Euforia Piala Dunia 2026: Sepak Bola yang Menyatukan, Cermin yang Menyingkap Kita

Oleh: Debora Harsono Loppies, S.Pd., M.Pd.
by
14/07/2026
Debora Harsono Loppies, S.Pd., M.Pd., menulis opini berjudul "Euforia Piala Dunia 2026: Sepak Bola yang Menyatukan, Cermin yang Menyingkap Kita." Ilustrasi menampilkan euforia konvoi pendukung Timnas Belanda dan Argentina di Kota Ambon selama Piala Dunia 2026. Dalam tulisannya, Debora mengajak masyarakat melihat sepak bola bukan hanya sebagai ajang kompetisi, tetapi juga momentum refleksi tentang budaya merayakan kemenangan, peran keluarga, serta nilai kebersamaan di tengah masyarakat Maluku. Foto: Dokumen pribadi Debora Harsono Loppies/Media Sosial/Ilustrasi AI ChatGPT.

Ambon, – Ribuan warga Kota Ambon kembali memadati jalan-jalan utama setelah Tim Nasional Belanda memastikan langkahnya di Piala Dunia FIFA 2026. Lautan atribut serba oranye bergerak dari berbagai penjuru kota, melintasi Jalan A.Y. Patty, Jalan Jenderal Sudirman, hingga kawasan Jembatan Merah Putih (JMP). Sepeda motor, mobil pribadi, bahkan kendaraan bak terbuka beriringan dalam konvoi yang berlangsung hingga menjelang pagi.

Beberapa hari sebelumnya, suasana serupa juga terjadi ketika Argentina memastikan tiket ke babak berikutnya. Meski hujan deras mengguyur Kota Ambon sejak dini hari, ribuan pendukung La Albiceleste tetap turun ke jalan merayakan kemenangan tim kesayangannya. Bendera biru-putih berkibar di sepanjang ruas jalan utama, sementara suara klakson kendaraan bersahut-sahutan menandai pesta sepak bola yang seolah tidak mengenal batas waktu maupun cuaca.

Fenomena ini bukan hal baru. Hampir setiap penyelenggaraan Piala Dunia, Ambon selalu menjadi salah satu kota dengan atmosfer sepak bola paling semarak di Indonesia. Belanda, Argentina, Brasil, Portugal, dan Jerman memiliki komunitas pendukung yang besar. Berbagai kegiatan nonton bareng digelar di Lapangan Merdeka, kafe-kafe, hingga lingkungan permukiman. Sepak bola menjadi ruang bersama yang menyatukan masyarakat lintas usia, profesi, dan latar belakang.

Namun, di balik kemeriahan itu muncul sebuah pertanyaan yang menarik untuk direnungkan. Mengapa pertandingan yang berlangsung ribuan kilometer dari Maluku mampu menggerakkan emosi kolektif masyarakat Ambon sedemikian besar? Apa yang membuat kecintaan terhadap sepak bola begitu mengakar? Dan lebih jauh lagi, apa yang sebenarnya sedang kita rayakan ketika jalan-jalan di kota berubah menjadi lautan oranye atau biru-putih?

Piala Dunia: Ketika Sepak Bola Menyatukan Dunia

Piala Dunia merupakan salah satu peristiwa olahraga terbesar yang dimiliki umat manusia. Sejak pertama kali digelar di Uruguay pada 1930 atas gagasan Jules Rimet, turnamen ini berkembang menjadi panggung yang mempertemukan bangsa-bangsa dari berbagai benua, budaya, agama, dan sistem politik dalam satu kompetisi yang sama. Selama hampir satu abad, sepak bola telah membuktikan dirinya bukan sekadar olahraga, melainkan bahasa universal yang dipahami hampir seluruh penduduk dunia.

Edisi 2026 mencatat sejarah baru. Untuk pertama kalinya Piala Dunia diikuti oleh 48 negara peserta dan diselenggarakan bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Jumlah anggota FIFA kini telah melampaui 200 negara, menjadikan organisasi tersebut sebagai salah satu lembaga internasional dengan keanggotaan terbesar di dunia. Di tengah berbagai konflik geopolitik, perang, dan ketegangan antarnegara, Piala Dunia menghadirkan ruang di mana identitas kebangsaan dirayakan melalui sportivitas, bukan melalui kekerasan.

