BRIN Identifikasi Dua Jenis Karang di Teluk Sesar

03/11/2026
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Ambon mengidentifikasi dua jenis karang dari sampel yang dikirimkan oleh pemerhati lingkungan dari perairan Teluk Sesar, Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku. Kedua jenis karang tersebut adalah Euphyllia glabrescens dan Euphyllia divisa, Foto: Dokumentasi penelitian BRIN

Bula, Seram Bagian Timur, — Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Ambon mengidentifikasi dua jenis karang dari sampel yang dikirimkan oleh pemerhati lingkungan dari perairan Teluk Sesar, Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku. Kedua jenis tersebut adalah Euphyllia glabrescens dan Euphyllia divisa.

Identifikasi itu disampaikan peneliti BRIN Ambon, Dr. Daniel, melalui pesan singkat kepada pemerhati lingkungan yang mengirimkan sampel karang tersebut.

“Ini dia spesies karang yang dikirimkan, Euphyllia glabrescens dan Euphyllia divisa,” tulis Daniel.

Hasil identifikasi ini menjadi salah satu informasi ilmiah mengenai keberadaan jenis karang di Teluk Sesar. Sementara itu, seorang nelayan setempat menyebut ekosistem karang di kawasan tersebut telah dikenal sejak puluhan tahun lalu, jauh sebelum Kampung Nelayan terbentuk dan aktivitas perusahaan berlangsung di sekitar teluk.

Pati Raha Kaikan Fesanrey, nelayan jaring insang yang telah menangkap ikan di Teluk Sesar sejak 1990-an, mengatakan kawasan tersebut sejak dahulu menjadi lokasi penangkapan ikan lalosi ekor kuning, ikan layar, dan ikan palala.

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Ambon berhasil mengidentifikasi dua jenis karang dari sampel yang dikirimkan oleh pemerhati lingkungan di perairan Teluk Sesar, Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku. Kedua jenis karang tersebut adalah Euphyllia glabrescens dan Euphyllia divisa, Foto:BRIN

Menurut Pati, keberadaan berbagai jenis ikan tersebut berkaitan dengan kondisi perairan yang memiliki kawasan karang. Ia menunjukkan sejumlah titik yang dahulu menjadi lokasi penangkapan ikan, termasuk area di sekitar Tanjung Gumumae dan Teluk Sesar.

“Siapa bilang di sini tidak ada karang? Karang memang ada di tempat ini. Saya sejak dulu selalu menjaring ikan lalosi ekor kuning dan ikan layar, termasuk di bagian belakang tempat kapal Hengky,” kata Pati sambil menunjukkan lokasi yang disebutnya sebagai kawasan karang.

Ia menuturkan, pada 1990-an hingga awal 2000-an, kondisi perairan di sekitar Teluk Sesar masih relatif alami dan memiliki hamparan karang. Kawasan antara Tanjung Gumumae dan Kampung Nelayan juga dikenal memiliki potensi perikanan.

Pati turut menunjukkan lokasi karang di sekitar area penangkaran kapal milik Hengky Lisan. Menurut dia, kawasan tersebut dahulu menjadi tempat menangkap ikan menggunakan jaring insang.

“Di karang itu, sampai di belakang tempat Dok Hengky, dulu saya menjaring ikan lalosi dan ikan palala ekor kuning,” ujarnya.

Selain di kawasan antara Teluk Sesar dan Tanjung Gumumae, Pati menunjukkan keberadaan karang keras di depan bangunan cold storage Sesar. Ia memperkirakan diameter karang tersebut mencapai 30–40 sentimeter.

“Karang di sekitar sini sudah ada jauh sebelum Kampung Nelayan berdiri. Bahkan, di depan cold storage itu ada karang besar, kira-kira berdiameter 30 sampai 40 sentimeter,” katanya.

 

Sejarah Permukiman Kampung Nelayan

Pati juga menceritakan sejarah awal terbentuknya Kampung Nelayan di kawasan Teluk Sesar. Menurut dia, sebelum permukiman tersebut berkembang, terdapat tiga tenda nelayan di Tanjung Gumumae yang digunakan sebagai tempat tinggal sementara sekaligus mendukung kegiatan penangkapan ikan.

Salah seorang yang pertama kali menetap di kawasan itu adalah La Ode Sudirman, yang dikenal dengan panggilan La Tu. Ia kemudian tinggal bersama dua kelompok nelayan lainnya setelah memperoleh izin dari petuanan Sesar.

“Bapa La Tu atau La Ode Sudirman sekarang menjadi imam Kampung Nelayan. Dia orang pertama di kampung ini bersama dua tenda lainnya. Awalnya mereka membuat tenda di Tanjung Gumumae, tetapi atas izin petuanan Sesar, mereka diperbolehkan tinggal di kawasan ini,” tutur Pati.

Ia menyebut perkembangan Kampung Nelayan berlangsung sekitar 2010, ketika seorang bernama AV mulai membentuk permukiman tersebut sehingga semakin banyak warga menetap di sana.

Kesaksian Pati menggambarkan aktivitas perikanan tradisional dan keberadaan kawasan karang di Teluk Sesar sebelum permukiman berkembang menjadi Kampung Nelayan.

 

Terumbu Karang dan Fungsi Ekologis

Terumbu karang merupakan ekosistem penting di wilayah pesisir dan laut. Ekosistem ini menyediakan habitat, tempat mencari makan, serta ruang berlindung dan berkembang biak bagi berbagai organisme laut.

Struktur karang juga berperan meredam energi gelombang sebelum mencapai garis pantai. Karena itu, keberadaan terumbu karang berkaitan dengan keberlanjutan sumber daya perikanan dan perlindungan kawasan pesisir.

Di Teluk Sesar, keberadaan aktivitas perusahaan dan kapal tanker di sekitar perairan menjadi bagian dari persoalan yang perlu diperiksa melalui pemantauan lingkungan. Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui apakah kegiatan tersebut menimbulkan tekanan terhadap ekosistem karang.

Penilaian kondisi lingkungan dapat dilakukan melalui survei bawah air, pengukuran tutupan karang hidup, identifikasi jenis, pengamatan kondisi koloni, serta pengujian kualitas air dan sedimen. Data tersebut diperlukan untuk mengetahui kondisi ekosistem dan perubahan yang mungkin terjadi akibat aktivitas manusia.

Identifikasi BRIN terhadap sampel Euphyllia glabrescens dan Euphyllia divisa memberikan informasi mengenai dua jenis karang yang ditemukan dalam sampel dari Teluk Sesar.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.