BMKG: Potensi Penyebaran Api Karhutla di Maluku Capai Kategori Sangat Tinggi

09/10/2026
Kolase peta BMKG menunjukkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Maluku yang berlaku pada 10 Oktober 2026. Peta tersebut memuat empat indikator, yakni Fine Fuel Moisture Code (FFMC) untuk tingkat kemudahan terbakar bahan ringan di permukaan tanah, Duff Moisture Code (DMC) untuk kemudahan terbakar bahan organik pada lapisan menengah, Initial Spread Index (ISI) untuk potensi penyebaran api, dan Fire Weather Index (FWI) untuk intensitas api apabila kebakaran terjadi. Sejumlah wilayah menunjukkan kategori sangat tinggi pada beberapa indikator. Peta ini menggambarkan potensi berdasarkan indeks BMKG, bukan konfirmasi bahwa kebakaran sedang terjadi di seluruh wilayah tersebut. Sumber: BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Pattimura Ambon, 10 Oktober 2026.
  • Peringatan dini BMKG per 9 Oktober 2026 menunjukkan kemudahan penyebaran api kebakaran hutan dan lahan di Maluku berada pada kategori rendah hingga sangat tinggi. Sementara itu, indeks intensitas api mencapai kategori sedang hingga sangat tinggi.

Ambon — Potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Maluku perlu diwaspadai. Sistem Peringatan Kebakaran Hutan dan Lahan (SPARTAN) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan kemudahan penyebaran api di provinsi kepulauan ini mencapai kategori sangat tinggi apabila kebakaran terjadi.

Peringatan tersebut tercantum dalam dokumen Peringatan Dini Potensi Kebakaran Hutan dan Lahan yang diterbitkan Stasiun Meteorologi Kelas I Pattimura Ambon pada Jumat, 9 Oktober 2026. Dokumen bernomor ACWM-PTM-09 itu memuat empat indikator utama, yakni Fine Fuel Moisture Code (FFMC), Duff Moisture Code (DMC), Initial Spread Index (ISI), dan Fire Weather Index (FWI).

Berdasarkan pemetaan BMKG, tingkat kemudahan terbakar bahan ringan di lapisan atas permukaan tanah di Maluku berada pada kategori sedang hingga sangat mudah. Adapun kemudahan penyebaran api berada pada kategori rendah hingga sangat tinggi. Sementara itu, tingkat intensitas api apabila kebakaran terjadi berada pada kategori sedang hingga sangat tinggi.

Foto 1 — FFMC (Fine Fuel Moisture Code). Peta BMKG menunjukkan tingkat kemudahan terbakar bahan ringan di lapisan atas permukaan tanah di Provinsi Maluku, berlaku pada 10 Oktober 2026. Indikator FFMC mencakup bahan seperti dedaunan kering dan material ringan lainnya di permukaan tanah. Sejumlah wilayah tampak berada pada kategori sangat mudah terbakar, ditandai warna merah.
Sumber: BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Pattimura Ambon.

Angin Memengaruhi Penyebaran Api

Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah Initial Spread Index (ISI), yang menggambarkan tingkat kemudahan penyebaran api jika kebakaran hutan atau lahan terjadi.

Dalam dokumen tersebut, BMKG menjelaskan bahwa nilai ISI meningkat secara eksponensial seiring bertambahnya kecepatan angin. Nilainya dapat menjadi dua kali lipat setiap kenaikan kecepatan angin sebesar 13 kilometer per jam atau 3,6 meter per detik.

Indikator ini juga digunakan untuk menggambarkan potensi penyebaran api di area padang rumput dan alang-alang. Ketika kecepatan angin tinggi, api dapat menyebar dengan cepat dan membentuk pola kepala api (head fire).

Secara umum, peta ISI BMKG menunjukkan tingkat kemudahan penyebaran api di Maluku berada pada kategori rendah hingga sangat tinggi. Artinya, kondisi tersebut bervariasi antarlokasi. Kategori sangat tinggi menunjukkan wilayah yang perlu mendapat perhatian lebih dalam upaya mitigasi, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa kebakaran sedang berlangsung di wilayah tersebut.

Foto 2 — DMC (Duff Moisture Code)Peta DMC BMKG memperlihatkan tingkat kemudahan terbakar bahan organik pada lapisan menengah permukaan tanah di Provinsi Maluku, berlaku pada 10 Oktober 2026. Warna merah mendominasi sejumlah wilayah, menunjukkan kategori sangat mudah terbakar pada indikator tersebut. Sumber: BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Pattimura Ambon.

Bahan Permukaan hingga Lapisan Menengah Perlu Diwaspadai

Selain penyebaran api, BMKG memetakan tingkat kemudahan terbakar bahan di permukaan dan lapisan menengah tanah melalui indikator FFMC dan DMC.