Karena itu, setiap empat tahun sekali dunia seolah memiliki “bahasa bersama”. Selama 90 menit pertandingan berlangsung, perbedaan politik, ras, dan agama sering kali dikesampingkan. Yang tersisa hanyalah semangat mendukung tim nasional masing-masing dan harapan melihat negaranya berdiri di podium tertinggi sepak bola dunia.

Mengapa Maluku sangat dekat dengan Belanda?

Bagi orang luar Maluku, pemandangan ribuan warga Ambon mengenakan atribut serba oranye mungkin terasa membingungkan. Mengapa sebuah kota di Indonesia begitu antusias mendukung tim nasional Belanda? Jawabannya tidak sesederhana persoalan memilih klub atau negara favorit dalam sepak bola. Di balik warna oranye yang memenuhi jalan-jalan Ambon, tersimpan sejarah panjang yang membentuk hubungan sosial, budaya, bahkan emosional antara masyarakat Maluku dan Belanda.

Hubungan itu telah terjalin sejak berabad-abad silam ketika bangsa Belanda menjadikan Maluku sebagai pusat perdagangan rempah-rempah dunia. Selama masa kolonial, interaksi antara masyarakat Maluku dan Belanda berlangsung dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, pemerintahan, hingga kemiliteran. Ribuan orang Maluku kemudian bergabung dalam Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL) atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda dan menjadi bagian penting dari struktur militer kolonial saat itu.

Perubahan besar terjadi setelah pengakuan kedaulatan Indonesia pada 1949. Konflik politik yang menyusul pembubaran Republik Indonesia Serikat (RIS) dan Proklamasi Republik Maluku Selatan (RMS) pada 25 April 1950 membawa babak baru dalam sejarah masyarakat Maluku. Pada 1951, sekitar 12.500 prajurit KNIL asal Maluku beserta keluarga mereka dipindahkan ke Belanda. Perpindahan itu semula disebut bersifat sementara, namun pada kenyataannya sebagian besar menetap hingga melahirkan komunitas diaspora Maluku yang kini telah memasuki generasi keempat dan kelima.

Dari sanalah ikatan antargenerasi terus tumbuh. Hampir setiap negeri di Maluku memiliki keluarga, kerabat, atau sanak saudara yang tinggal di Belanda. Hubungan itu dipelihara melalui kunjungan keluarga, komunikasi lintas negara, hingga tradisi budaya yang tetap hidup di kedua tempat. Tidak mengherankan apabila perkembangan kehidupan di Belanda, termasuk sepak bolanya, selalu mendapat perhatian khusus dari masyarakat Maluku.

Sepak bola kemudian menjadi salah satu jembatan emosional yang paling kuat. Nama-nama seperti Simon Tahamata, Sonny Silooy, Giovanni van Bronckhorst, hingga generasi terbaru seperti Tijjani Reijnders bukan hanya dipandang sebagai pemain tim nasional Belanda. Di mata banyak orang Maluku, mereka adalah representasi dari akar sejarah yang sama, keturunan Maluku yang berhasil menembus panggung sepak bola dunia. Ketika mereka mengenakan seragam Oranje, sebagian masyarakat Maluku merasa ikut memiliki bagian dari kisah tersebut.

Namun, kedekatan itu tidak berarti seluruh masyarakat Maluku hanya mendukung Belanda. Dalam beberapa dekade terakhir, Argentina, Brasil, Portugal, Jerman, bahkan Prancis juga memiliki basis pendukung yang besar di Ambon. Lionel Messi melahirkan generasi baru penggemar Argentina, sementara Cristiano Ronaldo membuat Portugal memiliki komunitas pendukung yang tak kalah fanatik. Rivalitas antarsuporter justru menjadi bagian dari warna kehidupan masyarakat Ambon yang sejak lama dikenal gemar berdiskusi dan berdebat soal sepak bola.

