Ambon, — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Maluku. Berdasarkan Sistem Peringatan Kebakaran Hutan dan Lahan (SPARTAN), tingkat kemudahan terbakar, potensi penyebaran api, hingga intensitas kebakaran berada pada rentang kategori sedang hingga sangat tinggi.
Peringatan tersebut diterbitkan oleh Stasiun Meteorologi Kelas II Pattimura Ambon pada 20 September 2026. Produk SPARTAN BMKG menggunakan data pengamatan dan model prakiraan cuaca sebagai referensi untuk mitigasi kejadian kebakaran hutan dan lahan.
BMKG mengingatkan masyarakat dan pemangku kepentingan untuk memperhatikan perkembangan cuaca serta kondisi lingkungan terkini. Lembaga itu juga menganjurkan koordinasi dengan kementerian, dinas, dan lembaga terkait untuk pemanfaatan informasi peringatan tersebut.
Peringatan ini tidak berarti kebakaran pasti terjadi. Indeks SPARTAN merupakan indikator tingkat kemudahan terjadinya, penyebaran, dan intensitas api berdasarkan kondisi cuaca dan bahan bakar di permukaan.
Salah satu indikator yang digunakan BMKG adalah FFMC (Fine Fuel Moisture Code). Indeks ini menggambarkan tingkat kemudahan terjadinya kebakaran berdasarkan kondisi cuaca pada bahan-bahan ringan yang mudah terbakar di lapisan atas permukaan tanah.
Bahan tersebut antara lain humus permukaan, sampah dedaunan kering, alang-alang, dan material ringan lainnya yang biasanya menutupi lantai hutan pada kedalaman sekitar 1–2 sentimeter.

Menurut BMKG, secara umum tingkat kemudahan terbakar pada lapisan atas permukaan tanah di Maluku berada pada kategori Tidak Mudah (Moderate) hingga Sangat Mudah (Very High).
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya kewaspadaan terhadap keberadaan bahan bakar permukaan yang mengering, terutama ketika kondisi cuaca mendukung terjadinya kebakaran.
Peta FFMC dalam dokumen BMKG menunjukkan tingkat kemudahan terbakar di sejumlah wilayah Maluku dengan kategori yang beragam. Peta tersebut berlaku untuk 21 September 2026.
Lapisan Tanah Menengah Juga Berisiko
BMKG juga menggunakan indikator DMC (Duff Moisture Code) untuk membaca tingkat kekeringan bahan organik pada lapisan menengah permukaan tanah.
DMC menggambarkan kondisi bahan organik pada kedalaman sekitar 5–10 sentimeter serta bahan kayu ringan seperti ranting kecil dan semak belukar berkayu di permukaan tanah.
Untuk indikator tersebut, BMKG menyatakan tingkat kemudahan terbakar di wilayah Maluku secara umum berada pada kategori Tidak Mudah (Moderate) hingga Sangat Mudah (Very High).
Artinya, bukan hanya bahan bakar ringan di permukaan yang perlu diperhatikan. Kondisi lapisan bahan organik dan material kayu ringan juga menjadi bagian dari perhitungan potensi kebakaran.

Api Bisa Menyebar Sangat Cepat
Persoalan berikutnya adalah kecepatan penyebaran api apabila kebakaran terjadi.
BMKG menggunakan ISI (Initial Spread Index) untuk menggambarkan tingkat kemudahan penyebaran api kebakaran hutan dan lahan.
Indeks tersebut sangat dipengaruhi oleh kecepatan angin. BMKG menjelaskan bahwa nilai ISI meningkat secara eksponensial terhadap kecepatan angin dan dapat menjadi dua kali lipat setiap kenaikan kecepatan angin sebesar 13 kilometer per jam atau 3,6 meter per detik.
Indikator ISI terutama menggambarkan kondisi di area padang rumput atau alang-alang, tempat api dapat menyebar dengan cepat ketika kecepatan angin tinggi.
Dalam peringatan BMKG, tingkat kemudahan penyebaran api di wilayah Maluku berada pada kategori Rendah (Low) hingga Sangat Tinggi (Very High).
Peta ISI dalam dokumen tersebut juga berlaku untuk 21 September 2026.

Intensitas Api Bisa Sangat Tinggi
Indikator terakhir yang disoroti BMKG adalah FWI (Fire Weather Index).
Berbeda dengan FFMC dan DMC yang antara lain menggambarkan kondisi kekeringan bahan bakar, FWI menunjukkan besarnya intensitas api apabila kebakaran terjadi. Nilai FWI sangat dipengaruhi oleh ISI dan BUI.
BMKG menyatakan secara umum tingkat intensitas api kebakaran hutan dan lahan di wilayah Maluku berada pada kategori Sedang (Moderate) hingga Sangat Tinggi (Very High).
Dengan demikian, peringatan BMKG tidak hanya berbicara mengenai kemungkinan bahan di permukaan yang mudah terbakar. Kondisi cuaca yang tergambar dalam indeks juga menunjukkan adanya wilayah dengan potensi penyebaran api dan intensitas kebakaran pada kategori tinggi hingga sangat tinggi.

BMKG Ingatkan Mitigasi
BMKG menegaskan produk SPARTAN merupakan referensi untuk mitigasi kebakaran hutan dan lahan. Karena itu, informasi tersebut perlu dibaca bersama perkembangan cuaca dan kondisi lingkungan terkini.
BMKG juga meminta pengguna informasi berkoordinasi dengan kementerian, dinas, dan lembaga terkait di daerah.
Peringatan dini ini diperbarui pada Minggu, 20 September 2026 pukul 11.00 WIT.
Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui situs BMKG dan SPARTAN BMKG. Masyarakat juga dapat menghubungi Stasiun Meteorologi Kelas II Pattimura Ambon melalui kanal yang tercantum dalam dokumen peringatan dini.
Di tengah kondisi tersebut, kewaspadaan terhadap sumber api menjadi penting. Peringatan dini BMKG memberikan gambaran mengenai kondisi cuaca dan bahan bakar yang dapat mendukung terjadinya serta meluasnya kebakaran apabila api muncul.
Karena itu, informasi potensi karhutla perlu menjadi dasar bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk memperkuat langkah pencegahan sebelum kebakaran terjadi.