Mengais di Negeri Minyak

Menadah Sisa Kemakmuran
25/08/2026
Di tengah fasilitas produksi minyak bumi di Desa Tansi Ambon, Seram Bagian Timur, Christ Belseran berfoto bersama Fitria Tueka (11), siswi kelas V Madrasah Ibtidaiyah di Kota Bula. Fitria membawa karung berisi barang bekas yang dipungutnya untuk dijual. Kisah anak ini memperlihatkan ironi wilayah kaya minyak, ketika kekayaan dari perut bumi belum sepenuhnya menjelma menjadi kesejahteraan bagi masyarakat di sekitarnya. Foto: titastory/Babang Sohilauw/

Di tengah produksi minyak bumi Bula, Fitria Tueka, 11 tahun, mengisi libur sekolah dengan memungut barang bekas untuk membantu keluarganya. Lebih dari satu abad minyak diangkat dari perut Seram, tetapi kemakmuran belum juga merata.

Langit Kota Bula siang itu biru dan terang. Matahari jatuh keras ke tanah yang kering, membuat rerumputan menguning dan debu beterbangan ketika kendaraan melintas di jalan utama Desa Tansi, Ambon, Seram Bagian Timur, Maluku.

Di sebuah sudut lahan, sebuah pompa minyak berdiri tegak. Besi-besinya tampak tua, tetapi terus menjadi saksi bahwa dari bawah tanah tempat ini pernah—dan masih—diambil sesuatu yang sangat berharga: minyak bumi.

Tidak jauh dari sana, saya melihat seorang anak perempuan berjalan sambil menenteng karung plastik.

Namanya Fitria Tueka. Usianya baru 11 tahun.

Ia seorang siswi kelas V di Madrasah Ibtidaiyah di Kota Bula. Hari itu bukan hari sekolah. Alih-alih bermain seperti anak-anak seusianya, Fitria memilih berjalan menyusuri jalan dan ke tempat pembuangan sampah untuk mencari barang-barang bekas.

Besi tua. Kaleng bekas minuman. Barang-barang yang bagi sebagian orang tidak lagi bernilai.

Bagi Fitria, benda-benda itu masih bisa menjadi uang.

Karung plastik yang dibawanya bukan sekadar tempat menampung barang bekas. Di dalamnya ada sebagian kecil harapan untuk membantu keluarganya membiayai sekolah.

Saya bertemu Fitria tidak jauh dari sebuah sumur bor dan pompa minyak milik perusahaan yang beroperasi di kawasan tersebut.

Christ Belseran bersama Fitria Tueka (11), siswi kelas V Madrasah Ibtidaiyah di Kota Bula, berfoto di dekat fasilitas pompa minyak di Desa Tansi Ambon, Seram Bagian Timur. Fitria membawa karung berisi barang bekas yang dikumpulkannya untuk dijual demi membantu keluarganya. Foto: titastory/Babang Sohilauw

Ada sesuatu yang terasa ganjil dari pemandangan itu.

Di satu sisi, sebuah mesin berdiri kokoh, mengangkat minyak dari perut bumi.

Di sisi lain, seorang anak berjalan membawa karung, memungut sisa-sisa benda yang dibuang orang.

Minyak keluar dari tanah.

Tetapi kemakmuran seolah tidak ikut keluar bersamanya.

Saya kemudian menawari Fitria untuk berfoto di depan pompa minyak itu.

Ia sempat ragu.

Mungkin karena saya orang asing baginya. Mungkin juga ia tidak terbiasa menjadi perhatian orang yang baru dikenalnya. Ia diam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk.

Kami kemudian berdiri di dekat mesin pompa.

Fitria tetap menggenggam karung plastiknya.

Ia tidak melepaskannya.

Memungut Sisa Kemakmuran

Kami mengambil beberapa foto. Sesekali saya mengajaknya tersenyum. Namun, perhatian saya justru tertuju pada benda yang terus berada di tangannya itu.

Karung tersebut sepertinya menjadi simbol kecil dari kehidupan yang sedang ia jalani.

Ketika anak-anak lain mungkin mengisi hari libur dengan bermain, Fitria mengisinya dengan mencari barang bekas.

Bukan karena ia ingin menjadi pemulung.

Ia hanya sedang membantu orang tuanya.

Setelah beberapa saat, Fitria meminta izin pulang. Ia mengatakan hendak makan siang.

Saya sempat menanyakan namanya, usia, dan sekolahnya. Ia menjawab dengan tegas. Tidak banyak basa-basi.

Dari percakapan singkat itu, saya memahami satu hal: kemiskinan tidak selalu hadir dalam bentuk rumah yang roboh atau perut yang benar-benar kosong.

Kadang-kadang kemiskinan hadir dalam bentuk seorang anak yang harus memilih antara bermain dan mencari uang untuk membantu keluarganya.

Saya kemudian memandang kembali pompa minyak di belakang kami.

Benda itu bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat Bula.

Minyak bumi telah menjadi bagian dari sejarah panjang kawasan ini.