Karena itu, ketika Piala Dunia berlangsung, Ambon seolah berubah menjadi miniatur dunia. Di satu sudut jalan berkibar bendera Belanda, di sudut lain terlihat bendera Argentina atau Brasil. Warung kopi, lapangan, hingga teras rumah menjadi ruang diskusi yang dipenuhi canda, adu argumentasi, dan prediksi pertandingan. Sepak bola tidak lagi sekadar olahraga, melainkan menjadi bagian dari identitas sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Di titik inilah Piala Dunia menunjukkan makna yang lebih dalam bagi masyarakat Maluku. Ia bukan sekadar kompetisi antarnegara, melainkan ruang yang mempertemukan sejarah, identitas, keluarga, dan rasa memiliki. Namun, sebagaimana setiap bentuk euforia, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana masyarakat mengekspresikan kegembiraan itu di ruang publik. Dari sinilah fenomena konvoi kemenangan yang selalu mewarnai jalanan Ambon layak untuk dicermati lebih jauh.

Ketika Jalan Raya Menjadi Stadion: Fenomena Konvoi di Ambon

Tidak ada yang salah dengan merayakan kemenangan tim favorit. Di berbagai negara, konvoi kemenangan merupakan bagian dari budaya sepak bola. Di Ambon, tradisi itu bahkan telah berlangsung selama puluhan tahun dan menjadi bagian dari setiap gelaran Piala Dunia maupun Piala Eropa.

Begitu peluit panjang dibunyikan, jalan-jalan utama Kota Ambon hampir selalu dipenuhi iring-iringan kendaraan roda dua, mobil pribadi, hingga truk yang membawa para pendukung. Bendera negara yang didukung dikibarkan tinggi, klakson dibunyikan tanpa henti, lagu-lagu penyemangat diputar dengan pengeras suara, sementara sorak-sorai memenuhi udara hingga menjelang pagi.

Fenomena tersebut kembali terlihat pada Piala Dunia 2026. Kemenangan Belanda atas Tunisia dan Swedia memicu konvoi besar yang melintasi sejumlah ruas jalan utama, termasuk kawasan Jembatan Merah Putih. Hal serupa juga terjadi ketika Argentina memastikan langkah ke babak berikutnya. Ribuan pendukung La Albiceleste turun ke jalan meski hujan deras mengguyur Kota Ambon sejak dini hari. Euforia seakan menjadi bahasa bersama yang menyatukan ribuan orang tanpa memandang usia maupun latar belakang.

Pemandangan seperti itu menunjukkan satu hal: sepak bola memiliki daya ikat sosial yang luar biasa. Orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal dapat berdiri berdampingan, bernyanyi, berteriak, bahkan saling berpelukan hanya karena mendukung tim yang sama. Dalam beberapa jam, identitas sebagai warga kampung, profesi, maupun status sosial seolah melebur menjadi identitas baru sebagai sesama pencinta sepak bola.

Suasana Konvoi Fans Timnas Belanda di Kota Ambon. Sumber: Sosial Media

Namun, sebagaimana setiap bentuk perayaan massal, konvoi juga menghadirkan konsekuensi yang tidak bisa diabaikan. Jalan-jalan utama sering mengalami kemacetan hingga berjam-jam. Kendaraan darurat, pengguna jalan lain, maupun masyarakat yang hendak bekerja atau beribadah terkadang ikut terdampak. Tidak sedikit pula pengendara yang mengabaikan penggunaan helm, melakukan aksi ugal-ugalan, atau menggunakan knalpot bising yang mengganggu ketertiban umum.

Sebagian besar konvoi memang berlangsung damai. Akan tetapi, ketika euforia berubah menjadi tindakan yang membahayakan keselamatan diri sendiri maupun orang lain, makna perayaan itu perlahan bergeser. Kemenangan sebuah tim seharusnya tidak menjadi alasan untuk mengabaikan hak masyarakat lain yang juga menggunakan ruang publik.

