Jelang Hari Laut Sedunia, Pulau Buru Menanam Harapan Baru bagi Laut Indonesia

by
07/06/2026
Caption: Foto bersama tim ekspedisi Selam dan Konservasi "Rediscover Buru: Moving Forward – Coral Restoration and Beyond, yang terdiri dari Wanadri Women Divers (WWD) bersama Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut melalui Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral) IX Maluku,Foto: Ist

Buru, Maluku, — Menjelang peringatan Hari Laut Sedunia pada 8 Juni 2026, Pulau Buru menjadi saksi lahirnya sebuah gerakan kolaboratif yang memadukan ilmu pengetahuan, konservasi, pendidikan lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat pesisir melalui Ekspedisi Selam dan Konservasi “Rediscover Buru: Moving Forward – Coral Restoration and Beyond.”

Di tengah birunya laut yang mengelilingi Pulau Buru, harapan itu mulai ditanam. Bukan dalam bentuk janji atau slogan, melainkan melalui aksi nyata yang melibatkan penyelam, peneliti, akademisi, pemerintah, komunitas lokal, hingga masyarakat pesisir yang selama ini hidup berdampingan dengan laut.

Selama sepuluh hari, sejak 1 hingga 10 Juni 2026, Pulau Buru menjadi ruang perjumpaan berbagai pihak yang memiliki satu tujuan yang sama: menjaga masa depan laut Indonesia melalui upaya konservasi yang berkelanjutan.

Caption: Sejumlah penyelam perempuan dalam ekspedisi selam dan konservasi “Rediscover Buru: Moving Forward – Coral Restoration and Beyond sementara persiapan untuk menikamti alam bawa laut di Perairan Kabupaten Buru, Foto: Ist

Ekspedisi ini digagas oleh Wanadri Women Divers (WWD) bersama Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut melalui Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral) IX Maluku. Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pemerintah daerah, perguruan tinggi, komunitas lokal, serta sejumlah mitra pembangunan yang memiliki perhatian terhadap pelestarian ekosistem laut Indonesia.

Bagi para penyelenggara, Pulau Buru bukan sekadar lokasi kegiatan. Pulau ini merupakan bagian penting dari bentang laut Indonesia yang menyimpan kekayaan biodiversitas tinggi, sekaligus menghadapi berbagai tantangan ekologis yang semakin nyata.

 

Laut yang Menyimpan Kehidupan

Selama berabad-abad, laut telah menjadi nadi kehidupan masyarakat Pulau Buru. Dari perairan inilah nelayan menggantungkan hidup, keluarga memperoleh sumber pangan, dan masyarakat pesisir membangun kebudayaannya.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, berbagai perubahan mulai dirasakan.

Tekanan terhadap ekosistem pesisir dan terumbu karang semakin meningkat. Aktivitas manusia yang belum sepenuhnya berkelanjutan, perubahan kualitas lingkungan perairan, hingga ancaman pencemaran laut menjadi perhatian bersama.

Temuan-temuan tersebut menjadi salah satu alasan lahirnya program Rediscover Buru.

Program ini dirancang bukan sebagai kegiatan seremonial tahunan, melainkan sebagai langkah awal menuju gerakan konservasi jangka panjang yang berbasis ilmu pengetahuan dan melibatkan masyarakat sebagai aktor utama.

“Kami ingin memastikan bahwa upaya konservasi tidak berhenti pada penanaman karang atau kegiatan simbolik semata. Yang lebih penting adalah membangun kesadaran bersama bahwa masa depan laut sangat bergantung pada tindakan yang kita lakukan hari ini,” ujar salah satu anggota tim ekspedisi.

 

Menyelam untuk Masa Depan

Sejak tiba di Pulau Buru pada awal Juni, tim ekspedisi langsung bergerak melakukan berbagai kegiatan lapangan.

Para penyelam melakukan survei lokasi bawah laut, memetakan kondisi terumbu karang, mendokumentasikan keanekaragaman hayati laut, mengukur kualitas perairan, hingga mengidentifikasi potensi ancaman terhadap kawasan pesisir.

Data-data tersebut akan menjadi fondasi penting bagi penyusunan rekomendasi pengelolaan kawasan pesisir dan laut di Pulau Buru pada masa mendatang.