Catatan sejarah yang disampaikan sejumlah peneliti dan pemerhati sumber daya alam menunjukkan bahwa keberadaan minyak di Bula telah diketahui sejak akhir abad ke-19. Pengeboran minyak kemudian dilakukan pada awal abad ke-20.

Artinya, minyak bukan pendatang baru di Seram.

Ia telah berada di sana jauh sebelum Fitria lahir.

Jauh sebelum orang tuanya lahir.

Jauh sebelum sebagian besar rumah dan jalan yang ada sekarang berdiri.

Tetapi setelah lebih dari satu abad minyak diangkat dari perut bumi Seram, sebuah pertanyaan sederhana tetap menggantung:

Apa yang sebenarnya berubah bagi masyarakat yang hidup di atas kekayaan itu?

Pertanyaan itu tidak mudah dijawab.

Sebab ketika melihat Bula hari ini, kekayaan alam dan kemiskinan seperti hidup berdampingan tanpa pernah benar-benar bertemu.

Pompa minyak berdiri di tengah lanskap yang kering. Pipa-pipa membentang.

Tangki dan berbagai fasilitas produksi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Namun di antara semua itu, masih ada keluarga yang harus mencari tambahan penghasilan dari barang bekas.

Dan ada anak seperti Fitria yang mengisi libur sekolah dengan memungut besi tua dan kaleng bekas.

Inilah paradoks yang terus menghantui Maluku.

Tanahnya kaya.

Tetapi banyak rakyatnya belum menikmati kekayaan itu.

Kantor Desa Tansi Ambon. Foto: titastory/christ

Kepala Desa Tansi Ambon, Bahmid Rumbalifar, mengaku kecewa dengan minimnya manfaat yang dirasakan masyarakat dari keberadaan perusahaan minyak di wilayah mereka.

“Hampir enam tahun saya menjabat, CSR dari perusahaan tidak pernah ada. Hanya satu kali air bersih yang mereka berikan. Itu dulu, sebelum saya menjabat.”

Menurut Bahmid, masyarakat tidak menuntut sesuatu yang berlebihan.

Mereka hanya ingin kehidupan yang layak dan lingkungan yang aman.

Warga juga hidup dengan kekhawatiran terhadap keberadaan fasilitas dan pipa minyak yang berada di sekitar ruang hidup mereka.

“Kami diberikan status kontrak kerja, tapi bukan karyawan tetap. Ujung-ujungnya, lingkungan kami tetap tidak berkembang seperti desa lain di SBT.”

Pernyataan tersebut sebelumnya disampaikan Bahmid dalam laporan titastory.id berjudul “Ironi Negeri Kaya, Miskin Hak Kelola: Tiga Desa di Seram Timur Terjepit di Bawah Bayang Tambang Minyak”, 6 September 2025.

Kalimat itu terdengar sederhana.

Tetapi di baliknya ada pertanyaan yang jauh lebih besar: bagaimana mungkin sebuah desa yang hidup berdampingan dengan aktivitas industri minyak selama bertahun-tahun masih harus berjuang memenuhi kebutuhan dasarnya?

Warga tidak sedang meminta bagian dari minyak yang diangkat langsung ke rumah mereka.

Mereka hanya ingin kehidupan yang layak.

Air bersih. Jalan yang baik. Pendidikan. Kesehatan. Pekerjaan yang layak.

Dan mereka merasa aman ketika pipa-pipa minyak tidak jauh dari tempat mereka tinggal.

Bagi masyarakat, kekayaan alam seharusnya tidak berhenti sebagai angka dalam laporan produksi.

Kekayaan itu semestinya terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Di Maluku, persoalan seperti ini bukan cerita baru.

Provinsi ini memiliki sumber daya alam yang berlimpah. Lautnya luas, hutannya kaya, dan perut buminya menyimpan berbagai mineral serta minyak dan gas.

Tetapi kekayaan tersebut tidak otomatis membuat masyarakatnya sejahtera.

Data kemiskinan menunjukkan bahwa Maluku masih berada di antara provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Indonesia.

Di sinilah paradoks itu menjadi semakin tajam.

Keterangan Foto: Persentase Penduduk Miskin (P0) Menurut Provinsi dan Daerah (Persen), 2024. (Sumber: Badan Pusat Statistik)

Bagaimana mungkin daerah yang memiliki kekayaan alam sedemikian besar masih harus berhadapan dengan kemiskinan yang begitu nyata?

Saya teringat kembali pada Fitria. Seorang anak berusia 11 tahun.

Ia tidak berbicara tentang politik anggaran. Ia tidak memahami kontrak bagi hasil minyak. Ia mungkin tidak tahu apa itu participating interest, lifting, cost recovery, gross split, atau dana bagi hasil.

Yang ia tahu hanya satu: barang bekas bisa dijual. Dan dari uang itu, ia bisa membantu keluarganya.

Mungkin justru di situlah ukuran paling sederhana tentang berhasil atau tidaknya sebuah tata kelola sumber daya alam.

Bukan pada berapa banyak barel yang diproduksi.