Fenomena ini sesungguhnya tidak hanya terjadi di Ambon. Kota-kota besar di berbagai negara juga menghadapi tantangan serupa setiap kali klub atau tim nasional mereka meraih kemenangan. Bedanya, banyak daerah mulai membangun budaya merayakan kemenangan yang lebih tertib, tanpa mengurangi kegembiraan maupun rasa bangga terhadap tim yang didukung.

Ambon memiliki modal sosial yang sama untuk membangun budaya tersebut. Fanatisme terhadap sepak bola merupakan energi positif yang dapat memperkuat solidaritas masyarakat apabila diekspresikan secara dewasa. Justru karena kecintaan terhadap sepak bola begitu besar, masyarakat memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa setiap perayaan tetap berlangsung aman, tertib, dan menghormati sesama pengguna ruang publik.

Di sinilah refleksi menjadi penting. Euforia tidak berhenti ketika konvoi selesai. Ada pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana masyarakat merayakan kemenangan tanpa kehilangan kendali atas dirinya sendiri? Pertanyaan inilah yang kemudian membawa kita pada kebiasaan lain yang kerap menyertai pesta sepak bola di Maluku, yakni budaya mengonsumsi minuman beralkohol sebagai bagian dari perayaan.

Ribuan pendukung Timnas Argentina memadati Jembatan Merah Putih (JMP) dan sejumlah ruas jalan utama di Kota Ambon saat menggelar konvoi kemenangan usai Argentina menaklukkan Swiss 3-1 pada babak perempat final Piala Dunia 2026. Kemenangan tersebut memastikan La Albiceleste melaju ke babak semifinal. Foto: Dokumentasi Christ/Titastory.id.

Ketika Euforia Berubah Arah: Refleksi atas Budaya Perayaan

Setiap perayaan memiliki caranya sendiri. Ada yang memilih berkumpul bersama keluarga, menggelar nonton bareng, menikmati kopi hingga dini hari, atau sekadar berbincang tentang jalannya pertandingan. Namun, tidak dapat dimungkiri bahwa pada sebagian kelompok masyarakat, euforia kemenangan juga kerap diiringi dengan konsumsi minuman beralkohol.

Fenomena ini bukanlah sesuatu yang lahir karena sepak bola. Tradisi mengonsumsi minuman beralkohol telah lama dikenal dalam sebagian kehidupan sosial masyarakat Maluku, baik dalam konteks adat, pergaulan, maupun perayaan tertentu. Karena itu, ketika Piala Dunia berlangsung, kebiasaan tersebut terkadang kembali muncul sebagai bagian dari cara sebagian orang merayakan kemenangan tim yang mereka dukung.

Persoalannya bukan terletak pada tradisi berkumpul itu sendiri, melainkan pada ketika konsumsi minuman beralkohol dilakukan secara berlebihan hingga memengaruhi kemampuan mengendalikan diri. Dalam situasi seperti itu, suasana yang semula dipenuhi kegembiraan dapat berubah menjadi tindakan yang berpotensi mengganggu ketertiban, memicu konflik kecil, bahkan membahayakan keselamatan pengguna jalan.

Padahal, esensi sepak bola justru mengajarkan sportivitas, penghormatan kepada lawan, dan kegembiraan yang dibangun melalui kebersamaan. Nilai-nilai tersebut akan kehilangan makna apabila perayaan berubah menjadi ajang pelampiasan emosi yang tidak terkendali.

Tentu saja, kondisi ini tidak dapat digeneralisasi kepada seluruh masyarakat Maluku. Banyak keluarga dan komunitas yang memilih merayakan pertandingan dengan cara yang sederhana dan tertib. Nonton bareng di rumah, berkumpul di kafe, berdiskusi tentang strategi permainan, atau menikmati suasana pertandingan bersama teman telah menjadi pilihan yang semakin banyak ditemui, terutama di kalangan generasi muda.

Perubahan pola perayaan tersebut menunjukkan bahwa budaya tidak pernah bersifat statis. Tradisi dapat terus hidup, tetapi cara masyarakat memaknainya selalu berkembang mengikuti zaman. Yang patut dipertahankan adalah semangat kebersamaan, bukan kebiasaan yang berpotensi membawa dampak negatif bagi diri sendiri maupun orang lain.

