Ambon, — Dari atas jembatan, pemandangan di muara Sungai Waitomu nyaris tak menyerupai sungai. Air kecokelatan tertutup rapat oleh hamparan botol plastik, kantong kresek, potongan kayu, dan limbah rumah tangga yang saling bertindih. Di tengah tumpukan itu, beberapa petugas kebersihan berdiri dengan karung-karung besar, memungut satu per satu sampah yang tersangkut di jaring penahan—sebuah benteng besi yang kini menahan beban kelalaian satu kota.
Hujan memang telah berhenti mengguyur Ambon. Namun bagi Sungai Waitomu, pekerjaan berat justru baru dimulai. Setiap aliran dari hulu membawa “kiriman” yang sama: sampah dari selokan, parit, dan drainase permukiman warga, yang akhirnya bermuara dan terhenti di titik ini, tepat di dekat Kantor Dinas PUPR Provinsi Maluku.
Pemandangan inilah yang dibagikan Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, melalui media sosialnya sebuah potret yang tak dimaksudkan untuk mempermalukan, melainkan menyadarkan.
“Bayangkan kalau ini masuk ke Teluk Ambon,” tulisnya dalam dialek lokal, “betapa sangat mengancam katong pung teluk yang indah.”
Kalimat itu bukan sekadar unggahan. Ia adalah alarm.

Jaring Besi, Kesadaran yang Rapuh
Setiap dua hari sekali, petugas mengangkut gunungan sampah dari jaring Waitomu. Namun ritmenya nyaris tak pernah berubah: hujan turun, sampah datang lagi. Sungai ini seolah menjadi cermin panjang dari kebiasaan membuang sampah sembarangan—perlahan, sunyi, namun dampaknya masif.
Jaring penahan di Waitomu adalah benteng terakhir sebelum limbah kota mengalir bebas ke Teluk Ambon—ruang hidup nelayan, kawasan ekosistem pesisir, sekaligus ikon kebanggaan Maluku. Jika benteng ini jebol atau tak lagi mampu menahan beban, maka yang terancam bukan hanya estetika kota, tetapi juga sumber penghidupan dan masa depan lingkungan.
Namun, Bodewin menyadari satu hal penting: Tak ada jaring besi yang cukup kuat jika jaring kesadaran warga terus bolong.
Karena itu, pesan yang ia sampaikan bukan lagi soal sanksi atau aturan administratif, melainkan soal tanggung jawab bersama.
“Kalau bukan sekarang, mau tunggu kapan lagi?” tulisnya—sebuah ajakan yang lebih menyerupai seruan nurani daripada slogan kebersihan.

Harapan di Balik Tagar
Unggahan dengan tagar #BetaBanggaAmbonBersih pun menjadi ruang refleksi publik. Ribuan warga bereaksi—ada yang mendukung, ada yang merasa tersindir, ada pula yang baru menyadari bahwa sampah yang mereka buang ke selokan depan rumah akhirnya berhenti di jaring Waitomu, menunggu diangkut oleh tangan-tangan petugas.
Sungai Waitomu tetap mengalir. Jaringnya masih kokoh menahan sisa-sisa kelalaian manusia.
Namun pertanyaan itu tetap menggantung di udara Ambon:
Sampai kapan benteng besi ini harus bekerja sendirian sebelum warganya berhenti mengirimkan sampah ke sungai?