Akademisi Unpatti Dr. Jusmy Putuhena mengingatkan tekanan terhadap tutupan hutan dan daerah tangkapan air dapat mengganggu cadangan air jika kondisi kering berlangsung lebih lama.
Ambon, — Fenomena El Niño yang memicu kondisi lebih panas dan berpotensi mengurangi curah hujan meningkatkan kerentanan Kota Ambon terhadap kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta penurunan ketersediaan air bersih.
Akademisi Universitas Pattimura (Unpatti), Dr. Jusmy D. Putuhena, mengatakan risiko tersebut tidak terlepas dari kondisi tutupan hutan dan perubahan penggunaan lahan, terutama di kawasan hulu daerah aliran sungai (DAS).
Menurut Jusmy, tutupan hutan di Kota Ambon secara umum masih didominasi vegetasi hutan rimba campuran. Vegetasi tersebut memiliki kemampuan transpirasi tinggi, yakni melepaskan air dari dalam tanah ke atmosfer melalui proses fisiologis tumbuhan.
Dalam kondisi ketersediaan air tanah menurun, vegetasi dapat mengalami kekeringan. Salah satu mekanisme alami tumbuhan untuk mengurangi kehilangan air adalah menggugurkan daun.
“Vegetasi hutan tidak menyebabkan penurunan curah hujan, tetapi vegetasi hutan dapat menciptakan iklim mikro yang lebih sejuk dibandingkan dengan lingkungan di luar hutan,” kata Jusmy.
Namun, guguran daun dalam jumlah besar pada kondisi kering dapat meningkatkan potensi kebakaran karena material vegetasi yang mengering menjadi bahan bakar.
Kebakaran Ancam Keanekaragaman Hayati
Jusmy mengatakan kebakaran hutan dan lahan tidak hanya menyebabkan hilangnya tutupan vegetasi, tetapi juga dapat mengancam keanekaragaman hayati.
Jenis tumbuhan dengan kemampuan regenerasi lambat membutuhkan waktu panjang untuk kembali tumbuh setelah mengalami kerusakan. Risiko menjadi lebih besar jika tumbuhan yang terdampak merupakan jenis endemik atau hanya ditemukan pada kawasan tertentu.
“Jika jenis itu adalah jenis yang sulit tumbuh maka akan membutuhkan waktu lama untuk kembali tumbuh. Apalagi jika jenis tersebut adalah jenis yang endemik atau jenis yang hanya ada di situ, maka akan terancam punah,” ujarnya.
Kebakaran yang berulang, kata dia, dapat memberikan tekanan ekologis terhadap hutan sekaligus mengurangi kemampuan kawasan menjalankan fungsi ekologisnya.
Hulu DAS Mulai Terdesak Permukiman
Persoalan ketahanan air Ambon juga berkaitan dengan perubahan tutupan lahan di kawasan hulu DAS.
Jusmy mengatakan kawasan hutan di Ambon secara keseluruhan masih didominasi vegetasi. Namun, tekanan terhadap kawasan hulu DAS semakin terlihat, terutama di wilayah Jazirah Leitimur.
“Pada wilayah Jazirah Leitimur, khususnya dari Air Salobar sampai dengan Lateri, kawasan permukiman sudah merambah sampai pada kawasan hulu DAS,” katanya.
Padahal, kawasan hulu DAS berfungsi menahan, memasukkan, dan menyimpan air hujan melalui proses infiltrasi. Air yang tersimpan di dalam tanah kemudian dapat dilepaskan secara perlahan melalui aliran sungai maupun proses transpirasi vegetasi.
Ketika hutan dikonversi menjadi permukiman, fungsi hidrologis kawasan tersebut dapat terganggu.
Jusmy menjelaskan hutan memiliki koefisien aliran permukaan yang lebih rendah, sedangkan lahan terbuka memiliki koefisien aliran permukaan lebih tinggi.
“Akibatnya saat hujan, air tidak sempat masuk ke tanah, namun langsung mengalir ke tempat yang lebih rendah menuju sungai dan akhirnya ke laut, apalagi lahan permukiman di beton,” ujarnya.
Air Hujan Tak Lagi Optimal Masuk Tanah
Perubahan tutupan lahan juga memengaruhi kemampuan tanah menyerap dan menyimpan air.
