Langit Buru Mulai Membiru Setelah Dua Pekan Diselimuti Asap, Warga Diminta Tetap Waspada

17/10/2026
Anggota DPRD Maluku Komisi III, Muhammad Rustam Fadly Tukuboya, Foto:Ist

Namlea, — Langit di Kabupaten Buru, Maluku, mulai kembali membiru setelah hampir dua pekan diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Meski kondisi berangsur membaik, masyarakat tetap diimbau untuk waspada dan menghindari pembakaran terbuka yang berpotensi memicu kebakaran baru.

Anggota DPRD Maluku Komisi III, Muhammad Rustam Fadly Tukuboya, mengatakan kebakaran hutan dan lahan dalam beberapa pekan terakhir berdampak pada kondisi udara di Maluku, termasuk Kabupaten Buru.

“Hampir satu minggu, bahkan masuk dua minggu terakhir ini, sangat berdampak karena adanya asap yang diakibatkan oleh terjadinya kebakaran hutan dan lahan,” kata Rustam pada 15 Oktober 2026.

Menurut dia, kondisi tersebut memprihatinkan dan membutuhkan penanganan dari berbagai tingkatan pemerintahan, mulai dari pemerintah pusat hingga pemerintah daerah.

Masker untuk melindungi warga

Di tengah paparan asap, pemerintah mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan. Imbauan itu ditujukan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat buruknya kualitas udara, terutama pada saluran pernapasan.

Rustam mengatakan Pemerintah Provinsi Maluku telah mengeluarkan imbauan melalui gubernur. Sementara itu, di tingkat kabupaten, Bupati Buru bersama wakil bupati dan jajaran pemerintah daerah turun ke lapangan untuk mengingatkan masyarakat sekaligus membagikan masker.

“Tujuannya agar masyarakat yang melakukan aktivitas di luar rumah tidak terdampak oleh penyebaran asap yang cukup parah,” ujarnya.

Meski demikian, penggunaan masker perlu disertai langkah pencegahan lain, terutama menghindari sumber asap dan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kabut kembali menebal.

Asap menipis, pembakaran terbuka tetap berisiko

Rustam menyebut kondisi udara di Kabupaten Buru pada 15 Oktober mulai menunjukkan perbaikan. Ketebalan asap berkurang dan langit di sejumlah wilayah kembali terlihat membiru.

Namun, ia mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan, sampah, maupun sisa tanaman untuk keperluan kebun secara sembarangan. Pembakaran terbuka berpotensi memicu kebakaran baru dan memperburuk kondisi udara.

“Kami tentu tetap mengimbau, khususnya kepada masyarakat Kabupaten Buru, untuk berhati-hati dalam melakukan aktivitas pembakaran lahan, sampah, maupun untuk keperluan kebun,” katanya.

Ia berharap kondisi yang mulai membaik tidak kembali memburuk dan tidak mengganggu aktivitas masyarakat, baik di luar rumah maupun di tempat kerja.

Asap lokal dan kiriman dari wilayah lain

Mengenai sumber asap yang menyelimuti Maluku, Rustam menjelaskan bahwa dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kebakaran di wilayah setempat. Maluku juga berpotensi terdampak asap yang terbawa dari daerah lain.

Ia menyebut kebakaran di Pulau Buru sebagai salah satu sumber asap lokal, sementara pergerakan asap dari wilayah lain turut menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

“Kalau terdekat, kita kan Pulau Ambon dan Seram. Kalau agak ke wilayah barat Indonesia, agak jauh. Yang terdekat itu Ambon, Seram, dan mungkin Papua,” ujarnya.

Sementara itu, berdasarkan informasi BMKG yang dirujuk dalam pemberitaan sebelumnya, Kabupaten Buru Selatan tercatat sebagai wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak di Maluku, yakni 50 titik panas yang terdeteksi pada 7 Oktober 2026 dengan tingkat kepercayaan sedang.

Titik panas merupakan indikasi awal yang perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan lebih lanjut. Karena itu, data tersebut tidak serta-merta menunjukkan jumlah kebakaran yang telah terkonfirmasi ataupun luas lahan yang terbakar.

Pergerakan asap ke wilayah lain juga perlu dibaca berdasarkan citra satelit, arah angin, dan hasil pemantauan atmosfer. Dengan demikian, sumber asap yang menyelimuti suatu wilayah tidak dapat dipastikan hanya dari kondisi langit yang terlihat.

Membaiknya kondisi langit di Kabupaten Buru menjadi perkembangan positif setelah warga menghadapi kabut asap selama beberapa hari. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan selama kebakaran masih berpotensi terjadi di Buru maupun di wilayah lain di Maluku.

Pencegahan pembakaran terbuka, pemantauan titik panas, penyampaian informasi kualitas udara, serta perlindungan bagi kelompok rentan menjadi langkah penting agar kondisi yang mulai membaik tidak kembali memburuk.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.