manusia, penyebutan dan pemaknaan juga berkembang. Namun, akar nama asal tetap harus kita jaga agar tidak hilang ditelan waktu,” tulisnya.
Mendokumentasikan Tuturan Tetua Adat
Sami mendorong pemerhati budaya, guru, mahasiswa, dan masyarakat Buru mendokumentasikan tuturan para tetua adat.
Menurut dia, dokumentasi diperlukan karena pengetahuan yang diwariskan secara lisan dapat berubah atau hilang jika tidak dicatat dan diteruskan kepada generasi berikutnya.
Ia juga mengajak media lokal dan pegiat sejarah lebih cermat menggunakan istilah yang berkaitan dengan nama tempat, bahasa, dan identitas masyarakat Buru.
Salah satu langkah yang ia tawarkan adalah membiasakan penggunaan istilah Bual Bipolo dan Rana Lalen dalam percakapan maupun tulisan.
Namun Sami tidak menutup ruang bagi perbedaan pandangan. Ia justru mengajak pihak yang memiliki pemahaman berbeda mengenai asal-usul nama tersebut untuk membuka diskusi.
“Bagi yang tetap berpendirian bahwa ‘Bupolo’ yang benar dan menganggap ‘Bipolo’ keliru, kami mengajak untuk berdiskusi terbuka. Mari adu data, adu bahasa, dan adu rujukan,” tulisnya.
Menurut Sami, upaya meluruskan penyebutan tersebut bukan untuk memenangkan perdebatan, melainkan menjaga pengetahuan yang diwariskan leluhur agar tidak terputus.
Pada akhirnya, perdebatan Bual Bipolo dan Bupolo tidak berhenti pada persoalan bagaimana sebuah kata diucapkan. Bagi Sami, di dalamnya terdapat persoalan yang lebih luas: bahasa, sejarah, kosmologi, dan cara masyarakat Buru memahami ruang hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Luruskan yang bengkok. Betulkan yang salah. Demi Bual Bipolo,” tulis Sami.