Ambon — Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengganggu operasional penerbangan di Bandara Internasional Pattimura Ambon, Maluku. Jarak pandang yang merosot hingga di bawah 2.000 meter memicu penundaan hingga pembatalan sejumlah penerbangan sejak Kamis (8/10) hingga Senin (12/10).
Gangguan tersebut berdampak pada penerbangan antarpulau di Maluku maupun rute menuju sejumlah kota di luar provinsi. Sejumlah penerbangan menuju dan dari Jakarta, Surabaya, Makassar, Sorong, Ternate, Dobo, Langgur, serta Namlea mengalami penundaan. Sementara itu, sejumlah penerbangan perintis terpaksa dibatalkan.
Berdasarkan siaran pers Angkasa Pura I yang dikutip dalam laporan ini, gangguan penerbangan mulai terjadi pada Kamis (8/10). Saat itu, penerbangan menuju Nabire, Dobo, Ternate, dan Makassar mengalami penundaan, sedangkan penerbangan ke Langgur dan Namlea dibatalkan.
Operasional penerbangan sempat kembali normal pada Jumat (9/10). Namun, gangguan kembali terjadi pada akhir pekan, Sabtu (10/10) dan Minggu (11/10), ketika kabut asap menghambat sejumlah rute utama dan penerbangan antarpulau.
Penerbangan menuju Jakarta, Surabaya, Makassar, dan Sorong terdampak, begitu pula sejumlah rute yang menghubungkan wilayah kepulauan Maluku, seperti Saumlaki, Dobo, Ternate, Langgur, Moa, Kufar, dan Namlea.
Hingga Senin (12/10) siang, gangguan masih berlangsung. Sejumlah penerbangan dari dan menuju Dobo, Ternate, Langgur, Sorong, Surabaya, Makassar, dan Namlea masih mengalami penundaan. Adapun maskapai perintis, seperti Trigana Air dan Smart Air, membatalkan sejumlah penerbangan menuju Namrole, Wahai, Banda Neira, dan Sanana.
General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Kantor Cabang Bandara Internasional Pattimura Ambon, Johan Seno Acton, mengatakan keselamatan penumpang dan keamanan operasional menjadi prioritas utama di tengah penurunan jarak pandang akibat kabut asap.
“Jarak pandang yang merosot di bawah batas aman keselamatan memaksa pihak maskapai mengambil langkah penundaan dan pembatalan demi mencegah risiko fatal. Kami mengutamakan safety and security seluruh pengguna jasa,” kata Johan dalam keterangannya, Senin (12/10).

Penumpang mendapat layanan pemulihan
Untuk menangani penumpang yang terdampak, pengelola Bandara Pattimura menyediakan layanan pemulihan atau Service Recovery Action (SRA). Layanan tersebut berupa makanan ringan dan minuman bagi calon penumpang yang tertahan di terminal keberangkatan.
Sementara itu, penumpang yang penerbangannya dibatalkan diarahkan untuk menghubungi layanan pelanggan maskapai masing-masing guna mengurus pengembalian dana (refund) atau penjadwalan ulang penerbangan (reschedule).
Johan menjelaskan bahwa pengelola bandara berfokus untuk menjaga kenyamanan fasilitas terminal, ketertiban, serta penyampaian informasi penerbangan kepada pengguna jasa. Adapun penanganan tiket, termasuk pengembalian dana dan penjadwalan ulang, dilakukan melalui maskapai sesuai ketentuan yang berlaku.
“Kami menyampaikan permohonan maaf yang mendalam atas ketidaknyamanan yang dialami seluruh calon penumpang akibat dampak fenomena alam dan karhutla ini,” ujarnya.
Hingga Senin (12/10), pengelola bandara bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memantau pergerakan kabut asap dan kondisi jarak pandang di sekitar landasan pacu. Pemantauan tersebut dilakukan untuk mendukung penilaian kelayakan operasional penerbangan berikutnya.

Sumber: Bandara Pattimura Ambon.
Penulis: Christin Pesiwarissa