TPNPB Mengaku Eksekusi Dua Tenaga Kesehatan di Papua Barat Daya, Sebut Korban Agen Intelejen 

by
16/03/2026
Caption: Seorang Korban Penembakan Tentara Kombatan OPM Diduga merupakan seorang petugas kesehatan. Foto: Media Sosial TPNPB

Papua Barat, — Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) mengklaim telah menembak dua orang yang disebut sebagai agen intelijen militer Indonesia di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya, pada Senin, 16 Maret 2026.

Juru bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom, mengatakan penyerangan tersebut dilakukan oleh pasukan TPNPB dari Komando Daerah Pertahanan (Kodap) XXXIII Ru Mana Tambrauw.

Menurut Sebby, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 11.12 waktu Papua di dua lokasi berbeda, yakni Kampung Banfot, Distrik Feef, dan Kampung Jukbi, Distrik Bamus Bama, Kabupaten Tambrauw.

“Laporan dari Komandan Operasi Kodap XXXIII Ru Mana Tambrauw menyebutkan bahwa dua orang yang diduga agen intelijen militer Indonesia ditembak dalam operasi tersebut,” kata Sebby dalam siaran pers yang diterima media, Senin, 16 Maret 2026.

TPNPB menyebut kedua korban berprofesi sebagai tenaga kesehatan. Namun, kelompok tersebut menuding korban merupakan bagian dari jaringan intelijen militer Indonesia.

Klaim Operasi oleh TPNPB Kodap Tambrauw

Sebby Sambom mengatakan operasi tersebut dilaporkan dipimpin oleh Komandan Operasi Mayor Marthen Faan, yang berada di bawah struktur Komando Wilayah Pertahanan TPNPB.

Menurut laporan internal TPNPB, operasi dilakukan oleh pasukan di wilayah Kodap XXXIII Ru Mana Tambrauw.

Dalam pernyataan tersebut, TPNPB menyebut keputusan untuk melakukan penyerangan didasarkan pada anggapan bahwa sejumlah tenaga sipil di Papua diduga memiliki keterkaitan dengan aparat keamanan.

TPNPB juga mengklaim pihaknya siap bertanggung jawab atas operasi tersebut.

Seruan Tinggalkan Wilayah Konflik

Dalam pernyataan yang sama, TPNPB juga menyampaikan sejumlah sikap politik terkait konflik bersenjata di Papua.

Sebby Sambom mengatakan pihaknya mengimbau warga pendatang atau yang mereka sebut sebagai “imigran Indonesia” agar meninggalkan wilayah yang dianggap sebagai zona konflik.

TPNPB juga menuding adanya penyamaran aparat militer sebagai pekerja sipil seperti tenaga kesehatan, guru, pengusaha, maupun pekerja jasa.

Kelompok tersebut memperingatkan bahwa pihak yang dianggap terlibat dalam operasi militer di wilayah Papua dapat menjadi target serangan.

Desak Pemerintah Hentikan Operasi Militer

Selain itu, TPNPB juga meminta pemerintah Indonesia menghentikan penggunaan fasilitas sipil seperti sekolah, gereja, maupun rumah warga sebagai pos militer.

Dalam pernyataan tersebut, kelompok bersenjata ini juga menyampaikan kritik terhadap berbagai proyek pembangunan yang mereka sebut sebagai bagian dari kepentingan negara di wilayah Papua.

Sebby Sambom mengatakan TPNPB akan terus melakukan perlawanan bersenjata terhadap aparat keamanan Indonesia.

Hingga berita ini disusun, belum ada keterangan resmi dari TNI maupun aparat keamanan Indonesia terkait klaim penyerangan tersebut.

error: Content is protected !!