Perairan Ohoitel Ditemukan Mengandung Merkuri dan Timbal, Peneliti Dorong Uji Biota Laut

21/08/2026
Akademisi dan peneliti Universitas Doktor Husni Ingratubun Tual, Nadira Fakoubun dan rekan saat melakukan penelitian di perairan pesisir Ohoitel, Kota Tual, Maluku, Foto: Ist
Temuan logam berat pada air dan sedimen belum cukup untuk menyimpulkan biota laut tercemar. Peneliti meminta agar pemeriksaan dilakukan pada organisme yang dikonsumsi masyarakat.

Tual, – Temuan kandungan logam berat merkuri (Hg) dan timbal (Pb) pada perairan pesisir Ohoitel, Kota Tual, Maluku, menjadi perhatian peneliti. Pemeriksaan lanjutan terhadap biota laut yang dikonsumsi masyarakat dinilai penting untuk mengetahui apakah kedua logam berat tersebut telah terakumulasi di dalam jaringan organisme.

Akademisi dan peneliti Universitas Doktor Husni Ingratubun Tual, Nadira Fakoubun, mengatakan keberadaan merkuri dan timbal di air maupun sedimen perlu dipantau secara berkelanjutan.

Kepada titastory.id, Selasa (18/8/2026), Nadira menjelaskan bahwa hasil pengujian air dan sedimen tahun 2022 belum cukup untuk memastikan tingkat paparan logam berat terhadap biota laut maupun manusia.

“Logam berat dapat masuk ke dalam organisme melalui air, sedimen maupun makanan. Karena itu, untuk mengetahui apakah telah terjadi akumulasi pada biota, perlu dilakukan pengujian langsung terhadap jaringan organisme,” kata Nadira.

Teripang pasir (Holothuria scabra). Biota yang hidup di dasar perairan dan memperoleh makanan dari material organik yang terdapat pada sedimen, Foto: Ist

Biota Laut Perlu Diuji

Menurut Nadira, organisme yang hidup dan mencari makan di dasar perairan perlu mendapat perhatian dalam penelitian lanjutan. Kerang-kerangan dan teripang, misalnya, memiliki hubungan erat dengan substrat dan sedimen sehingga dapat menjadi objek penting untuk pemantauan.
Salah satu biota yang relevan untuk dikaji adalah teripang pasir (Holothuria scabra). Biota ini hidup di dasar perairan dan memperoleh makanan dari material organik yang terdapat pada sedimen.

Namun, keberadaan merkuri dan timbal dalam sedimen tidak serta-merta menunjukkan bahwa seluruh logam tersebut telah diserap oleh organisme.
Tingkat penyerapan logam berat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain bentuk kimia logam, tingkat ketersediaannya untuk diserap organisme, lama paparan, karakteristik sedimen, jenis makanan, habitat, serta kondisi biologis organisme.

“Jadi, kita tidak bisa langsung mengatakan bahwa semua biota di Ohoitel telah tercemar hanya berdasarkan hasil pengujian air dan sedimen. Harus ada pemeriksaan pada biotanya,” ujar Nadira.

Bisa Masuk Rantai Makanan

Nadira menjelaskan bahwa logam berat yang berada di lingkungan perairan dapat masuk ke tubuh organisme dan kemudian berpindah melalui rantai makanan.

Kondisi tersebut menjadi perhatian apabila organisme yang terpapar merupakan biota yang dikonsumsi masyarakat.
Paparan melalui makanan berpotensi menjadi persoalan kesehatan apabila biota mengandung logam berat dalam konsentrasi tertentu dan dikonsumsi secara terus-menerus.

Merkuri, terutama dalam bentuk metilmerkuri, diketahui dapat memengaruhi sistem saraf. Sementara paparan timbal juga dapat berdampak terhadap berbagai fungsi tubuh.

Meski demikian, Nadira menegaskan temuan Hg dan Pb di lingkungan Ohoitel belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa masyarakat telah mengalami gangguan kesehatan akibat mengonsumsi hasil laut dari kawasan tersebut.

Penilaian risiko terhadap masyarakat membutuhkan data yang lebih lengkap, terutama konsentrasi Hg dan Pb pada jaringan biota yang benar-benar dikonsumsi masyarakat, serta pola dan tingkat konsumsi hasil laut.

“Yang perlu kita pastikan adalah apakah logam berat tersebut sudah masuk ke jaringan biota yang dikonsumsi masyarakat dan berapa konsentrasinya,” katanya.

Peneliti Dorong Pemeriksaan Biota Konsumsi

Karena itu, Nadira mendorong penelitian lanjutan dengan mengambil sampel berbagai jenis biota laut yang biasa dikonsumsi masyarakat Ohoitel.
Pengujian dapat mencakup ikan, kerang, teripang, dan organisme laut lainnya. Hasil pemeriksaan kemudian perlu dibandingkan dengan standar keamanan pangan yang berlaku untuk mengetahui apakah konsentrasi logam berat masih berada dalam batas yang diperbolehkan.

Selain biota, pemantauan terhadap air dan sedimen juga perlu dilakukan secara berkala.

Pemantauan berulang penting untuk mengetahui perubahan konsentrasi merkuri dan timbal dari waktu ke waktu, termasuk melihat kecenderungan peningkatan maupun penurunan.

Menurut Nadira, identifikasi sumber pencemaran juga menjadi bagian penting dalam upaya pengendalian.
Jika sumber merkuri dan timbal masih berlangsung, langkah pengendalian perlu dilakukan agar logam berat tidak terus masuk dan terakumulasi di lingkungan pesisir.

Masyarakat Diminta Tidak Panik

Nadira mengimbau masyarakat Ohoitel agar tidak panik menyikapi temuan tersebut. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan sembari menunggu hasil penelitian yang lebih lengkap.

“Temuan ini jangan membuat masyarakat panik. Tetapi juga jangan diabaikan. Yang paling penting sekarang adalah memastikan sumbernya, melakukan pemantauan, dan menguji biota yang memang dikonsumsi masyarakat,” ujarnya.

Menurut Nadira, laut memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat Ohoitel, baik sebagai sumber pangan maupun mata pencaharian. Karena itu, kualitas lingkungan pesisir perlu dijaga secara bersama-sama.

Penelitian lanjutan yang mencakup air, sedimen, dan biota diharapkan dapat memberikan gambaran lebih menyeluruh mengenai kondisi logam berat di perairan Ohoitel.

Data tersebut nantinya dapat menjadi dasar bagi pemerintah dan pemangku kepentingan untuk menentukan langkah pemantauan, pengendalian pencemaran, serta perlindungan terhadap masyarakat dan ekosistem pesisir.

error: Content is protected !!