Momentum Piala Dunia seharusnya menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan, bukan sebaliknya. Sebab, kemenangan sebuah tim nasional hanya berlangsung selama sembilan puluh menit di lapangan, sedangkan dampak dari tindakan yang dilakukan setelah pertandingan dapat dirasakan jauh lebih lama oleh keluarga maupun masyarakat di sekitarnya.

Di titik inilah peran lingkungan sosial menjadi sangat penting. Cara seseorang merayakan kemenangan tidak hanya dibentuk oleh teman sebaya, tetapi juga oleh nilai-nilai yang ditanamkan sejak kecil di dalam keluarga. Karena itu, pembicaraan mengenai budaya perayaan tidak dapat dilepaskan dari pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana keluarga membentuk karakter generasi muda dalam menyikapi kemenangan maupun kekalahan.

Keluarga: Sekolah Pertama dalam Merayakan Kemenangan

Pada akhirnya, cara seseorang merayakan kemenangan tidak lahir begitu saja. Ia dibentuk oleh lingkungan tempat seseorang tumbuh, terutama keluarga. Nilai-nilai tentang menghormati orang lain, mengendalikan emosi, memahami batas kebebasan, hingga bertanggung jawab terhadap ruang publik, pertama kali dipelajari bukan di stadion atau jalan raya, melainkan di rumah.

Dalam konteks itulah, keluarga memegang peran yang sangat penting. Anak-anak belajar bukan hanya dari nasihat yang mereka dengar, tetapi terutama dari contoh yang mereka lihat setiap hari. Cara orang tua merayakan kebahagiaan, menyikapi kekalahan, menghormati perbedaan pilihan, maupun memperlakukan sesama akan menjadi pelajaran yang melekat jauh lebih kuat daripada sekadar kata-kata.

Momentum Piala Dunia sesungguhnya menghadirkan kesempatan yang sangat baik bagi keluarga untuk membangun kedekatan. Menonton pertandingan bersama, berdiskusi tentang strategi permainan, mengenalkan sejarah sepak bola, hingga mengajarkan nilai sportivitas dapat menjadi pengalaman yang mempererat hubungan antara orang tua dan anak. Di situlah sepak bola menjalankan fungsi yang lebih besar daripada sekadar hiburan; ia menjadi sarana pendidikan karakter.

Sebaliknya, apabila perayaan kemenangan identik dengan perilaku yang tidak terkendali, anak-anak pun berpotensi menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar. Padahal, semangat kompetisi dalam olahraga selalu mengajarkan bahwa kemenangan harus dirayakan dengan rendah hati, sementara kekalahan diterima dengan lapang dada. Nilai inilah yang semestinya diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Dalam masyarakat Maluku yang dikenal memiliki ikatan kekeluargaan yang kuat, modal sosial ini sebenarnya merupakan kekuatan besar. Tradisi berkumpul bersama keluarga, makan patita, saling mengunjungi antarkeluarga, hingga kebiasaan hidup dalam komunitas yang erat merupakan warisan budaya yang patut dipertahankan. Nilai-nilai tersebut mengajarkan solidaritas, saling menghormati, dan kepedulian terhadap sesama.

Karena itu, tantangan yang dihadapi saat ini bukanlah meninggalkan tradisi, melainkan menyesuaikan cara mengekspresikannya dengan dinamika kehidupan masyarakat modern. Kegembiraan tidak harus diwujudkan melalui tindakan yang berpotensi mengganggu ketertiban umum. Sebaliknya, ia dapat diwujudkan melalui perayaan yang tetap meriah, tetapi juga aman, tertib, dan menghormati hak orang lain.

