Deiyai, Papua Tengah — Kematian tragis Pendeta Neles Peuki, gembala sidang Gereja Kemah Injil (KINGMI) Jemaat Mogodagi, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah, menyisakan duka mendalam sekaligus tuntutan keadilan dari keluarga dan jemaat. Pendeta muda berusia 29 tahun itu tewas setelah dianiaya secara brutal, dibunuh, dan jasadnya dibakar oleh sekelompok orang tak dikenal (OTK) pada Senin, 24 November 2025.
Keluarga korban mendesak aparat kepolisian mengusut tuntas kasus ini, mengungkap para pelaku, serta menyeret mereka ke proses hukum yang adil dan transparan. Hingga kini, keluarga menyatakan belum melihat langkah penegakan hukum yang memadai atas pembunuhan keji tersebut.

Kronologi Peristiwa
Peristiwa bermula pada Senin pagi, 24 November 2025. Sekitar pukul 08.00 WIT, Pendeta Neles Peuki berangkat dari Kampung Mogodagi menuju Bandara Kapiraya untuk mengirim titipan hasil kebun—buah merah dan pisang—kepada keluarganya di Waghete. Di bandara, korban bersama 13 warga lain menunggu pesawat yang dijadwalkan mendarat sekitar pukul 10.00 WIT.
Karena kelelahan, korban sempat beristirahat di rumah bandara. Sekitar pukul 10.30 WIT, ia memutuskan kembali ke Kampung Mogodagi dan menitipkan barang kepada warga lain agar tetap dikirim. Dalam perjalanan kembali ke kampung, situasi mulai mencekam.
Menurut keterangan keluarga, sekelompok orang tak dikenal muncul sambil berteriak-teriak, memutus jaringan internet, serta bergerak ke arah bandara dengan membawa senjata tajam, tombak, batu, serta daun kelapa dan ranting pohon. Korban bersama sejumlah warga ikut kembali menuju bandara karena ingin memastikan kondisi keamanan.
“Di tengah perjalanan, warga sempat memperingatkan korban untuk berbalik arah. Namun, sebagai gembala jemaat, Pendeta Neles memilih tetap maju untuk melihat langsung kondisi di lapangan. Ia bahkan sempat dicegat oleh para tetua dari kelompok pelaku agar kembali ke kampung, tetapi tetap melanjutkan langkahnya,” Tulis akun @dominbadii diberanda facebooknya.
Tak lama kemudian, korban dihadang dan diserang secara brutal. Ia dipukul, ditebas dengan parang hingga bahunya terluka, serta mengalami luka di kepala dan wajah. Dua warga yang mengenal korban berhasil menariknya keluar dari kerumunan pelaku dan menyuruhnya kembali ke kampung.

Serangan Berlanjut dan Pembunuhan
Sesampainya di Kampung Mogodagi, situasi semakin memburuk. Rumah pastori, balai desa, gereja, serta rumah-rumah warga menjadi sasaran pembakaran. Para pelaku bahkan mengancam perempuan dan ibu-ibu dengan kekerasan seksual, memaksa warga menjauh dan bersembunyi.
Pendeta Neles Peuki terakhir terlihat bersembunyi di belakang balai desa, di dekat rumpun bambu. Setelah kelompok pelaku meninggalkan kampung, warga menemukan jasad korban dalam kondisi mengenaskan. Tubuhnya terbakar, lehernya tertebas hingga hampir putus, dadanya berlubang besar, dan tangan kanan terpotong.
Korban dimakamkan pada Selasa pagi, 25 November 2025, sekitar pukul 07.00 WIT oleh keluarga dan jemaat dalam suasana duka dan ketakutan.
Selain Pendeta Neles Peuki yang meninggal dunia, sedikitnya tujuh warga lainnya mengalami luka-luka akibat kekerasan di sekitar Bandara Kapiraya dan Kampung Mogodagi. Beberapa di antaranya belum mendapatkan perawatan medis yang memadai.
Kerusakan juga meluas: empat rumah pastori milik Gereja KINGMI dan 16 rumah warga jemaat dilaporkan dibakar oleh kelompok pelaku.

Tuntutan Keadilan
Keluarga korban menegaskan bahwa Pendeta Neles Peuki adalah tokoh agama yang tidak terlibat dalam konflik apa pun. Ia justru dikenal sebagai figur perdamaian dan pengayom jemaat.
“Kami meminta negara hadir. Tangkap dan adili para pelaku pembunuhan dan pembakaran ini. Jangan biarkan kekerasan terhadap pelayan gereja dan warga sipil berlalu tanpa keadilan,” ujar perwakilan keluarga korban.
Keluarga dan jemaat berharap aparat kepolisian segera melakukan penyelidikan menyeluruh, melindungi para korban luka, serta memastikan peristiwa ini tidak tenggelam tanpa pertanggungjawaban hukum.
Catatan Redaksi:
Artikel ini disusun berdasarkan kesaksian dan kronologi keluarga korban. Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi terkait perkembangan penyelidikan dan penetapan tersangka.
Sumber: Akun media sosial Facebook @dominbadii