AJI Jakarta Gelar Pesta Media 2026, Soroti Ancaman Kebebasan Pers hingga Krisis Lingkungan

by
10/04/2026
Flyer Pesta Media 2026. Kredit foto: AJI Jakarta

Jakarta,— Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta kembali menggelar Pesta Media 2026 setelah vakum selama 14 tahun. Kegiatan ini akan berlangsung pada 11–12 April 2026 di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, dengan mengangkat isu kebebasan pers, krisis lingkungan, dan perkembangan kecerdasan buatan (AI).

Ketua AJI Jakarta, Irsyan Hasyim, mengatakan situasi kebebasan pers di Indonesia menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Menurut dia, berbagai bentuk intimidasi terhadap jurnalis terus meningkat, baik secara langsung maupun melalui kebijakan negara.

“Teror terhadap jurnalis, pembatasan konten media, hingga gugatan hukum bernilai besar menunjukkan ruang kebebasan pers semakin menyempit,” kata Irsyan dalam keterangan tertulis, Jumat, 10 April 2026.

Ia mencontohkan sejumlah kasus, mulai dari teror terhadap jurnalis perempuan hingga pembatasan akses konten media digital. Selain itu, kondisi ketenagakerjaan di industri media juga dinilai memburuk, ditandai dengan maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) dan lemahnya perlindungan terhadap pekerja pers.

Menurut Irsyan, Pesta Media menjadi ruang konsolidasi untuk memperkuat kolaborasi antara jurnalis, masyarakat sipil, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya dalam merespons berbagai tekanan tersebut.

RUNDOWN ACARA PESTA MEDIA 2026. Kredit Foto: AJI-Jak

Angkat Tiga Isu Besar

Dalam penyelenggaraan tahun ini, AJI Jakarta mengangkat tiga isu utama, yakni:

  1. Kebebasan pers dan masa depan jurnalisme
  2. Krisis lingkungan dan perubahan iklim
  3. Perkembangan kecerdasan buatan (AI)

Ketiga isu tersebut dibahas melalui berbagai format kegiatan, mulai dari diskusi publik, lokakarya, pameran foto, hingga pemutaran film.

Beberapa diskusi yang menjadi sorotan antara lain:

  • “Lensa Terpinggirkan: Suara Jurnalis Perempuan dalam Krisis Iklim dan Kelompok Rentan”
  • “Transformasi Pengelolaan Sampah Menuju Zero Waste”
  • “Ketergantungan Batubara dan Tantangan Transisi Ekonomi Daerah”
  • “Babak Belur Industri Media: Masihkah Jurnalisme Dibutuhkan?”

Selain itu, isu perlindungan satwa dan konflik ekologis juga diangkat dalam diskusi “Koridor yang Terputus: Gajah Sumatera, Tanggung Jawab Siapa?”

Workshop hingga Pameran Publik

Tak hanya diskusi, Pesta Media 2026 juga menghadirkan berbagai lokakarya untuk jurnalis dan publik, seperti:

The Power of Storytelling in Personal Branding, Mobile Journalism, Workshop Zine bertema hutan hingga Solutions Journalism untuk transisi energi.

Kegiatan ini juga dilengkapi dengan pameran foto, diseminasi buku tentang perdagangan satwa ilegal, serta pemutaran film dokumenter.

Libatkan Puluhan Lembaga dan Media

AJI Jakarta mencatat, hingga saat ini terdapat: 16 organisasi lingkungan dan media, 26 media partners serta 6 Perguruan Tinggi. Yang terlibat dalam penyelenggaraan acara. Selain itu, puluhan stan komunitas akan mengisi area pameran di kompleks TIM.

AJI menilai penyelenggaraan Pesta Media tidak terlepas dari situasi global dan nasional yang menekan kebebasan berekspresi dan memperburuk krisis lingkungan.

Menurut Irsyan, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk menjaga kualitas jurnalisme sekaligus mendorong perubahan kebijakan yang lebih berpihak pada publik.

“Ini bukan sekadar festival, tetapi ruang untuk merumuskan masa depan jurnalisme dan memperkuat peran media dalam merespons krisis yang terjadi,” ujarnya.

error: Content is protected !!