Menurut Jusmy, lahan terbuka rentan mengalami erosi akibat energi kinetik air hujan maupun angin. Tanah juga dapat mengalami pemadatan sehingga ruang pori atau rongga tanah tertutup.
Kondisi tersebut membuat proses infiltrasi berlangsung lebih lambat.
“Sudah barang tentu air hujan yang jatuh ke permukaan tanah hanya sedikit yang masuk ke dalam tanah ataupun bahkan tidak sama sekali,” katanya.
Dampaknya, cadangan air tanah yang menjadi salah satu sumber air bagi kebutuhan domestik masyarakat berpotensi ikut berkurang.
Kondisi tersebut menjadi penting bagi Kota Ambon yang memiliki keterbatasan wilayah daratan dan membutuhkan keberlanjutan sumber-sumber air untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
El Niño Tingkatkan Risiko Kebakaran
Menurut Jusmy, kondisi cuaca yang lebih panas perlu menjadi perhatian karena dapat meningkatkan suhu dan potensi kebakaran. Namun, faktor pemicu kebakaran tetap perlu dilihat secara spesifik, baik yang berasal dari aktivitas manusia maupun faktor alami.
“Sudah barang tentu suhu akan menjadi lebih tinggi dari umumnya, dan mempunyai potensi tinggi terjadinya kebakaran. Tinggal bagaimana pemicu kebakaran tersebut, apakah ulah manusia atau karena faktor alami,” ujarnya.
Kondisi kering, vegetasi yang menggugurkan daun, serta material organik yang mengering dapat meningkatkan ketersediaan bahan bakar di kawasan hutan.
Jika pada saat yang sama kawasan hulu terus mengalami perubahan tutupan lahan, fungsi kawasan sebagai daerah tangkapan dan penyimpan air juga berpotensi menurun.
Waspadai Penurunan Debit Sumber Air
Menghadapi kemungkinan kondisi kering berlangsung lebih panjang, Jusmy mendorong pemerintah dan masyarakat melakukan langkah antisipasi sejak dini.
Dalam jangka pendek, masyarakat perlu menggunakan air secara hemat dan menghindari pemborosan. Pemerintah juga dinilai perlu melakukan pengukuran terhadap fluktuasi debit sumber air untuk mengetahui perkembangan kondisi sungai dan muka air tanah.
Pengukuran tersebut diperlukan untuk mengetahui laju perubahan ketersediaan air selama periode kering.
Jusmy mengingatkan skenario terburuk apabila debit sumber air terus menurun adalah berkurangnya distribusi air bersih kepada masyarakat.
“Skenario terburuk adalah sistem distribusi air bersih dari sumber penyedia dikurangi lagi. Misal biasanya sehari sekali jalan menjadi dua atau tiga hari sekali mengalir, dengan durasi waktu yang juga ikut dikurangi. Misal dari enam jam hanya menjadi tiga jam,” katanya.
Pemetaan Sumber Air hingga Rehabilitasi Lahan
Untuk jangka panjang, Jusmy mendorong pemetaan sumber-sumber air baru yang dapat menjadi cadangan bagi Kota Ambon.
Rehabilitasi lahan pascakebakaran dan lahan kritis juga perlu dilakukan untuk mengembalikan fungsi ekologis kawasan. Masyarakat, kata dia, perlu menghindari pembukaan lahan dengan cara membakar.
Konservasi air di kawasan permukiman dapat dilakukan melalui pembuatan biopori dan sumur resapan. Upaya tersebut diharapkan membantu meningkatkan infiltrasi air hujan sehingga tidak seluruhnya berubah menjadi aliran permukaan yang langsung menuju sungai dan laut.
Bagi Jusmy, ketahanan air Ambon tidak hanya ditentukan oleh kemampuan pemerintah mendistribusikan air kepada masyarakat. Kondisi hutan, kawasan hulu DAS, tutupan lahan, serta kemampuan tanah menyerap dan menyimpan air merupakan bagian penting dari sistem ketahanan air kota.
Jika tekanan terhadap kawasan hulu dan daerah tangkapan air terus meningkat sementara kondisi kering berlangsung lebih lama, risiko terhadap keberlanjutan sumber air masyarakat perlu diantisipasi sejak sekarang.