Fine Fuel Moisture Code (FFMC) menggambarkan tingkat kekeringan bahan-bahan ringan yang mudah terbakar di lapisan atas permukaan tanah. Material tersebut meliputi humus permukaan, dedaunan kering, alang-alang, dan bahan ringan lain yang menutupi lantai hutan pada kedalaman sekitar 1–2 sentimeter.

Dalam pemetaan BMKG, tingkat kemudahan terbakar pada lapisan atas permukaan tanah di Maluku berada pada kategori sedang hingga sangat mudah.

Sementara itu, Duff Moisture Code (DMC) menggambarkan kondisi bahan organik pada lapisan menengah permukaan tanah, termasuk material kurang padat pada kedalaman sekitar 5–10 sentimeter, ranting kecil, dan semak belukar berkayu.

Tingkat kemudahan terbakar pada lapisan menengah tersebut juga berada pada kategori Moderate hingga Very High, menurut dokumen BMKG.

Kedua indikator ini menggambarkan kondisi bahan yang dapat menjadi bahan bakar ketika kebakaran terjadi. Karena itu, pemantauan kondisi lingkungan tetap diperlukan untuk mengetahui perkembangan potensi karhutla di setiap wilayah.

Foto 2 — DMC (Duff Moisture Code) Peta DMC BMKG memperlihatkan tingkat kemudahan terbakar bahan organik pada lapisan menengah permukaan tanah di Provinsi Maluku, berlaku pada 10 Oktober 2026. Warna merah mendominasi sejumlah wilayah, menunjukkan kategori sangat mudah terbakar pada indikator tersebut. Sumber: BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Pattimura Ambon.

Intensitas Api Berpotensi Sangat Tinggi

BMKG juga menggunakan Fire Weather Index (FWI) untuk menggambarkan besarnya intensitas api apabila kebakaran terjadi. Dalam dokumen tersebut, FWI disebut sangat dipengaruhi oleh nilai ISI dan BUI.

Peta FWI yang berlaku pada 10 Oktober 2026 menunjukkan tingkat intensitas api kebakaran hutan dan lahan di Maluku berada pada kategori sedang hingga sangat tinggi. Dengan demikian, peringatan dini ini tidak hanya menggambarkan kemudahan bahan permukaan terbakar dan potensi penyebaran api, tetapi juga kemungkinan intensitas api jika kebakaran terjadi.

Meski demikian, indeks tersebut merupakan gambaran potensi berdasarkan kondisi cuaca dan bahan bakar, bukan laporan mengenai kejadian kebakaran aktual. Penentuan kondisi di lapangan tetap membutuhkan informasi dan pemantauan langsung.

Foto 4 — FWI (Fire Weather Index) Peta FWI BMKG menunjukkan tingkat intensitas api apabila kebakaran hutan dan lahan terjadi di Provinsi Maluku, berlaku pada 10 Oktober 2026. Sejumlah wilayah berada pada kategori intensitas api sangat tinggi, ditandai warna merah. Indikator ini menggambarkan potensi intensitas api, bukan konfirmasi bahwa kebakaran sedang berlangsung. Sumber: BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Pattimura Ambon.

BMKG Minta Perkembangan Kondisi Terus Dipantau

BMKG menjelaskan bahwa SPARTAN merupakan sistem peringatan yang bersumber dari data pengamatan dan model prakiraan cuaca. Informasinya digunakan sebagai referensi untuk mitigasi kebakaran hutan dan lahan.

Karena itu, pengguna informasi disarankan untuk terus memperhatikan perkembangan cuaca dan kondisi lingkungan terkini untuk menilai potensi kebakaran di wilayah masing-masing. BMKG juga menyarankan koordinasi dengan kementerian, dinas, serta lembaga terkait dalam pemanfaatan data tersebut.

Dokumen peringatan dini ini diperbarui pada Jumat, 9 Oktober 2026, pukul 09.00 WIT. Informasi lanjutan tersedia melalui situs resmi BMKG di www.bmkg.go.id dan sistem SPARTAN di www.spartan.bmkg.go.id.

Dengan indikator kemudahan terbakar yang mencapai kategori sangat mudah, potensi penyebaran api hingga sangat tinggi, serta intensitas api yang juga dapat mencapai kategori sangat tinggi, kewaspadaan terhadap karhutla di Maluku perlu ditingkatkan. Pemantauan berkala dan mitigasi berdasarkan kondisi setempat menjadi penting agar potensi kebakaran dapat diantisipasi sebelum berkembang menjadi kejadian yang lebih luas.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.


error: Content is protected !!