Ambon,– Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur Kota Ambon sejak Jumat pagi (8/5/2026) berubah menjadi petaka bagi warga BTN Gadihu Indah, kawasan Kebun Cengkeh, Desa Batu Merah, Kecamatan Sirimau.
Tebing di belakang permukiman warga runtuh secara tiba-tiba, membelah badan jalan dan menyeret satu unit rumah hingga jatuh ke jurang sedalam belasan meter.
Suasana tenang di kawasan perumahan itu seketika berubah menjadi kepanikan. Warga berhamburan keluar rumah ketika mendengar suara gemuruh dari arah tebing yang longsor. Dalam hitungan detik, tanah mulai bergerak, retakan muncul di badan jalan, lalu sebagian permukaan jalan amblas bersama material tanah yang terus meluncur ke bawah lereng.
Warga mengaku hanya bisa menyelamatkan diri tanpa sempat mengevakuasi barang-barang berharga karena longsor terjadi sangat cepat di tengah hujan deras yang belum juga berhenti.

Sedikitnya 10 rumah terdampak dalam peristiwa tersebut. Satu rumah dilaporkan hancur total setelah terseret longsor masuk ke jurang sedalam sekitar 15 hingga 20 meter.
Sementara sembilan rumah lainnya mengalami kerusakan berat dan kini berada di bibir longsoran dengan kondisi yang sangat mengkhawatirkan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Ambon, Frits Tatipikalawan, mengatakan kondisi tanah di lokasi masih sangat labil sehingga berpotensi terjadi longsor susulan apabila curah hujan kembali meningkat.
“Rumah yang terseret itu jatuh sekitar 15 sampai 20 meter ke jurang. Tidak ada korban jiwa, tetapi kerusakan sangat parah dan rumah-rumah di sekitar lokasi juga sangat terancam untuk ditempati,” kata Frits saat dikonfirmasi Jumat malam.
Menurutnya, tim BPBD langsung bergerak ke lokasi sesaat setelah menerima laporan dari warga. Proses penanganan dilakukan bersama Dinas Sosial, Dinas Pekerjaan Umum serta pihak PLN guna mengantisipasi dampak yang lebih besar.
Selain menghancurkan rumah warga, longsor juga memutus akses jalan utama di kawasan perumahan tersebut. Badan jalan mengalami amblas cukup parah sehingga kendaraan tidak dapat melintas.
Di sejumlah titik terlihat retakan tanah yang terus melebar. Warga yang rumahnya berada di dekat lokasi longsor memilih mengungsi karena khawatir tanah kembali bergerak pada malam hari.
“Kami takut tinggal di rumah. Tanah masih bunyi dan jalan sudah retak besar. Kalau hujan turun lagi bisa lebih parah,” ungkap salah satu warga terdampak.
Data sementara BPBD mencatat sebanyak 53 jiwa terdampak dalam bencana tersebut. Sebagian warga telah dievakuasi ke tempat yang lebih aman, sementara lainnya masih bertahan di sekitar lokasi sambil mengamankan sisa barang yang bisa diselamatkan.
Pemerintah Kota Ambon juga telah mendirikan tenda darurat dan menyiapkan makanan siap saji bagi warga terdampak. Sementara aliran listrik di sekitar lokasi dipadamkan untuk mencegah korsleting dan potensi bahaya lainnya akibat jaringan yang ikut terdampak longsor.
Frits menjelaskan bahwa kondisi geografis Kota Ambon yang didominasi perbukitan dan lereng curam membuat banyak kawasan permukiman berada dalam ancaman longsor ketika hujan dengan intensitas tinggi terjadi dalam waktu lama.
Ia menilai meningkatnya tekanan pembangunan di kawasan lereng, ditambah berkurangnya daya dukung tanah dan sistem drainase yang tidak maksimal, menjadi faktor yang memperbesar risiko bencana di wilayah permukiman padat penduduk.
“Kami mengimbau warga yang tinggal di daerah rawan agar lebih waspada. Kalau sudah ada tanda-tanda pergerakan tanah atau retakan, segera mengungsi sementara demi keselamatan,” ujarnya.
Bencana di BTN Gadihu Indah kembali memperlihatkan rapuhnya sistem mitigasi bencana di sejumlah kawasan permukiman Kota Ambon.
Longsor yang terus berulang setiap musim hujan memunculkan kekhawatiran bahwa banyak wilayah hunian warga sebenarnya berada dalam kondisi rentan dan sewaktu-waktu dapat berubah menjadi titik bencana.
Warga berharap pemerintah tidak hanya hadir saat musibah terjadi, tetapi juga melakukan langkah serius dan jangka panjang, mulai dari penataan kawasan rawan longsor, pembangunan talud pengaman, perbaikan drainase hingga evaluasi izin pembangunan di lereng-lereng yang dinilai sudah tidak lagi aman untuk permukiman.
Di tengah cuaca ekstrem yang masih melanda Ambon, warga kini hanya bisa berharap hujan segera reda dan tidak ada longsor susulan yang kembali mengancam keselamatan mereka.