Ambon, — Ketika debit air mulai menyusut, ancaman El Niño di Maluku bukan lagi sekadar soal perubahan cuaca. Berkurangnya air dapat mengganggu irigasi dan kebutuhan rumah tangga, menekan produksi pertanian, memengaruhi aktivitas nelayan, hingga mengurangi pasokan pangan lokal.
Bagi masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil, gangguan itu dapat merambat lebih jauh. Ketika produksi pangan lokal menurun, ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah berpotensi meningkat. Pada saat yang sama, biaya transportasi antarpulau membuat harga pangan rentan terhadap gangguan cuaca dan distribusi.
Tanda tekanan terhadap sumber air mulai terlihat di sejumlah wilayah Maluku. Pada 2 September 2026, Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Maluku melaporkan berkurangnya debit air di Bendungan Waimatakabu, Kabupaten Seram Bagian Timur. Kondisi tersebut berdampak pada sektor pertanian.
Situasi itu menunjukkan bahwa ancaman El Niño tidak berhenti pada berkurangnya curah hujan. Ketika air menyusut, persoalan dapat bergerak dari hulu ke hilir—dari daerah aliran sungai (DAS), sungai, pertanian, hingga pangan yang dikonsumsi masyarakat.
Dr. Melkhianus Hendrik Pentury, akademisi yang menekuni kajian pangan, khususnya functional food, mengatakan Maluku membutuhkan cara pandang yang lebih menyeluruh dalam membangun ketahanan pangan.
Menurut dia, ketahanan pangan tidak cukup dibangun dengan meningkatkan produksi. Sistem pangan juga bergantung pada ketahanan air dan kesehatan ekosistem yang menopangnya.
“Ketahanan pangan tidak dapat berdiri sendiri karena produksi pangan bergantung pada ketersediaan air, sementara keberlanjutan air sangat bergantung pada kesehatan DAS dan sungai,” kata Pentury kepada titastory.id, Senin (14/9/2026).
Air, DAS dan Ketahanan Pangan
Pentury menyebut El Niño dapat menjadi pengganda risiko bagi sistem pangan Maluku.
Ketika curah hujan berkurang, debit sungai, mata air dan waduk berpotensi ikut menurun. Ketersediaan air untuk rumah tangga dan pertanian pun semakin terbatas. Kondisi tersebut kemudian dapat menekan produktivitas pertanian dan mengurangi pasokan pangan lokal.
Rantai risikonya saling berkaitan: curah hujan berkurang, debit sungai dan mata air menurun, air untuk pertanian dan rumah tangga terbatas, produksi pangan terganggu, lalu ketergantungan terhadap pasokan dari luar meningkat.
“Jadi, membangun ketahanan pangan tanpa membangun ketahanan air sama seperti meningkatkan produksi, tetapi tidak menjamin bahan baku utama produksinya,” ujarnya.
Namun, Pentury mengingatkan bahwa dampak El Niño terhadap perikanan tidak bisa disederhanakan sebagai penurunan seluruh hasil tangkapan.
Perubahan kondisi oseanografi dapat memengaruhi distribusi dan produktivitas sumber daya ikan. Dampaknya bisa terlihat pada jenis ikan yang ditemukan, lokasi tangkap, musim penangkapan, hingga biaya operasi nelayan.
Karena itu, menurut dia, ketahanan pangan Maluku harus dilihat sebagai satu sistem yang menghubungkan daratan dan laut.
Dalam sistem tersebut, sungai dan DAS memegang peran penting. Sungai bukan sekadar saluran air, tetapi bagian dari sistem yang mengatur penyimpanan dan aliran air, membantu pengisian air tanah, menyediakan air bagi masyarakat dan pertanian, sekaligus menjadi habitat berbagai organisme.
Sungai juga menjadi penghubung daratan dan pesisir. Kerusakan di bagian hulu dapat membawa dampak ke wilayah pesisir melalui sedimentasi, pencemaran dan perubahan kualitas habitat.
“Kalau DAS sehat, air hujan lebih banyak meresap, mata air dan aliran sungai lebih terjaga dan cadangan air lebih tersedia saat kemarau,” katanya.