Bukan pada besarnya nilai ekspor. Bukan pula pada seberapa besar investasi yang masuk.

Tetapi pada pertanyaan sederhana:

Apakah seorang anak di sekitar wilayah produksi bisa menjalani masa kanak-kanaknya tanpa harus memulung untuk membantu membayar sekolah?

Pertanyaan itu membawa kita pada sejarah panjang minyak Bula.

Areal Perusahaan PT Karlez Petroleum, Foto : titastory.id/babang

Dalam sebuah pemberitaan sebelumnya, Direktur Archipelago Solidarity Foundation, Engelina Pattiasina, pernah mengingatkan bahwa sejarah minyak Bula telah berlangsung sangat panjang.

Ia menyebut keberadaan minyak di Bula telah diketahui sejak 1897. Pengeboran kemudian dilakukan pada 1913 oleh Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM), perusahaan yang kemudian terkait dengan sejarah panjang Royal Dutch Shell.

Minyak Bula pernah menjadi bagian dari mesin ekonomi kolonial.

Minyak diangkat dari Seram.

Dikirim keluar. Menghidupkan industri dan perdagangan di tempat lain.

Tetapi orang Seram sendiri, menurut Engelina, tidak menjadi penikmat utama kekayaan tersebut.

Sejarah itu seharusnya menjadi cermin.

Sebab lebih dari satu abad kemudian, pertanyaan tentang siapa yang menikmati kekayaan minyak Bula masih belum benar-benar selesai.

Perusahaan berganti. Kontrak berubah. Pengelola berganti.

Regulasi diperbarui. Tetapi pertanyaan tentang kesejahteraan masyarakat tetap sama.

Kini, di Desa Tansi Ambon, Fatolo, dan Bula Air, masyarakat masih hidup berdampingan dengan infrastruktur industri minyak.

Pipa dan fasilitas produksi menjadi bagian dari lanskap desa.

Bagi perusahaan, semua itu mungkin merupakan infrastruktur produksi.

Bagi masyarakat, itu adalah bagian dari ruang hidup mereka.

Karena itu, persoalannya bukan semata-mata apakah minyak boleh diambil atau tidak.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: siapa yang mendapatkan manfaat dari minyak tersebut, siapa yang menanggung risikonya, dan sejauh mana masyarakat dilibatkan dalam menentukan masa depan wilayah mereka sendiri?

Jika keuntungan mengalir keluar sementara risiko tinggal di kampung, maka ada sesuatu yang keliru dalam tata kelolanya.

Jika sumber daya alam dieksploitasi selama puluhan bahkan lebih dari seratus tahun, tetapi masyarakat masih harus mencari penghidupan dari barang bekas, maka pembangunan perlu dipertanyakan kembali.

Dan jika anak-anak tumbuh dengan melihat pompa minyak sebagai sesuatu yang biasa, tetapi kemiskinan juga sebagai sesuatu yang harus mereka terima, maka ada warisan ketidakadilan yang sedang diteruskan.

Fitria akhirnya pulang. Karung plastik masih berada di tangannya. Ia berjalan menjauh dari pompa minyak.

Saya memperhatikannya sampai langkahnya semakin kecil.

Di belakangnya, mesin pompa tetap berdiri.

Naik.

Turun.

Naik.

Turun.

Gerakan itu seperti tidak pernah berhenti. Seolah-olah perut Bumi Seram tidak pernah berhenti memberikan apa yang ada di dalamnya.

Tetapi hari itu saya justru bertanya-tanya: sampai kapan bumi terus memberi, sementara manusia yang hidup di atasnya masih harus memungut sisa?

Mungkin kisah Fitria bukan sekadar cerita tentang seorang anak yang memulung.

Ia adalah cermin. Cermin dari sebuah daerah yang selama puluhan tahun bahkan lebih dari satu abad hidup bersama kekayaan alam, tetapi belum sepenuhnya menemukan jalan agar kekayaan itu menjadi kesejahteraan.

Maluku tidak miskin sumber daya.

Yang terus dipersoalkan adalah bagaimana kekayaan itu dikelola, siapa yang menguasainya, dan sejauh mana manfaatnya kembali kepada rakyat.

Karena itu, ketika sebuah pompa minyak berdiri di tengah desa dan seorang anak datang membawa karung barang bekas, kita seharusnya tidak hanya melihat dua objek yang kebetulan berada dalam satu bingkai.

Kita sedang melihat sebuah paradoks. Minyak yang keluar dari perut bumi. Kemiskinan yang tetap tinggal di rumah-rumah warga.

Dan seorang anak perempuan bernama Fitria yang, pada usia 11 tahun, sudah belajar bahwa untuk membantu keluarganya bertahan hidup, ia harus memungut sesuatu yang dianggap tidak lagi berharga oleh orang lain.

Barangkali itulah pertanyaan paling getir dari kekayaan alam Maluku:

Jika bumi begitu kaya, mengapa anak-anaknya masih harus memungut sisa-sisa kemakmuran?

Penulis adalah jurnalis lingkungan, peneliti dan pegiat HAM 
error: Content is protected !!