Leihitu, Maluku Tengah, — Ribuan warga di Jazirah Leihitu Barat hidup dalam kecemasan yang kian nyata. Jalan utama yang menjadi satu-satunya urat nadi transportasi kawasan itu terancam putus total akibat abrasi laut yang terus menggerus badan jalan di Negeri Hatu, Kabupaten Maluku Tengah.
Pantauan di lapangan menunjukkan kondisi yang sudah masuk kategori darurat. Hampir separuh badan jalan amblas ke laut. Sisa jalan yang ada hanya cukup dilalui satu kendaraan roda empat secara bergantian. Setiap kali kendaraan berpapasan dari arah berlawanan, salah satunya harus berhenti total untuk menghindari risiko terperosok ke jurang abrasi.
“Kondisinya sudah sangat berbahaya. Kalau papasan, satu mobil harus mengalah. Apalagi malam hari atau hujan, risikonya besar,” kata seorang warga kepada titastory.id.

Kerusakan jalan ini bukan persoalan baru. Warga menyebut abrasi telah berlangsung bertahun-tahun tanpa penanganan berarti, baik dari Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah maupun Pemerintah Provinsi Maluku. Ketiadaan talud penahan ombak dan penguatan badan jalan membuat abrasi terus menggerogoti struktur tanah di bawah aspal yang tersisa.
Akibatnya, warga merasa dianaktirikan. Jalur vital yang menopang aktivitas ekonomi, pendidikan, dan layanan kesehatan seolah luput dari perhatian pemerintah.
“Ini bukan baru kemarin rusak. Sudah lama. Tapi pemerintah seperti menutup mata. Melirik pun tidak,” ujar warga lain dengan nada kecewa.
Ironi makin terasa karena secara geografis Negeri Hatu berada sangat dekat dengan Bandara Internasional Pattimura—gerbang utama Maluku. Kemegahan infrastruktur bandara itu kontras dengan kondisi jalan di sekitarnya yang dibiarkan nyaris runtuh.
“Kami ini dekat sekali dengan bandara internasional, tapi akses jalan kami seperti diabaikan. Kontras sekali, dan itu menyakitkan,” kata seorang warga.
Jika jalan ini benar-benar putus, Jazirah Leihitu Barat terancam terisolasi total. Distribusi hasil bumi, mobilitas pelajar, hingga akses warga menuju fasilitas kesehatan akan lumpuh. Potensi pariwisata bahari yang selama ini menjadi harapan ekonomi warga pun ikut tercekik.
“Bagaimana wisata mau hidup? Mobil pengangkut hasil bumi saja harus bertaruh nyawa lewat jalan ini,” keluh seorang pedagang lokal.
Minimnya penerangan jalan di titik abrasi memperbesar risiko kecelakaan, terutama pada malam hari. Struktur tanah yang terus tergerus ombak di bawah aspal tersisa sewaktu-waktu dapat runtuh total. Bagi warga, kondisi ini ibarat bom waktu yang sedang berdetak.
Kritik pun mengeras. Warga mempertanyakan apakah pemerintah baru akan bertindak setelah ada kendaraan jatuh ke laut atau korban jiwa berjatuhan. Mereka juga menyoroti ke mana perginya anggaran pemeliharaan jalan selama bertahun-tahun, terutama mengingat lokasi ini berada dekat objek vital nasional.
“Kami tidak butuh janji peninjauan lagi. Kami butuh alat berat, talud penahan ombak, dan perbaikan jalan sekarang. Jangan tunggu Jazirah ini terisolasi total baru semua sibuk rapat,” tegas seorang warga.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari dinas terkait. Warga Jazirah Leihitu Barat masih menanti langkah konkret pemerintah sebelum akses satu-satunya itu benar-benar hilang ditelan laut.
Penulis: Christin Pesiwarissa