Sebaliknya, DAS yang rusak dapat meningkatkan limpasan ketika hujan, mengurangi infiltrasi dan mempercepat penurunan debit sungai serta mata air ketika musim kering.
Karena itu, perlindungan sungai, menurut Pentury, merupakan investasi untuk menghadapi kekeringan dan tekanan iklim di masa mendatang.
“Perlindungan sungai merupakan investasi untuk menghadapi kekeringan di masa depan,” ujarnya.
Dari Ketahanan Air ke Ekonomi Sirkular
Tekanan terhadap ketersediaan air akibat El Niño, kata Pentury, perlu mendorong perubahan paradigma. Bukan hanya mencari sumber air baru, tetapi juga membuat pemanfaatan air yang sudah tersedia menjadi lebih efisien dan berkelanjutan.
Ia menyebut pendekatan itu sebagai water circularity.
Air hujan, misalnya, dapat ditampung untuk kebutuhan rumah tangga nonminum maupun pertanian. Efisiensi irigasi, pengurangan kebocoran distribusi, penggunaan kembali air yang memenuhi persyaratan, perlindungan mata air serta restorasi ekosistem juga dapat memperkuat kemampuan lingkungan untuk menyimpan air.
“Ekonomi sirkular bukan hanya pengelolaan sampah, tetapi air sendiri adalah sumber daya yang harus dibuat sirkular,” kata Pentury.
Dalam konsep tersebut, air membentuk sebuah siklus: ditampung, digunakan, diolah jika memungkinkan, digunakan kembali, kemudian dikembalikan ke lingkungan secara aman.
Gagasan yang sama dapat diterapkan pada sistem pangan dan perikanan. Pentury mengatakan hasil perikanan tidak seharusnya berhenti pada produk utama. Bagian lain yang masih layak dapat dikembangkan menjadi bahan pangan, pakan atau produk bernilai tambah, sesuai standar keamanan dan teknologi yang tersedia.
Dengan demikian, sistem linear—mengambil, memproduksi, mengonsumsi, lalu membuang—dapat diubah menjadi siklus yang mempertahankan nilai sumber daya selama mungkin.
“Ekonomi sirkular dapat berfungsi sebagai strategi efisiensi sumber daya sekaligus diversifikasi pendapatan masyarakat pesisir,” ujarnya.
Pendekatan tersebut juga berlaku pada pangan lokal.
Sebagai akademisi yang menekuni functional food, Pentury melihat pangan lokal Maluku tidak cukup dinilai berdasarkan jumlah produksinya. Nilai gizi, manfaat kesehatan, keamanan, teknologi pengolahan dan nilai tambah juga penting.
Pangan lokal dapat dikembangkan menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi juga dapat mengolahnya menjadi produk pangan dengan pasar yang lebih luas.
Rantai pasok pun dapat diperpendek dan sebagian nilai ekonomi tetap berputar di daerah.
Sungai sebagai Ruang Ekonomi dan Ekologi
Ekonomi sirkular, menurut Pentury, juga dapat diterapkan di sekitar sungai tanpa mengorbankan fungsi ekologisnya.
Ekowisata sungai, wisata edukasi lingkungan, pembibitan tanaman, UMKM berbasis sumber daya lokal, pengolahan hasil pertanian dan perikanan, jasa lingkungan serta konservasi berbasis masyarakat dapat dikembangkan pada ruang yang sesuai.
“Konsep yang dapat digunakan adalah ekonomi berbasis ekosistem. Masyarakat memperoleh manfaat ekonomi karena ekosistem sungai tetap sehat, bukan dengan mengorbankan kesehatan sungai,” jelasnya.
Karena itu, zonasi antara sempadan sungai, kawasan konservasi, ruang aktivitas masyarakat dan ruang ekonomi perlu dibuat jelas.
Salah satu contoh diversifikasi ekonomi yang disebut Pentury adalah budidaya ikan cupang. Budidaya ikan hias itu dapat dilakukan dalam wadah buatan dengan kebutuhan ruang yang relatif kecil sehingga tidak harus mengambil ikan dari sungai.
Model yang lebih ideal, katanya, adalah menggabungkan konservasi sungai dengan budidaya cupang berbasis rumah tangga, pembibitan, pemasaran digital dan edukasi lingkungan.