Selain penelitian, tim juga menyiapkan sejumlah titik yang akan menjadi lokasi restorasi terumbu karang.

Bagi ekosistem laut, terumbu karang bukan sekadar hamparan batu di bawah permukaan air. Terumbu karang merupakan rumah bagi ribuan spesies laut, pelindung alami pantai dari abrasi, sekaligus penopang kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya perikanan.

Kerusakan terumbu karang berarti hilangnya ruang hidup bagi berbagai organisme laut dan menurunnya produktivitas ekosistem pesisir.

Karena itu, restorasi yang dilakukan dalam ekspedisi ini dipandang sebagai investasi ekologis jangka panjang bagi generasi mendatang.

 

Ketika Perempuan Menjadi Penjaga Laut

Namun menjaga laut tidak hanya dilakukan dengan menyelam atau melakukan penelitian.

Ekspedisi Rediscover Buru juga menempatkan masyarakat sebagai pusat dari upaya konservasi.

Salah satu program yang mendapat perhatian khusus adalah “Ibu Karang”, sebuah inisiatif yang mendorong perempuan pesisir menjadi agen perubahan dalam pelestarian lingkungan laut.

Melalui program ini, perempuan didorong untuk terlibat aktif dalam berbagai kegiatan konservasi sekaligus mengembangkan potensi ekonomi berbasis sumber daya pesisir yang berkelanjutan.

Pendekatan tersebut lahir dari kesadaran bahwa keberhasilan konservasi tidak dapat dipisahkan dari kesejahteraan masyarakat yang hidup di sekitarnya.

Ketika masyarakat memperoleh manfaat ekonomi yang adil dan berkelanjutan dari lingkungan yang sehat, maka upaya perlindungan alam akan lebih mudah tumbuh dan bertahan dalam jangka panjang.

 

Puncak Perayaan Hari Laut Sedunia

Memasuki Minggu, 7 Juni 2026, seluruh unsur yang terlibat dalam ekspedisi melakukan finalisasi persiapan menjelang puncak kegiatan Hari Laut Sedunia.

Koordinasi lintas instansi, penyiapan lokasi kegiatan di Pantai Jikumerasa, hingga kesiapan tim penyelam untuk aksi transplantasi terumbu karang dipastikan berjalan sesuai rencana.

Pada Senin, 8 Juni 2026, Pantai Jikumerasa akan menjadi pusat peringatan Hari Laut Sedunia di Pulau Buru.

Kegiatan tersebut akan dihadiri unsur pemerintah daerah, TNI AL, akademisi, peneliti, tokoh masyarakat, komunitas lingkungan, dan berbagai lembaga yang selama ini aktif dalam upaya pelestarian laut.

Selain penandatanganan komitmen bersama dan doa lintas elemen masyarakat, aksi transplantasi terumbu karang akan menjadi simbol sekaligus bukti nyata bahwa menjaga laut membutuhkan tindakan, bukan sekadar wacana.

 

Dari Pulau Buru untuk Laut Indonesia

Tema “Rediscover Buru – Moving Forward: Coral Restoration and Beyond” mengandung pesan yang lebih dalam daripada sekadar restorasi terumbu karang.

Ia mengajak masyarakat untuk kembali mengenali laut sebagai ruang hidup yang harus dipahami, dihormati, dan dijaga bersama.

Melalui perpaduan antara sains, konservasi, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat, Pulau Buru sedang menunjukkan bahwa upaya menjaga laut tidak harus dimulai dari tempat yang besar.

Ia bisa dimulai dari satu komunitas kecil, satu kelompok penyelam, satu desa pesisir, bahkan dari satu bibit karang yang ditanam dengan penuh harapan.

Momentum Hari Laut Sedunia 2026 menjadi pengingat bahwa laut bukan hanya sumber pangan dan penghidupan, tetapi juga warisan ekologis yang menentukan masa depan bangsa.

Dari Pantai Jikumerasa, Pulau Buru, harapan itu kini sedang ditanam.

Harapan agar laut Indonesia tetap biru.

Harapan agar terumbu karang kembali tumbuh.

Harapan agar generasi mendatang masih dapat menikmati kekayaan bahari yang sama seperti yang kita nikmati hari ini.

Dan harapan bahwa menjaga laut adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk masa depan.

error: Content is protected !!