-
Indeks peringatan dini BMKG menunjukkan kemudahan terbakar bahan permukaan di Maluku berada pada kategori sedang hingga sangat mudah.
-
Sementara itu, potensi penyebaran api mencapai kategori sangat tinggi di sejumlah wilayah.
Ambon, — Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Maluku. Sistem Peringatan Kebakaran Hutan dan Lahan (SPARTAN) menunjukkan sejumlah indikator cuaca berada pada tingkat yang dapat meningkatkan kemudahan terbakar, penyebaran, hingga intensitas api apabila kebakaran terjadi.
Peringatan tersebut tercantum dalam dokumen Peringatan Dini Potensi Kebakaran Hutan dan Lahan yang diterbitkan Stasiun Meteorologi Kelas I Pattimura Ambon pada 7 Oktober 2026.
BMKG menyebut secara umum tingkat kemudahan terbakar pada lapisan atas permukaan tanah di wilayah Maluku berada pada kategori Sedang (Moderate) hingga Sangat Mudah (Very High). Kondisi tersebut terlihat dari indikator Fine Fuel Moisture Code (FFMC), yang menggambarkan tingkat kekeringan bahan-bahan ringan yang mudah terbakar di permukaan tanah.
Bahan yang dimaksud antara lain humus permukaan, dedaunan kering, alang-alang, serta material ringan lain yang biasanya menutupi lantai hutan pada kedalaman sekitar 1–2 sentimeter.

Potensi Api Menyebar Sangat Tinggi
Selain kondisi bahan bakar di permukaan, BMKG juga memantau potensi penyebaran api melalui indikator Initial Spread Index (ISI).
Indeks ini menunjukkan tingkat kemudahan api menyebar apabila kebakaran hutan atau lahan terjadi. BMKG menjelaskan, nilai ISI meningkat secara eksponensial seiring bertambahnya kecepatan angin. Nilainya bahkan dapat meningkat dua kali lipat setiap kenaikan kecepatan angin sebesar 13 kilometer per jam atau 3,6 meter per detik.
Kondisi tersebut menjadi penting terutama pada wilayah yang memiliki padang rumput atau alang-alang. Dalam kondisi angin tinggi, api dapat menyebar dengan cepat dan membentuk pola kepala api (head fire).
Berdasarkan peta ISI BMKG, tingkat kemudahan penyebaran api kebakaran hutan dan lahan di Maluku berada pada kategori Rendah (Low) hingga Sangat Tinggi (Very High).
Artinya, tidak seluruh wilayah Maluku berada pada tingkat risiko penyebaran api yang sama. Namun, keberadaan wilayah dengan kategori sangat tinggi menunjukkan bahwa kondisi atmosfer dan bahan bakar permukaan dapat mendukung penyebaran api dengan cepat apabila kebakaran terjadi.

Lapisan Menengah Juga Mengering
Potensi kebakaran tidak hanya terlihat pada bahan-bahan ringan di permukaan. BMKG juga menggunakan Duff Moisture Code (DMC) untuk melihat kondisi bahan organik di lapisan menengah tanah dan bahan kayu ringan seperti ranting kecil serta semak berkayu.
Indeks DMC menggambarkan tingkat kekeringan bahan organik atau material kurang padat pada kedalaman sekitar 5–10 sentimeter, termasuk bahan kayu ringan di permukaan tanah.
Dalam pemantauan BMKG, tingkat kemudahan terbakar pada lapisan menengah permukaan tanah di Maluku berada pada kategori Moderate hingga Very High.
Kondisi ini menunjukkan bahwa potensi kebakaran tidak hanya berkaitan dengan dedaunan atau bahan kering yang berada di permukaan, tetapi juga dengan kondisi material organik pada lapisan yang lebih dalam.

Intensitas Api Bisa Sangat Tinggi
Indikator lain yang digunakan BMKG adalah Fire Weather Index (FWI). Berbeda dengan FFMC dan DMC yang menggambarkan kondisi bahan bakar, FWI menunjukkan besarnya intensitas api apabila terjadi kebakaran.
BMKG menyebut FWI sangat dipengaruhi oleh nilai ISI dan BUI. Dalam pemantauan pada 7 Oktober 2026, tingkat intensitas api kebakaran hutan dan lahan di wilayah Maluku berada pada kategori Sedang (Moderate) hingga Sangat Tinggi (Very High).
Dengan demikian, peringatan BMKG tidak hanya menyangkut kemungkinan bahan di permukaan yang mudah terbakar. Dalam kondisi tertentu, apabila kebakaran benar-benar terjadi, api berpotensi menyebar dan memiliki intensitas yang tinggi.

BMKG Minta Pantau Kondisi Terkini
BMKG menegaskan bahwa dokumen SPARTAN merupakan produk indeks peringatan kebakaran hutan dan lahan yang bersumber dari data pengamatan serta model prakiraan cuaca. Informasi tersebut digunakan sebagai referensi untuk mitigasi kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Karena itu, BMKG menyarankan masyarakat dan pengguna informasi tetap memperhatikan perkembangan cuaca serta kondisi lingkungan terkini untuk menentukan potensi kebakaran di wilayah masing-masing.
BMKG juga menyarankan koordinasi dengan kementerian, dinas, dan lembaga terkait untuk pemanfaatan data dan informasi tersebut.
Peringatan dini ini diperbarui pada 7 Oktober 2026 pukul 10.00 WIT. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui kanal resmi BMKG dan SPARTAN.
Kondisi tersebut membuat kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan di Maluku perlu ditingkatkan. Terutama pada wilayah yang menunjukkan indeks kemudahan terbakar dan penyebaran api pada kategori tinggi hingga sangat tinggi.
Namun, indeks peringatan dini tersebut tidak berarti seluruh wilayah Maluku sedang mengalami kebakaran. Data BMKG menunjukkan potensi berdasarkan kondisi cuaca dan bahan bakar, sehingga perkembangan kondisi lapangan tetap menjadi faktor penting dalam memastikan ada atau tidaknya kejadian kebakaran.