Dengan cara itu, sungai tetap berfungsi sebagai sumber kehidupan, sementara masyarakat memiliki pilihan pendapatan yang tidak bergantung pada eksploitasi langsung ekosistem sungai.
Gagasan mengenai ikan cupang tersebut juga muncul dalam Adventure Race of Amboina 2026 bertajuk “Soya for Ambon”, yang digelar Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM) Daerah Pulau Ambon pada 4 September 2026.

Ketua Panitia Adventure Race of Amboina 2026, Karin Soplanit, mengatakan ikan cupang dipilih sebagai representasi unsur air yang menjadi salah satu bagian tema kegiatan.
Peserta menempuh rute sekitar 15 kilometer dari kawasan Telkom, Jalan Pattimura, Jalan Ahmad Yani, kawasan DAS Batu Gajah, Hutan Soya, Gunung Sirimau hingga Gereja Tua Soya. Perjalanan kemudian berakhir di Gedung Gereja Lazarus-Kayu Putih, Jemaat GPM Soya.
Rute tersebut mempertemukan kawasan perkotaan, sungai, perbukitan dan hutan.
Hutan Soya menjadi salah satu titik penting karena kawasan itu memiliki fungsi ekologis dan berkaitan dengan sistem sumber air Kota Ambon.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga diarahkan untuk mengumpulkan sampah plastik dan menanam anakan pohon di sejumlah lokasi.
Bagi Pentury, kegiatan seperti ini dapat menjadi ruang untuk membangun kesadaran bahwa hutan, air, pangan dan ekonomi masyarakat merupakan bagian dari satu kesatuan ekosistem.
Ia kemudian menawarkan model Circular Blue Economy for Climate-Resilient Coastal Food Systems yang menghubungkan air, DAS dan sungai, pertanian, perikanan, pengolahan pangan, UMKM, konsumen, hingga hasil samping dan limbah.
Model tersebut mencakup empat siklus yang saling berhubungan.
Pertama, water loop, yakni air hujan ditampung, digunakan secara efisien, dimanfaatkan kembali jika aman, dan dikembalikan ke lingkungan.
Kedua, food loop, yaitu pangan dikonsumsi, sementara sisa dan hasil samping yang layak diolah kembali menjadi produk atau input baru.
Ketiga, blue loop, yakni hasil perikanan dimanfaatkan secara maksimal untuk pangan dan produk bernilai tambah.
Keempat, biomass loop, yakni biomassa pertanian dan perikanan dimanfaatkan menjadi kompos, biochar, pakan atau produk lain sesuai karakteristik dan kelayakannya.
Keempat siklus itu, menurut Pentury, dapat membantu meningkatkan efisiensi sumber daya, mengurangi limbah, memperluas sumber pendapatan, memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kemampuan masyarakat menghadapi perubahan iklim.
Tujuannya bukan membuat Maluku sepenuhnya berhenti mendatangkan pangan dari luar daerah. Sebagai wilayah kepulauan, pasokan dari luar tetap dibutuhkan.
Yang perlu dibangun adalah kemampuan untuk mengurangi kerentanan ketika rantai pasok terganggu.
Semakin banyak nilai pangan yang dapat diciptakan, dipertahankan dan diputar di dalam Maluku, semakin kuat sistem pangan menghadapi guncangan iklim maupun ekonomi.
“Semakin banyak nilai pangan yang dapat diciptakan, dipertahankan dan diputar di dalam wilayah Maluku, semakin tinggi resiliensi sistem pangan terhadap guncangan iklim dan ekonomi,” kata Pentury.
Dalam menghadapi El Niño, ketahanan pangan dengan demikian bukan semata persoalan meningkatkan produksi. Ia berkaitan dengan kemampuan menjaga air, mempertahankan kesehatan DAS, melindungi sungai, mengoptimalkan pangan lokal, mengolah hasil samping dan menciptakan nilai ekonomi baru.
Bagi Maluku sebagai provinsi kepulauan, pendekatan ekonomi sirkular dapat menjadi salah satu pilihan untuk membangun sistem pangan yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim—dengan tetap menjaga ekosistem yang menjadi penopangnya.