Samasuru, Maluku Tengah — Dalam balutan pakaian hitam, warga Negeri Samasuru duduk berderet menghadap laut. Anak-anak, pemuda, orang tua hingga para tetua negeri berkumpul di tepi pantai, mengikuti ibadah dengan khusyuk. Di antara pepohonan pesisir, janur yang dibentuk melengkung dan umbul-umbul berdiri menghadap laut yang tenang.
Di tempat itulah, 127 tahun lalu, laut membawa duka besar bagi orang-orang Samasuru.
Selasa, 29 September 2026, masyarakat Negeri Samasuru, Kecamatan Teluk Elpaputih, Kabupaten Maluku Tengah, kembali berkumpul untuk mengenang Bahaya Seram, gempa dan tsunami dahsyat yang melanda Pulau Seram pada malam 29 September menuju dini hari 30 September 1899.
Bagi masyarakat Samasuru, peringatan ini bukan sekadar mengenang sebuah bencana yang terjadi lebih dari satu abad lalu. Ia merupakan cara anak cucu menjaga ingatan tentang para tatua—leluhur—yang menjadi korban sekaligus mereka yang bertahan hidup dari bencana yang mengubah wajah negeri untuk selamanya.
Ibadah digelar di pesisir pantai. Doa-doa dipanjatkan untuk mengenang mereka yang meninggal dalam tragedi tersebut.
Suasana berlangsung hening. Sebagian warga menundukkan kepala, sementara suara doa dan nyanyian mengisi ruang terbuka di antara pepohonan pesisir.
Setelah ibadah, masyarakat melanjutkan prosesi dengan tabur bunga ke laut.
Laut yang hari ini terlihat tenang menjadi bagian penting dari ingatan masyarakat. Di balik permukaannya, menurut sejarah dan tuturan masyarakat, tersimpan jejak kampung lama Samasuru yang hilang setelah gempa dan tsunami 1899.
Peringatan itu sekaligus menjadi ruang perjumpaan lintas generasi. Anak-anak duduk bersama orang tua dan para tetua, mendengarkan kembali cerita tentang sebuah negeri yang pernah berdiri di kawasan yang kini sebagian telah menjadi laut.

Bahaya Seram 1899
Dalam sejumlah catatan sejarah, gempa Seram 1899 tercatat berkekuatan sekitar M7,8. Peristiwa tersebut kemudian diikuti oleh tsunami yang menghantam pesisir selatan Pulau Seram.
Kajian sejarah mencatat kejadian terjadi pada 30 September 1899 sekitar pukul 01.42 dini hari. Sementara tradisi masyarakat Samasuru memperingatinya setiap 29 September karena bencana bermula pada malam 29 September dan berlanjut hingga dini hari berikutnya.
Dampaknya sangat besar. Wilayah pesisir selatan Pulau Seram mengalami kerusakan parah. Samasuru-Paulohi di Teluk Elpaputih menjadi salah satu kawasan yang paling terdampak.
Dalam kajian sejarah kebencanaan, garis pantai di kawasan Paulohi dan Samasuru dilaporkan mengalami perubahan besar. Catatan penelitian menyebut sebagian garis pantai mengalami penurunan, kemudian disusul tsunami dengan ketinggian sekitar sembilan meter.
Sumber BMKG dan laporan ANTARA menyebut korban jiwa Bahaya Seram mencapai sekitar 4.000 orang. Samasuru-Paulohi dan sebagian wilayah Amahai menjadi salah satu kawasan yang mengalami dampak paling berat.
Namun, angka tersebut bukan satu-satunya ukuran besarnya tragedi.
Bagi masyarakat Samasuru, kehilangan terbesar adalah hilangnya kampung.

Negeri yang Hilang
Tetua Adat Negeri Samasuru, Corneles Lohy, pernah menuturkan kepada ANTARA bahwa kampung lama Samasuru berada jauh dari garis pantai saat ini. Kampung tersebut, kata dia, kemudian tenggelam setelah dihantam gelombang besar.
Menurut penuturannya, tiga gelombang besar datang berturut-turut sekitar dini hari. Setelah air surut, warga yang selamat baru menyadari bahwa kampung mereka telah hilang.