Peran keluarga juga perlu didukung oleh lingkungan yang lebih luas. Sekolah, gereja, masjid, komunitas olahraga, organisasi kepemudaan, hingga pemerintah daerah memiliki tanggung jawab yang sama dalam membangun budaya merayakan kemenangan secara dewasa. Ketika nilai-nilai itu diajarkan secara konsisten, euforia sepak bola tidak hanya menghasilkan kenangan indah, tetapi juga membentuk generasi yang mampu menempatkan kegembiraan dalam koridor tanggung jawab sosial.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah masyarakat bukanlah seberapa meriah mereka merayakan kemenangan, melainkan seberapa dewasa mereka menjaga kegembiraan itu agar tidak merugikan orang lain. Di sanalah keluarga tetap menjadi fondasi utama yang menentukan wajah masyarakat pada masa depan.

Lebih dari Sekadar Sepak Bola

Pada akhirnya, Piala Dunia selalu menghadirkan lebih dari sekadar pertandingan selama sembilan puluh menit. Ia mempertemukan bangsa-bangsa yang berbeda bahasa, budaya, agama, bahkan sejarah politik dalam satu ruang yang sama. Di atas lapangan hijau, kemenangan dan kekalahan menjadi bagian dari permainan. Namun, di luar lapangan, cara manusia menyikapi kemenangan dan menerima kekalahan justru menjadi ukuran kedewasaan sebuah peradaban.

Euforia yang setiap empat tahun sekali memenuhi jalan-jalan Kota Ambon memperlihatkan bahwa masyarakat Maluku memiliki kecintaan yang luar biasa terhadap sepak bola. Fanatisme itu lahir dari sejarah, dipelihara oleh hubungan antargenerasi, dan diperkuat oleh hadirnya tokoh-tokoh berdarah Maluku yang pernah mengukir prestasi di panggung internasional. Semua itu merupakan kekayaan sosial yang patut diapresiasi, bukan untuk dipertentangkan.

Namun, kecintaan terhadap sepak bola akan memiliki makna yang lebih besar apabila mampu melahirkan budaya yang sehat. Konvoi kemenangan dapat tetap menjadi ruang ekspresi kegembiraan, selama dilakukan dengan menghormati keselamatan, ketertiban, dan hak masyarakat lain. Tradisi berkumpul bersama keluarga, sahabat, maupun komunitas juga tetap dapat dipelihara tanpa harus kehilangan kendali atas diri sendiri.

Mungkin inilah pelajaran terbesar yang dapat kita ambil dari Piala Dunia. Sepak bola bukan hanya mengajarkan bagaimana mengejar kemenangan, tetapi juga bagaimana menghormati lawan, menerima perbedaan, bekerja sama, serta menjaga sportivitas dalam setiap keadaan. Nilai-nilai itu sesungguhnya jauh lebih penting daripada angka yang tertera di papan skor.

Bagi Maluku, momentum Piala Dunia dapat menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa kecintaan terhadap sepak bola tidak hanya tercermin dari ramainya konvoi di jalan raya, tetapi juga dari kedewasaan masyarakat dalam merayakan kemenangan. Sebab, sebuah bangsa atau daerah tidak hanya dikenang karena semangat pendukungnya, melainkan juga karena cara masyarakatnya menjaga ketertiban, menghormati sesama, dan menjadikan olahraga sebagai perekat kehidupan bersama.

Ketika peluit panjang Piala Dunia 2026 nanti akhirnya benar-benar dibunyikan, kemenangan akan menjadi bagian dari sejarah, dan trofi akan kembali tersimpan di lemari juara. Namun, yang akan tetap tinggal adalah pelajaran tentang bagaimana kita merayakan kebersamaan. Jika sepak bola mampu menyatukan dunia yang berbeda-beda, maka semestinya ia juga mampu mengajarkan kita menjadi masyarakat yang lebih dewasa, lebih bijaksana, dan lebih menghargai sesama.

Barangkali di situlah makna terdalam dari euforia Piala Dunia: bukan sekadar tentang siapa yang mengangkat trofi, melainkan tentang bagaimana olahraga mengingatkan kita bahwa kemenangan sejati bukan hanya milik tim yang menang di lapangan, tetapi juga milik masyarakat yang mampu merayakannya dengan penuh tanggung jawab.

Penulis merupakan Dosen FAKES, Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM). Alumni Universitas Negeri Malang, Jawa Timur, dan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Yogyakarta
error: Content is protected !!