Jakarta, – Konten kreator Moren Caroline membantah narasi yang beredar luas di media sosial bahwa bentrokan di kawasan Matraman, Jakarta Timur, dipicu oleh persoalan warga asal Indonesia Timur yang makan nasi uduk tanpa membayar. Menurut dia, informasi tersebut tidak sesuai dengan kronologi yang diketahuinya.
Melalui video yang diunggah di akun media sosialnya, Moren meminta masyarakat tidak terburu-buru mempercayai informasi yang belum terverifikasi. Ia khawatir narasi yang berkembang justru menimbulkan stigma terhadap masyarakat Indonesia Timur.
“Jadi, buat teman-teman dan saudara-saudara di luar sana, stop menggiring opini yang salah. Jangan sampai orang Timur mendapat stigma karena informasi yang tidak benar,” kata Moren dalam video tersebut.

Menurut Moren, peristiwa bermula ketika seorang remaja diminta membeli rokok dan bubur menggunakan sepeda motor berkopling yang dilengkapi knalpot racing. Karena belum terbiasa mengendarainya, motor itu beberapa kali mati sehingga menimbulkan suara bising.
Suara kendaraan tersebut, kata Moren, memicu teguran dari seorang pria yang sedang makan di sebuah warung nasi uduk. Remaja itu disebut telah meminta maaf setelah ditegur.
Namun, berdasarkan informasi yang diterimanya, remaja tersebut kemudian diduga dipukul dari belakang dan diancam menggunakan pisau lipat. Karena ketakutan, remaja itu kembali ke sebuah kafe tempat kakak-kakaknya berkumpul dan menceritakan kejadian yang dialaminya.
Mendengar cerita tersebut, sejumlah rekannya kemudian mendatangi warung nasi uduk untuk mencari orang yang diduga melakukan pemukulan dan pengancaman. Adu mulut pun terjadi hingga akhirnya berujung bentrokan.
Dalam video yang sama, Moren mengakui sempat terjadi perusakan terhadap gerobak nasi uduk. Meski demikian, ia menegaskan tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan, meskipun disebut dipicu oleh emosi akibat dugaan penganiayaan terhadap remaja itu.
Menurut Moren, situasi semakin memanas ketika massa dari kedua belah pihak berdatangan. Ia mengatakan sebagian orang membawa bambu, batu, hingga senjata tajam, sehingga kelompok remaja tersebut memilih berlindung di sebuah kafe.
Moren menegaskan bahwa narasi yang menyebut bentrokan dipicu karena “orang Timur makan nasi uduk tidak membayar” merupakan informasi yang keliru. Ia mengimbau masyarakat agar tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi karena berpotensi memperkuat stigma terhadap masyarakat Indonesia Timur yang merantau di berbagai daerah.
Video klarifikasi tersebut kemudian menjadi perhatian warganet dan banyak dibagikan sebagai salah satu versi kronologi awal bentrokan yang sebelumnya viral di media sosial.
Sebelumnya, Sberdasarkan keterangan Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol. Reynold E.P. Hutagalung yang dikutip dari VIVA.co.id, penyelidikan sementara menunjukkan bentrokan bukan dipicu persoalan tidak membayar nasi uduk sebagaimana informasi yang sempat beredar di media sosial.
Menurut Kapolres, keributan bermula ketika dua pengendara sepeda motor melintas sambil menggeber mesin kendaraan di sekitar lapak pedagang nasi uduk sehingga menimbulkan kebisingan. Teguran dari warga kemudian berkembang menjadi cekcok. Setelah sempat meninggalkan lokasi, kedua pengendara diduga kembali bersama beberapa rekannya sehingga situasi berubah menjadi bentrokan yang lebih luas.
Dalam insiden tersebut, dua orang menjadi korban. Salah satu korban yang sempat dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dilaporkan meninggal dunia, sementara korban lainnya masih menjalani perawatan. Polisi masih mendalami keseluruhan rangkaian peristiwa, termasuk dugaan tindak pidana yang terjadi selama bentrokan berlangsung.