“Seluruh kampung kami benar-benar tenggelam,” demikian kesaksian yang pernah disampaikan Kres Waileruny, tokoh masyarakat Samasuru, ketika tim BMKG mengunjungi negeri tersebut pada 2021.
Cerita mengenai kampung yang hilang itu kemudian diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Bukan hanya melalui dokumen sejarah, tetapi melalui tutur orang tua, cerita adat dan ingatan keluarga.
Sebuah arsip dari Mailopu, yang merupakan saksi lokal dalam catatan ekspedisi Freiburg, juga merekam kesaksian mengenai gempa Seram 1899. Dalam catatan tersebut disebutkan laut naik dan turun beberapa kali serta rumah-rumah di kawasan Amahei hingga Paulohi dan Samasuru mengalami kehancuran.
Bagi masyarakat Samasuru, mengingat Bahaya Seram bukan berarti hidup dalam ketakutan terhadap masa lalu.
Sebaliknya, ingatan tersebut menjadi bagian dari pengetahuan untuk menghadapi masa depan.
BMKG sebelumnya telah mengingatkan bahwa wilayah Pulau Seram memiliki potensi tsunami, termasuk tsunami nontektonik yang dapat dipicu longsoran bawah laut. Kondisi pesisir Pulau Seram yang memiliki laut dalam dan tebing-tebing curam membuat potensi longsoran bawah laut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.
Kajian pemodelan tsunami juga menunjukkan bahwa kawasan Teluk Elpaputih memiliki tingkat kerawanan tinggi. Penelitian yang dipublikasikan pada 2025 menggunakan sejarah tsunami 1899 sebagai salah satu dasar dalam menyusun model pemanfaatan ruang dan mitigasi bencana di Teluk Elpaputih.
Penelitian lain mengenai pemodelan tsunami Seram menunjukkan bahwa skenario longsoran di kawasan Samasuru-Paulohi dapat menghasilkan gelombang yang sangat besar di Teluk Elpaputih. Angka-angka tersebut merupakan hasil pemodelan, bukan prediksi bahwa kejadian dengan besaran yang sama akan kembali terjadi.
Artinya, sejarah Bahaya Seram bukan hanya cerita tentang masa lalu.
Ia juga merupakan peringatan tentang karakter alam tempat masyarakat hidup hari ini.
Dari Tutur Leluhur Menjadi Pengetahuan Bencana
Karena itu, cerita Bahaya Seram terus dituturkan kepada anak-anak Samasuru.
Pada 2021, Kres Waileruny menyampaikan bahwa sejarah bencana tersebut perlu terus diceritakan kepada generasi muda agar masyarakat memahami tanda-tanda bahaya dan lebih siap menghadapi gempa maupun tsunami.
Pengetahuan lokal semacam ini menjadi penting karena masyarakat pesisir merupakan kelompok yang pertama kali berhadapan dengan perubahan alam ketika gempa dan tsunami terjadi.
Getaran kuat, suara gemuruh, perubahan muka air laut hingga air laut yang tiba-tiba surut dapat menjadi tanda yang harus segera direspons dengan evakuasi menuju tempat yang lebih tinggi, sesuai prinsip kesiapsiagaan tsunami.
Dengan demikian, peringatan Bahaya Seram tidak berhenti pada doa dan tabur bunga.
Ia dapat menjadi ruang belajar bagi generasi muda tentang sejarah kampung, perubahan bentang alam, sekaligus cara menyelamatkan diri.
Menjelang akhir ibadah, warga masih duduk di tepi pantai.
Laut di hadapan mereka terlihat tenang. Pepohonan bergerak perlahan diterpa angin. Anak-anak berada di antara orang tua mereka.
Tidak ada suara gelombang besar seperti yang diceritakan para leluhur.
Namun, bagi masyarakat Samasuru, laut itu menyimpan cerita.
Di sanalah mereka mengingat para tatua yang tidak pernah kembali. Di sanalah mereka mengenang kampung lama yang hilang. Dan dari sanalah mereka belajar bahwa bencana bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi juga bagian dari kehidupan yang harus dipahami.
127 tahun setelah Bahaya Seram, Samasuru kembali menghadap laut—bukan hanya untuk mengenang mereka yang telah pergi, tetapi untuk memastikan cerita itu tetap hidup dan menjadi pengetahuan bagi mereka yang akan datang.